Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20.7 ° C

Benih Hibrida Belum Juga Terjangkau Petani

Hilmi Abdul Halim
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

PURWAKARTA, (PR).- Hasil produksi padi di kalangan petani rata-rata masih di angka 5,19 ton gabah kering giling per hektar. Padahal, penelitian pemerintah sudah bisa menghasilkan lebih dari 10 ton per hektar.

Salah satu inovasi hasil penelitian tersebut ialah benih padi hibrida. Meskipun sudah dikembangkan di Indonesia sejak 2003, petani belum juga mampu menggunakan benih tersebut hingga sekarang.

"Saya pikir bukan penelitian teknologinya yang belum signifikan, tapi yang pertama adalah produksi benihnya masih rendah rata-rata masih sekitar dua ton saja per hektar. Itu pun sudah cukup bagus," kata Kepala Balai Besar Tanaman Padi Priatna Sasmita, Minggu, 6 Oktober 2019.

Selain jumlahnya terbatas, benih tersebut juga diakui tidak bisa ditanam kembali untuk kedua kalinya. Sehingga, membutuhkan produksi berkelanjutan. Kondisi tersebut menyebabkan harga benih hibrida masih jauh mahal dibandingkan benih biasanya.

Namun, Priatna meyakinkan pihaknya masih berupaya keras memperbaiki teknologi produksi benih. "Mungkin hibrida ini tidak lama lagi sudah bisa diadopsi petani, saya kira teknologinya sudah signifikan," ujarnya.

Selain itu, teknologi yang berguna di suatu tempat belum tentu bisa diaplikasikan di tempat lainnya. Karena itu, Kementrian Pertanian tengah menyiapkan berbagai teknologi dan inovasi yang adaptif terhadap berbagai kondisi ekosistem di Indonesia.

"Saat ini, pemerintah sudah melakukan banyak terobosan. Bahwa hasil penelitiannya itu tidak langsung diaplikasikan tapi dikaji terlebih dahulu di tingkat provinsi," kata Priatna. Hal itu dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di setiap provinsi.

"Digunakan atau tidak, tergantung hasil kajian itu. Karena belum tentu adaptif. Termasuk varietas dan teknologi lainnya," katanya melanjutkan. Namun, pengamat pertanian meragukan keberhasilan benih hibrida.

Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Dwi Andreas Santosa membandingkan benih IF16 yang ia kembangkan dengan hibrida yang dikembangkan pemerintah. Ia meyakini hasilnya lebih baik IF16.

"IF16 yang ditanam di Indramayu itu hasilnya sampai 14 ton per hektar bulan April 2019 lalu. Hibrida potensi produksinya 13 ton, tapi IF16 potensinya bisa lebih dari itu. Tapi kami bicara rilnya," kata Dwi.

Saat ini, benih IF16 diakui belum bisa diperjualbelikan secara bebas karena belum memiliki izin dari pemerintah. Benih tersebut hanya digunakan oleh anggota asosiasinya yang tersebar di berbagai daerah.***

Bagikan: