Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

Aliri Sawah dan Kolam Ikan, Warga Tasikmalaya Terpaksa Gunakan Air Bercampur Limbah Galian Pasir Galunggung

Bambang Arifianto
WARGA memandangi balong yang penuh lumpur di Kampung Gayonggong, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, 3 Oktober 2019. Tercemarnya sungai oleh limbah galian pasir membuat sejumlah warga Sukaratu menggunakan airnya untuk mengairi sawah dan kolam ikan.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
WARGA memandangi balong yang penuh lumpur di Kampung Gayonggong, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, 3 Oktober 2019. Tercemarnya sungai oleh limbah galian pasir membuat sejumlah warga Sukaratu menggunakan airnya untuk mengairi sawah dan kolam ikan.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Sejumlah warga Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, terpaksa menggunakan air bercampur limbah penambangan pasir kawasan Gunung Galunggung untuk mengairi sawah dan kolam ikan peliharaannya. Dampaknya, hasil pertanian dan budidaya ikan menurun karena bulir padi hampa dan ikan mati. 

Hal tersebut terjadi di sejumlah kampung yang berada di Desa Sinagar dan Gunungsari, Kecamatan Sukaratu. Pikiran Rakyat menelusuri saluran air atau selokan yang bersumber dari Sungai Cibanjaran serta mengaliri sawah dan balong warga itu.

Kondisinya, air di selokan-selokan tersebut tampak keruh. Lumpur-lumpur yang ditengarai berasal dari limbah pencucian galian pasir juga memenuhi area pesawahan. Demikian pula dengan sejumlah balong milik warga yang dipenuhi lumpur. 

Amir Syarifudin selaku Ketua RT 3 di RW 1, Kampung Gayonggong, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, mengatakan, sumber air sawah dan kolam ikan warga memang berasal dari Cibanjaran yang berada di kawasan penambangan pasir. Limbah pencucian galian pasir kemudian masuk ke sungai tersebut, sehingga sawah dan balong warga ikut terdampak.

Kondisi paling parah terjadi saat musim kemarau. Air yang bersumber dari sungai itu tambah keruh. Para petani dan pembudidaya ikan merasakan betul dampak tercemarnya sumber air untuk sawah dan ikannya. 

Penghasilan menurun

Penghasilan petani pun menjadi tak normal lantaran penggunaan air keruh bercampur limbah pasir itu. Amir mencontohkan, dari luas sawah 100 bata, petani paling mendapat penghasilan 2-3,5 kuintal padi saat musim kemarau.

Jumlah tersebut sangat menurun bila dibandingkan di musim hujan. Dengan luas sawah yang sama, petani bisa memperoleh hasil panen hingga 7 kuintal padi ketika air hujan berlimpah. Pencemaran limbah galian pasir terhadap sungai yang menjadi sumber pasokan air warga memang begitu kentara saat kemarau. 

WARGA memandangi sawah penuh lumpur yang ditengarai berasal dari limbah galian pasir Gunung Galunggung di Kampung Gayonggong, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, 3 Oktober 2019. Tercemarnya sungai oleh limbah galian pasir membuat sejumlah warga Sukaratu menggunakan airnya untuk mengairi sawah dan kolam ikan.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Endapan limbah pasir berupa lumpur tak segera terbawa arus sungai seperti saat musim hujan. Sumber air untuk pesawahan dan empang warga akhirnya keruh dengan lumpur-lumpur pasir yang kemudian mengendap.

"Jadi seueur hapaan, teu aya eusian (jadi banyak bulir padi yang hampa)," tutur Amir saat ditemui di kediamannya, Kampung Gayonggong, Kamis, 3 Oktober 2019. 

Hal tersebut terjadi sebagai imbas penggunaan air‎ bercampur limbah pasir kepada pertumbuhan padi. ‎Budidaya ikan juga setali tiga uang. Ia menyebut ada sejumlah ikan peliharaan warga yang mati karena kondisi yang serupa.

Jangankan bisa dipanen, untuk tumbuh dan berkembang saja, ikan-ikan itu kesulitan lantaran habitatnya penuh lumpur limbah pasir. Kolam-kolam ikan warga yang langsung menerima pasokan air dari selokan itu langsung penuh lumpur yang kemudian mengendap.

Tak ayal, kolam justru lebih banyak dipenuhi lumpur ketimbang air sebagai tempat hidup ikan.

Guna mengurangi kekeruhan dan  lumpur, warga membuat kolam-kolam kecil untuk pengendapan. Sebelum masuk balong, air selokan diendapkan terlebih dahulu di kolam kecil.

Meski demikian, lanjut Amir, pekerjaan warga bertambah karena mesti membersihkan tumpukan-tumpukan lumpur jika telah penuh di kolam pengendapan. Ia menambahkan, balong-balong paling pertama mendapat kucuran air selokanlah yang paling parah terkena dampak limbah pasir. 

Dialami hampir seluruh warga Sukaratu

Kondisi tersebut nyaris dialami di seluruh wilayah Kecamatan Sukaratu. Beberapa desa di wilayah Sukaratu yang terkena imbas tersebut adalah Desa Sinagar, Gunungsari,Tawangbanteng, Desa Sindangwangi, Sukaratu.

Pengusaha tambang pasir mulai bercokol dan beroperasi di Sinagar sejak 1986. Aktivitas pembersihan pasir yang dikeruk menjadi masalah akibat limbahnya masuk Cibanjaran yang mengalir ke kawasan pemukiman warga di bawahnya.

Amir tak menampik adanya pengusaha tambang pasir yang memiliki kolam guna mengendapkan limbah sisa pembersihan pasir. Namun, banyaknya limbah membuat kolam tak bisa menampung sepenuhnya hingga tetapi mengalir ke sungai.

Warga sempat beberapa kali melakukan unjuk rasa ke lokasi penambangan untuk menuntut agar air kembali jernih tak dikotori limbah. Akan tetapi, upaya itu tak dipenuhi pengusaha tambang yang tetap mengotori sungai yang menjadi sumber penghidupan warga.

WARGA memandangi sawah penuh lumpur yang ditengarai berasal dari limbah galian pasir Gunung Galunggung di Kampung Gayonggong, Desa Sinagar, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis, 3 Oktober 2019. Tercemarnya sungai oleh limbah galian pasir membuat sejumlah warga Sukaratu menggunakan airnya untuk mengairi sawah dan kolam ikan.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Keluhan yang sama disampaikan Ili (60), petani asal Gayonggong. Ia menyatakan hasil panen berkurang karena penggunaan air bercampur limbah ke sawahnya. Tangkai-tangkai padi juga berkurang.

"Kana buah sok aya hapa (ke bulir padi suka hampa)," tutur Lili.

Sedangkan ikan-ikan yang dibudidayakanya telah dipindahkan dari balong yang penuh lumpur ke kolam dengan kualitas air lebih baik. ‎

"Tos teu aya herang-herangna (sudah tidak ada jernih-jernihnya)," ucap Ili terkait kondisi sumber air di tempat tinggalnya.

Hal senada dikemukakan Atang (51), warga Kampung Cimuncang, Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu. "(Budidaya) ikan mah hancur," ujarnya.

Ikan, kata Atang, tak bisa mijah karena air yang kotor. "Pertumbuhan kirang sae (tidak bagus)," ucapnya. Keadaan sama dialami padi yang ditanam warga Cimuncang.***

Bagikan: