Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 24.2 ° C

Menyibak Misteri Batu Kursi di Waduk Jatiluhur Purwakarta

Hilmi Abdul Halim
BATU kursi di Waduk Jatiluhur Purwakarta yang hanya terlihat saat air surut/HILMI ABDUL HALIM/PR
BATU kursi di Waduk Jatiluhur Purwakarta yang hanya terlihat saat air surut/HILMI ABDUL HALIM/PR

SUSUNAN batu dari berbagai ukuran membentuk garis yang rapi menyerupai tribun di stadion atau panggung pertunjukan terlihat di pinggir Waduk Jatiluhur, Purwakarta.

Masyarakat setempat percaya, batu tersebut masih berkaitan dengan legenda Sangkuriang.

"Batu itu digunakan masyarakat terdahulu untuk menyaksikan keberangkatan Sangkuriang yang akan melamar Dayang Sumbi," kata salah seorang tokoh masyarakat Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari, Ahmad Fadil, Selasa 1 Oktober 2019.

Karena itu, warga setempat menyebutnya batu kursi. Menurut Ahmad, susunan batu seluas sekira dua petak sawah itu hanya terlihat saat debit air di Waduk Jatiluhur surut. Saat musim hujan, area tersebut terendam air cukup dalam.

BATU kursi di Waduk Jatiluhur Purwakarta yang hanya terlihat saat air surut/HILMI ABDUL HALIM/PR

Saat bentuknya terlihat, banyak di antara warga yang datang untuk sekadar duduk-duduk sambil menikmati matahari tenggelam. Meski sudah dikenal sejak lama, lokasi batu-batu itu belum banyak dikunjungi wisatawan.

"Kebanyakan yang datang dari warga sekitar saja. Ada beberapa pendatang yang ziarah atau yang penasaran," kata Ahmad.

Dia mengatakan, akses menuju lokasi batu-batu tersebut selama ini belum ada sehingga Badan Usaha Milik Desa Kutamanah berencana mengembangkannya sebagai lokasi wisata.

BATU kursi di Waduk Jatiluhur Purwakarta yang hanya terlihat saat air surut/HILMI ABDUL HALIM/PR

Salah seorang pengunjung bernama Hadi (23) terkesan dengan bentuk batu-batuan di sana. Dia datang bersama temannya dari Ceko untuk melakukan residensi seni ke tempat-tempat menarik di Purwakarta.

"Bentuknya sangat rapi seperti buatan manusia. Unik sekali. Tapi belum banyak yang tahu karena kawasan ini kurang dikelola," kata Hadi.

Dia berharap, pemerintah daerah setempat turun tangan menata kawasan tersebut menjadi lokasi pariwisata alam.

Penjelasan ilmiah

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung T Bachtiar memperkirakan, batu-batuan itu berusia 15 juta sampai lima juta tahun.

"Proses pembentukannya, pada awalnya tersusun endapan. Endapan paling bawah paling awal mengendap," katanya.

BATU kursi di Waduk Jatiluhur Purwakarta yang hanya terlihat saat air surut/HILMI ABDUL HALIM/PR

Kemudian, endapan tersebut mendapat tekanan secara evolutif dari samping dan terlipat. Sehingga, membalikkan endapan yang semula vertikal bawah-atas menjadi sejajar ke samping.

"Setelah terlipat, lalu mendapatkan pengaruh panas dan dingin, diguyur hujan, lalu endapan itu retak-retak, pecah, dan bagian yang lunak terkikis, sedangkan bagian yang relatif kuat bertahan," tutur T Bachtiar.

Dia mengatakan, ketika danau tergenang, terjadi naik-turun muka air atau pasang-surut. Energi air tersebut dipercaya terus menerus mengikis endapan yang sudah terpecah-pecah.

Bagian yang lemah kemudian terkikis, menyisakan bagian yang kuat di atas hingga membentuk seperti kursi.

"Lama-kelamaan, batu ini bisa ambruk juga bila pengikisan sudah berlangsung lama dan bagian bawahnya tak sanggup lagi menyangga bagian atas," katanya.

Hal itu juga terjadi seperti pada batu peti yang terdapat di dekat lokasi batu kursi.***

Bagikan: