Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Sebagian cerah, 27.4 ° C

Kekeringan Terus Meluas, Hujan Merata Diprediksi Desember-Januari

Dodo Rihanto
MUSIM kemarau.*/DOK PR
MUSIM kemarau.*/DOK PR

KARAWANG, (PR).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang menyebutkan bencana kekeringan di daerah lumbung padi itu semakin meluas. Saat ini, tercatat warga di 22 desa di tujuh kecamatan mengalami krisis air bersih.

Guna mengatasi hal itu, Pemerintah Kabupaten Karawang bersama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tarum dan institusi lainnya secara rutin mengirim air bersih ke desa-desa terdampak.

"Saat kemarau mulai melanda Karawang, pengiriman air bersih hanya dilakukan ke wilayah Karawang Selatan. Kini beberapa di Karawang Utara pun mengalami kekurangan air bersih," ujar Kepala Bagian Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ruchimat, Senin, 7 Oktober 2019. 

Menurutnya, sebagian besar warga yang mengalami krisis air bersih berada di Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru, yang merupakan daerah pegunungan. Selain itu, wilayah warga di Kecamatan Ciampel, Kecamatan Telukjambe Barat dan merembet ke wilayah utara yakni Kecamatan Tirtajaya, Kecamatan Pakisjaya, Kecamatan Cilebar, serta Kecamatan Pakisjaya.

Prediksi turun hujan

Dijelaskan juga, berdasarkan prakiraan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diterimanya, Karawang bagian selatan sudah melewati puncak kemarau pada Juli 2019 pekan ke dua. Sementara Karawang bagian utara puncaknya terjadi Agustus 2019 pekan pertama.

Biasanya, kata Ruchinat, puncak kekeringan hingga turun hujan ada jeda waktu selama dua bulan. Namun pada tahun ini, hujan diprediksi baru akan turun pada Desember-Januari.

"Artinya musim kemarau terjadi lebih panjang hingga akhir November," katanya.

Ruchimat menyebutkan, jumlah jiwa yang terdampak terdata ada 35.474 warga di 22 desa dari 7 kecamatan di Karawang. Hingga saat ini, pihaknya sudah membantu kebutuhan air bersih bagi warga yang terdampak, sebanyak 120 tanki air.

Air bersih itu sudah dikirim ke wilayah terdampak sejak 1 juli 2019. Pengiriman dilakukan pada Senin sampai Jumat berdasarkan jadwal yang disusun seminggu sebelumnya. Jadwal disusun berdasarkan permohonan dari warga.

"Kami mengakui jumlah yang kami kirim jauh dari cukup," katanya.

Sawah yang terdampak

Sementara sawah yang terdampak, lanjut dia, tercatat 422 hektare, dengan rincian 250 hektare di Desa Tambaksumur Kecamatan Tirtajaya, 50 hektare di Desa Mekarpohaci Kecamatan Cilebar, dan 122 hektare di Desa Kertamukti Kecamatan Cilebar.

"Kami sudah meminjamkan tiga pompa ke kecamatan setempat, namun ada satu pompa yang rusak," katanya.

Kemarau panjang ini juga menyebabkan Bendungan Cibeet mengering. Kekeringan kali ini diklaim sebagai kekeringan terparah dari tahun-tahun sebelumnya.

"Biasanya, masih ada air tersisa di Bendungan Kali Cibeet. Tapi tahun ini bendungan pun kering kerontang," katanya. ***

Bagikan: