Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 20.7 ° C

Mereka yang Tak Diterima Keluarga

Tommi Andryandy
PARA pasien orang dengan gangguan jiwa beraktivita di Yayasan Al Fajar Berseri di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Selasa, 17 September 2019. Sejumlah pasien yang dinyatakan pulih memilih tinggal di yayasan setelah tidak diterima oleh keluarganya.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
PARA pasien orang dengan gangguan jiwa beraktivita di Yayasan Al Fajar Berseri di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Selasa, 17 September 2019. Sejumlah pasien yang dinyatakan pulih memilih tinggal di yayasan setelah tidak diterima oleh keluarganya.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

YADI (27), turut membantu Marsan (48) menyiapkan makan siang bagi para pasien. Saat adzan berkumandang, ratusan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mulai mengantre mengambil makanan. Ini menjadi peran baru bagi Yadi setelah dulu dirinya yang mengantre bersama ‘bekas’ teman-temannya itu.

Menurut Marsan, Yadi telah pulih dari gangguan kejiwaan yang sempat menyerangnya. Tiga bulan dia dirawat hingga akhirnya dapat kembali berinteraksi dengan baik. Pikiran dan perbuatannya pun telah kembali seperti semula, seperti orang pada umumnya.

Kendati demikian, dia memilih tetap tinggal. Beberapa tahun lalu, tepatnya setelah dinyatakan sembuh, dia mencoba kembali keluarganya di Bogor tapi dia merasa tidak diterima. Yadi merasa diasingkan sehingga dia kembali ke Yayasan Al Fajar Berseri.

Baginya, yayasan di Tambun Selatan Kabupaten Bekasi itu seperti rumah. Dan Marsan dianggapnya seperti ayah sendiri. “Bapak baik,” kata dia kepada “PR”.

Yadi terlihat lebih banyak tersenyum. Kendati sudah mampu berinteraksi dengan baik, dia masih malu bila bertemu orang yang tak dikenali.

Kisah itu rupanya tidak hanya dirasakan Yadi. Bapak paruh baya yang setiap hari menjaga pintu barak itu pun sama. Enggan menyebutkan namanya, pria berambut tipis ini mengaku memilih tinggal di yayasan telah mengetahui di mana keluarganya berada.
 

Dia memilih ikut membantu Marsan sekeluarga mengurus yayasan. Memiliki pengalaman gangguan kejiwaan membuat dia kesulitan membangun kepercayaan diri. Alih-alih kembali ke keluarganya lalu memulai hidup baru, dia memilih mengabdikan diri di yayasan. “Ya enggak apa-apa, begini saja,” ujar dia saat ditemui dibalik pagar besi di barak paling depan.

Menjaga pintu merupakan tugas dia sehari-hari. Mengawasi para pasien hingga mencegah mereka melarikan diri. Aktivitas itu dilakukan setelah keluarganya memilih tidak mau menjemput dia.

“Ada juga itu yang lagi ngisi air. Dia juga memilih di sini, keluarganya enggak mau jemput padahal bisa dikatakan dia sudah sembuh. Sebenarnya kasihan, harusnya keluarga mau menerima apapun dan bagaimana pun anggota keluarganya ini,” kata Marsan saat ditemui di ruang kerjanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Marsan merupakan kepala Yayasan Al Fajar Berseri yang menampung sekaligus mengobati para ODGJ. Marsan yang mantan kusir delman itu mengabdikan dirinya dengan sukarela hanya demi kemanusiaan.

Tercatat ada 370 pasien yang ditampung di sejumlah barak di yayasan yang didirikannya itu. Namun, dari jumlah tersebut tidak sedikit yang sebenarnya telah pulih namun mereka memilih tinggal karena tidak diterima di keluarganya.

“Ini yang saya prihatin. Ada banyak sudah lama tidak ketemu, kan hilang bertahun-tahun bahkan disangka hilang. Terus ketemu di sini, tentu senang. Tapi setelah itu sudah. Pasien yang berharap dijemput justru dibiarkan di sini. Ada juga yang sembuh kemudian pulang ke keluarganya tapi enggak diterima jadi balik lagi ke sini, contohnya Yadi,” kata dia.

Menurut Marsan, ODGJ ataupun mereka yang telah sembuh bukan sakit secara fisik namun psikis. Kendati telah sembuh, mereka tetap membutuhkan pendampingan terutama perhatian dan dukungan dari keluarga.

Seharusnya keluarga kembali membuka pintu bagi mereka bukan malah mengasingkannya karena malu dengan tetangga. “Yang dikhawatirkan setelah sembuh tapi tidak mendapat ruang di keluarga, mereka kembali menjadi stres dan jiwanya terganggu lagi. Ini harus menjadi perhatian. Bagaimana pun kondisinya, sebenarnya penangnan yang terbaik itu di keluarga,” ucap dia.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid mengatakan, hal tersebut merupakan realitas yang ada. Beberapa keluarga tidak siap menerima anggotanya yang sempat mengidap gangguan jiwa. Selain khawatir dapat kambuh, pandangan miring lingkungan pun turut memengaruhi keputusan keluarga tidak menerima anggotanya.

“Ini realitasnya meski sebenarnya ini ironi tersendiri. Harusnya keluarga menjadi pihak terdekat yang mendukung kepulihan mereka, bukan malah sebaliknya,” ucap dia.

Diungkapkan Abdillah, kondisi tersebut telah dicoba untuk ditanggulangi. Pihaknya melakukan pembinaan terharap keluarga yang anggotanya pernah mengalami gangguan jiwa. “Kami berikan edukasi soal ini dan terus dilakukan secara berkesinambungan. Karena selain pengobatan pasiennya, dilakukan penyiapan keluarganya. Ini terus dilakukan,” ucap dia.***

Bagikan: