Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Tak Punya Kartu BPJS Kesehatan, Guru Honorer Kesulitan Cari Biaya Pengobatan 

Tim Pikiran Rakyat
GURU honorer Musliati terbaring sakit saat mendapat kunjungan anggota DPRD Garut.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN
GURU honorer Musliati terbaring sakit saat mendapat kunjungan anggota DPRD Garut.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN

GARUT, (PR).- Malang benar nasib yang kini dialami Musliati (39), warga Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng. Perempuan yang berprofesi sebagi guru honorer di SDN 1 Teggede ini harus terbaring tanpa daya di salah satu ruangan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Slamet Garut akibat terserang stroke.

Lebih malangnya lagi, saat ini pihak keluarga Musliati harus banting tulang mencari uang untuk biaya pengobatan dirinya. Hal ini dikarenakan meski sudah 19 tahun mengabdikan diri menjadi guru honorer, akan tetapi Musliati tak memiliki kartu BPJS Kesehatan.

Berbagai cara pun dilakukan pihak keluarga Musliati demi mendapatkan uang untuk biaya pengobatan dan perawatan Musliati di RSUD dr Slamet Garut. Mereka bahkan tak segan untuk meminta bantuan kepada sanak saudaranya karena mereka tak punya cara lain untuk bisa mendapatkan uang.

"Sudah satu minggu ibu dirawat di sini karena menderita stroke," ujar Roni, putra Musliati saat ditemui di RSUD dr Slamet Garut, Rabu 2 Oktober 2019.

Menurutnya, kini kondisi Musliati sudah lumayan membaik dibandingkan saat pertama kali masuk rumah sakit. Bahkan kini ibunya tersebut sudah mulai bisa bicara lagi meski belum jelas benar dan pelan-pelan.

Roni mengaku sangat bersyukur dengan perkembangan kesehatan ibunya tersebut. Roni pun berharap ibunya bisa segera pulang dari rumah sakit mengingat kondisi keluarga yang cukup kerepotan jika harus berada lama di rumah sakit.

Penyakit stroke yang saat ini diderita ibunya menurut Roni baru pertama kali dialaminya. Ia berharap kondisi kesehatan ibunya bisa pulih seperti sediakala.

Jalur umum

Informasi yang dihimpun wartawan Kabar Prianan, Aep Hendy, selama ini Musliati tak memiliki kartu BPJS Kesehatan. Akibatnya saat keluarganya membawanya ke RSUD dr Slamet garut karena penyakit stroke yang dideritanya, Musliati harus menjalani perawatan melalui jalur umum. 

Sementara itu kondisi perekonomian keluarganya kurang menguntungkan mengingat selama ini statusnya hanya sebagai guru honorer di sebuah SD di Pakenjeng. Musliati sendiri sudah selama 19 tahun mengabdi sebgaai guru honorer dengan pengahsilan yang tidak begitu besar.  

Saat dibawa ke RSUD dr Slamet Garut sekitar sepekan yang lalu, kondisi kesehatanya sungguh memprihatinkan karena koma. Agar Musliati bisa dirawat di RSUD dr Slamet Garut, sejumlah rekan serta sanak saudara Musliatipun terpokasa harus mengumpulkan uang dengan cara patungan.

Kabar terkait kondisi seorang guru hoorer yang sedang sakit dan tak memiliki kartu BPJS Kesehatan ini mengundang perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Garut. Dadan Wandiansyah dari fraksi PDI Perjuangan dan Ketua Komisi 1 yang juga dari fraksi PKB, Subhan Fahmi pun menyempatkan diri untuk menjenguk Musliati di RSUD dr Slamet Garut.

Baik Dadan maupun Subhan mengaku sangat prihatin dengan kondisi Musliati yang saat ini dalam kondisi sakit sementara dirinya sama sekali tak punya kartu BPJS Kesehatan. Padahal selama ini sebagai guru honorer, Musliati punya jasa yang sangat besar karena ia merupakan pahlawan dalam dunia pendidikan.

"Jasa guru baik yang sudah ASN maupun yang masih honorer itu sangat besar dan mereka merupakan pahlawan untuk kemajuan dunia pendidikan. Namun sayangnya selama ini tingkat kesejahteraan gurun honorer sangat memprihatinkan," komentar Dadan.

Sangat ironis

Apalagi tutur Dadan, pengabdian yang dilakukan Musliati sebagai guru honorer ini terbilang sudah cukup lama yakni mencapai 19 tahun. Tak menutup kemungkinan berkat jasa Musliati, saat ini sudah banyak muridnya yang menjadi orang sukses baik itu sebagai pengusaha, ASN, bahkan kemungkinan pula ada yang sudah menjadi pejabat. 

Atas jasa besarnya tersebut, menurut Dadan seharusnya Musliati tak pantas mengalami keprihatinan seperti yang dialaminya saat ini. Ipaun mengaku sangat menyayangkan belum adanya kebijakan dari pemerintah yang bisa mensejahterakan nasib para guru honorer seperti halnya Musliati ini.

"Sungguh sangat ironis, seorang yang begitu besar jasanya bagi kemajuan pendidikan seperti Bu Musliati ini harus mengalami keprihatinan seperti ini. Bahkan ketika ia  berbaring sakitpun ternyata tidak punya jaminan kesehatan dari Dinas Pendidikan, kalah oleh perangkat desa yang semuanya sudah punya jaminan kesehatan," katanya.

Kasus yang menimpa Musliati ini menurut Dadan harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah terutama dinas terkait agar ke depannya lebih memperhatikan kesejahteraan para honorer yang jasunya tak kalah besar dibanding para ASN. dadan berjanji akan mendorong Dinas Pendidikan untuk menyediakan jaminan kesehatan untuk para guru honorer.

"Dalam waktu dekat ini saya akan mencoba membahas hal ini dengan Kepala Dinas Pendidikan dan rekan-rekan di dewan. Kesejahtraan guru honorer dan pasilitas jaminan kesehatan harus diperhatikan karena yang namanya sakit itu sudah jadi kepastian tinggal menunggu giliran," ucapnya.***
 

Bagikan: