Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

Desa Cipanas Gratiskan Alat Pulasara Jenazah

Tim Pikiran Rakyat
KEPALA Desa Cipanas, Asep Lantifan.*/TAUFIK ROCHMAN/KABAR PRIANGAN
KEPALA Desa Cipanas, Asep Lantifan.*/TAUFIK ROCHMAN/KABAR PRIANGAN

SUMEDANG,(PR).- Sebagai bentuk kepedulian kepada warganya yang meninggal dunia, Pemerintah Desa Cipanas Kecamatan Tanjungkerta, kini gratiskan semua perlengkapan pulasara jenazahnya.

Menurut informasi dari pihak desa, bantuan biaya untuk pemulasaraan jenazah ini sudah berjalan hampir enam bulan.

Dimana setiap ada warga yang meninggal dunia, kebutuhan alat pulasara jenazahnya, mulai dari kain kafan, kapas, samak dan perlengkapan lainnya, semua ditanggung oleh pihak desa.

"Memang betul, pokoknya kami gratiskan. Tidak pandang bulu, yang kaya ataupun yang miskin, alat pemulasaraan jenazahnya kami gratiskan. Kala pun di lingkungannya sudah disediakan oleh pihak DKM, nanti kami ganti dalam bentuk uang," kata Kepala Desa Cipanas, Asep Lantifan, Jumat 20 September 2019.

Pemberian bantuan alat pulasara jenazah ini, kata Asep, sudah berjalan hampir enam bulan. Dan sampai saat ini terhitung sudah ada 37 orang warga, yang saat meninggal alat pemulasara jenazahnya digratiskan oleh desa.

Dikatakan Asep, pemberian bantuan alat pulasara jenazah ini, merupakan bentuk kepedulian desa terhadap keluarga yang sedang berduka. Terlebih dalam Agama Islam, mengurus jenazah ini merupakan kewajiban bagi semua warga yang masih hidup.

"Yang namanya meninggal dunia, pasti tidak akan ada persiapan, seperti yang akan menggelar hajatan. Jadi siapa pun yang meninggalnya, kita harus tetap bantu, dan mengurus jenazah ini merupakan kewajiban bagi kita selaku umat muslim," ujarnya.

Iuran sampah

Disinggung soal sumber dana, Asep menjelaskan, bahwa biaya untuk membantu alat pemulasaraan jenazah ini, tidak mengambil dari dana desa (DD) ataupun alokasi dana desa (ADD). Sebab, uang yang dipergunakan untuk bantuan pembelian alat pulasara jenazah ini, sepenuhnya merupakan hasil penyisihan dari iuran pengelolaan sampah.

"Selama enam bulan ini, kami telah mengelola sampah rumah tangga. Setiap warga yang sampahnya ditarik oleh desa, mereka dikenakan iuran sebesar Rp 5.000,- per bulan, untuk biaya pengangkutan," katanya.

Uang hasil iuran sampah ini, kata Asep, selain dipergunakan untuk biaya/ongkos angkut sampah ke TPA sebanyak empat kali dalam sebulan, juga dimanfaatkan pula untuk bantuan sosial.

Bantuan sosial dimaksud, lanjut Asep, salah satunya untuk membantu biaya pembelian alat pulasara jenazah bagi warga yang meninggal dunia.
"Jadi bantuan alat pulasara jenazah ini, sedikit pun tidak mengambil dari kas desa. Sebab sumber biayanya murni dari hasil infaq masyarakat, melalui iuran sampah bulanan," ujarnya kepada wartawan Kabar Priangan Taufik Rochman.***

Bagikan: