Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 19.1 ° C

Kisah Lenyapnya Kolam Renang Bersejarah dan Bukit Gunung Singa di Tasikmalaya

Bambang Arifianto
KOLAM renang Gunung Singa sebelum dibongkar pada 1985.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
KOLAM renang Gunung Singa sebelum dibongkar pada 1985.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA pernah punya kolam renang dan bukit elok di pusat kota. Pada masanya, kedua tempat tersebut adalah primadona bagi pelajar dan warga untuk berlibur dan menikmati pemandangan Tasikmalaya dari atas ketinggian.

Warga mengenalnya sebagai kolam renang Gunung Singa. Nama kolam renang diambil dari  nama bukit yang menempel langsung dengannya.

Kolam dan bukit sarat sejarah itu kini tinggal cerita. Kolam hilang dan bukit rata dengan tanah, berubah menjadi bioskop lalu berganti hotel. Pewarta Pikiran Rakyat Bambang Arifianto menyusuri jejak dan dokumen yang tersisa tentang hikayat kolam dan bukit yang telah lenyap tersebut.

BANGUNAN hotel di tepi Jalan Yudanegara, Kota Tasikmalaya, Kamis 26 September 2019. Hotel tersebut berdiri di kawasan kolam renang bersejarah dan bukit Gunung Singa yang telah lenyap.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Ade Supriadi, pria 49 tahun, masih mengingat jelas suasana dan bentuk kolam dan Gunung Singa yang berada di tepi Jalan Yudanegara, Kota Tasikmalaya puluhan tahun lalu.

Gunung Singa, tuturnya, masih banyak ditumbuhi pepohonan jenis tanjung dan ceremai.

Bak penampungan air berada tepat di atas Gunung Singa sedangkan di bawah bukit itu, kolam dengan nama sama berlokasi.

"Barotram di dinya (makan bersama di sana)," ucapnya di tepi Jalan Pasar Wetan, Kamis 26 September 2019.

Botram merupakan salah satu‎ aktivitas warga Tasikmalaya berekreasi di puncak bukit tersebut.

Di atas puncak Gunung Singa, pemandangan Kota Tasikmalaya terlihat jelas. Bukit itu memang merupakan titik tertinggi wilayah kota.

Jangan bayangkan kondisinya kota sama dengan saat ini. Belum banyak hotel yang menjulang dan deretan pertokoan menjamur waktu itu.

Pandangan mata di atas bukit tersebut bisa menyapu pemandangan kota. Ade mengatakan, dia masih berusia sekitar 10 tahun ketika menyaksikan bukit masih tegak dan kolam ramai dikunjungi warga pada 1970-an.

Kolam renang Gunung Singa dikenal karena airnya yang begitu jernih. Setiap Jumat, air dibersihkan.

Warga bisa menikmati kesegaran dan kejernihan air kolam yang airnya telah berganti pada Sabtu dan Minggu. Pengunjung juga bukan hanya berasal dari Tasikmalaya.

"Dari mana-mana suka ada," ucap juru parkir yang bermukim di Cipedes, Kota Tasikmalaya tersebut‎.

SISA tembok benteng kolam renang Gunung Singa di belakang hotel di kawasan Gang Sukawarni, Yudanegara, Kota Tasikmalaya, Minggu 22 September 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Hal senada dikemukakan Kusbandi, 60 tahun, warga Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya.

Kusbandi bahkan rela menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan oplet dari tempat tinggalnya di Karangnunggal menuju kolam renang Gunung Singa.

"Main ke rumah paman (di Kota Tasikmalaya) sekalian ke sana," ujarnya.

Air yang bersih,begitulah kenangannya terhadap kolam tersebut. Sementara itu, Yaya Cahya, 45 tahun, menyebut kolam renang Gunung Singa merupakan kolam renang satu-satunya di wilayah kota tempo dulu.

"Tidak ada pemandian lagi, jadi kalau ingin berenang, ya ke sana," tuturnya.

Yaya bahkan masih ingat harga karcis masuk ke kolam senilai Rp 25. Sementara kenangan tentang bukit adalah bunyi sirene yang meraung dari puncaknya. Sirene memang diletakkan di atas bak penampungan air puncak Gunung Singa. Sirene berbunyi sebagai penanda waktu berbuka dan sahur di bulan Ramadan.

Kemasyuran kolam renang dan Gunung Singa bisa ditemukan dalam dokumentasi foto dalam laman Belanda collectie.weredculturen.nl.

Dalam foto-foto bertarikh 1935-1940 tersebut tampak kolam tersebut dipakai berenang sejumlah orang yang diperkirakan warga Belanda.

Cerita sang mandor

Kisah lenyapnya kolam renang dan bukit Gunung Singa terkuak dari keterangan Haji Gani Servia, pria 72 tahun yang bermukim di Gang Sukawarni 1 Nomor 12, Kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung. Lokasi tersebut tepat berada di‎ belakang bekas area kolam renang dan bukit.

Gani tahu persis hilangnya kolam dan bukit lantaran dia yang menjadi mandor saat bukit diratakan untuk kepentingan lahan parkir Bioskop Parahyangan.

Bioskop itu berdiri pada 1985. Dari informasi yang didengar Gani, kolam renang Gunung Singa dibangun pada 1920. Awalnya, lahan Gunung Singa milik keluarga Bani Mansyur dibeli pemerintah Hindia-Belanda yang kemudian mendirikan kolam di bawah bukit.

Ihwal penamaan Gunung Singa dalam versi cerita masyarakat juga terkait adanya singa yang pernah disimpan di bukit itu. Menurut Gani, bukit memiliki ketinggian sekira 50 meter.

"Rimbun banyak pepohonan seperti kembang tanjung, kawung, kelapa, jambu," ujarnya.

Di atasnya, terdapat pula saung panenjoan guna melihat pemandangan kota. "Bukit ini titik tertinggi ‎Kota Tasikmalaya," ucap dia di rumahnya, Minggu 22 September 2019.

Dia mengatakan, pemandangan Situ Gede yang jaraknya cukup jauh terlihat dari puncak Gunung Singa.‎

Gani juga mengonfirmasi keberadaan sirine di atas bak air yang juga berada di puncak Gunung Singa. "Kalau ada kondisi gawat buka puasa, atau sahur, sirine berbunyi sampai terdengar ke Kawalu," ujarnya.‎

Sirine dibunyikan langsung dari markas tentara yang berlokasi di dekat bukit tersebut. Sementara sumber air bak berasal dari Cibunigeulis yang disalurkan melalui pipa.

Untuk kolam renang, Gani mengingatnya tak hanya sebagai tempat rekreasi air semata. Kolam renang itu juga dipergunakan untuk latihan olah raga air para pelajar.

"Latihan di sini, pertandingan juga di sini," ucapnya.

Selain perosotan dan pancuran, kolam renang dilengkapi tempat loncatan bagi pengunjung terjun ke air.

Pada 1985, lokasi bersejarah itu mengalami perubahan. Kolam dan bukit yang telah berstatus milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya ditukar guling dengan lahan Bioskop Kujang dan Megaria yang berada di depan Masjid Agung.

Kolam renang dan bukit menjadi milik Haji Nisar Ahmad yang dikenal sebagai pengusaha bioskop Tasikmalaya waktu itu.

"Lahan kolam yang hasil tukar guling oleh pak Haji Nisar dirombak (menjadi) gedung Bioskop Parahyangan," kata Gani.

Kolam tetap dipertahankan tetapi menjadi miliki pribadi sang pengusaha bioskop. Namun, nasib mengenaskan dialami bukit Gunung Singa. "Bukitnya diratakan jadi tempat parkir mobil," ucapnya.

Butuh setahun untuk meratakan bukit tersebut. Sebagai mandor, Gani masih ingat betapa susah membongkar bak air yang berbahan beton keras itu. Suara beton yang dibongkar itu terdengar sampai wilayah Gunung Pereng.

Gani memperlihatkan pula sejumlah foto dokumentasinya ketika Gunung Singa tengah dikeruk untuk pembuatan lahan parkir bioskop.

Memasuki tahun 2007-2008, kolam renang penuh sejarah itu menyusul bukitnya. "Dirobohkan jadi hotel," ujar Gani.

PLANG nama Gang Gunung Singa terpancang di tepi Jalan Pasar Wetan, Kota Tasikmalaya, Kamis 26 September 2019.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Perobohan dilakukan setelah status lahan dijual kepada pihak hotel. Rasa sesal menyergap Gani.

Gani sempat mengingatkan pengusaha bioskop yang masih berkerabat dengan dia tentang pentingnya menjaga keberadaan kolam renang bersejarah itu.

Akan tetapi, tapak lawas Kota Tasikmalaya  itu tetap dibongkar menjadi bioskop kemudian hotel. Kini, kolam renang dan Gunung Singa hanya tinggal kenangan. Dan menjadi salah satu bukti lenyapnya perbukitan di Tasikmalaya. Bagi yang masih ingin mengenangnya, Gunung Singa masih terpahat sebagai nama gang kecil di dekat hotel tersebut.***

Bagikan: