Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 25 ° C

Tanaman Tomat Seluas 20 Hektare Sengaja Ditelantarkan

Nurhandoko

PETANI di wilayah Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis melihat tanaman tomat yang tidak lagi dipelihara, akibat anjloknya harga sayuran tersebut.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
PETANI di wilayah Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis melihat tanaman tomat yang tidak lagi dipelihara, akibat anjloknya harga sayuran tersebut.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

CIAMIS,(PR).- Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis terpakasa menelantarkan tanaman tomatnya. Mereka melakukan hal itu karena anjloknya harga jenis sayuran tersebut, hanya berkisar Rp 500 – 700 per kologram di kebun.

Saat ini hasil tomat yang masih dipetik, juga lebih banyak untuk memanuhi pasar lokal. Sedangkan untuk pasar luar daerah seperti Bandung  pengirimannya terhenti, karena tidak sebandingnya antara harga tomat dengan biaya atau ongkos angkut.

“Saat ini sekitar 20 hektare yang ditelantarkan. Yah mau bagaimana lagi, harga tomat anjlok, hanya Rp 500 – Rp 700 di kebun, sedangkan biaya panen serta untuk perawatan jauh lebih tinggi,” kata Ketua KTNA Ciamis Pipin Arip Apilin, Selasa 24 September 2019.

Dia menambahkan akibat ditelantarkan banyak tomat yang tidak dipanen. Tomat yang sudah terlampau matang dipohon, lanjut Pipin yang juga Ketua Kelompok Tani Karangsari, Kecamatan Sukamantri,  harganya juga lebih murah serta tidak laku dipasar, karena cepat rusak.

“Jika dipaksakan dibawa ke pasar, belum tentu ada yang beli, kalau pun ada harganya sangat anjlok. Sebenarnya tomat Sukamantri masih cukup banyak, akan tetapi sekarang untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal saja. Sedangkan untuk luar kota nyaris tidak ada, karena terbentur tingginya biaya angkut,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Pipin, banyak tanaman tomat yang ditelantarkan tersebut masih dalam usia produktif. Namun demikian akibat tidak dipelihara, tanaman menjadi rusak, daun kering dan  rontok, sehingga hasilnya tidak maksimal.  “Banyak yang masih produktif, akan tetapi terpaksa ditelantarkan,” tutur Pipin.

Lebih lanjut dia juga mencermati anjloknya harga tomat selalu bersamaan dengan datangnya musim buah mangga. “Setiap musim mangga, harga tomat pasti anjlok. Seperti yang saat ini berlangsung,” ujarnya.

Selain tomat, Pipin juga mengatakan sejak sepekan terakhir harga cabai juga turun. Di sentra cabai tatar galuh Ciamis, saat ini harga cabai merah keriting yang sebelumnya bertahan Rp 40.000 – Rp 45.000, turun menjadi Rp 30.000 per kilogram. Cabai merah besar dari Rp 30.000 – Rp 35.000, turun menjadi Rp 20.000 per kilogram. Sedangkan harga cabai rawit merah masih standar yakni Rp 35.000 – Rp 40.000 per kilogram.

“Panen turun, harga cabai juga ikut turun. Saya kira ini lebih diisebabkan karena daya beli,” kata Pipin.

Terpisah sebelumnya salah seorang penyuluh pertanian di Kecamatan Sukamantri Itang mengatakan petani di wilayah tersbeut masih tetap mengandalkan tanaman cabai. Sedangkan tomat dan kubis lebih banyak sebagai tanaman penyelang. “Yang utama masih tetap cabai. Sebagai tanaman penyelang adalah tomat,” katanya.***
 

Bagikan: