Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 32 ° C

Masih dalam Tahap Renovasi, Tujuh Ruang Kelas Sudah Ambruk Lagi

Hilmi Abdul Halim
PETUGAS memasang garis polisi untuk mengamankan lokasi robohnya tujuh ruang kelas.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
PETUGAS memasang garis polisi untuk mengamankan lokasi robohnya tujuh ruang kelas.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Sebanyak tujuh ruang kelas Sekolah Dasar Negeri 1 Cileunca di Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta roboh. Peristiwa itu terjadi saat bangunan sedang dalam proses renovasi menggunakan Dana Alokasi Khusus tahap pertama.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika telah menurunkan tim dari Inspektorat daerahnya untuk mengaudit proses pembangunan bangunan tersebut. "Kalau terjadi kesalahan teknis, pihak pelaksanaannya harus mengganti (kerusakan)," katanya, Rabu 18 September 2019.

Penggantian itu dilakukan apabila pihak pelaksana dari pihak sekolah terbukti melakukan kesalahan dalam proses pembangunannya. Alasannya memberikan sanksi ialah pembangunan tersebut dibiayai DAK pemerintah pusat.

"Kalau dari DAK, kalau ada masalah kita (pemerintah daerah) terkena penalti. Nanti dikurangi (jatah untuk tahun depan)," ujar Anne. Karena itu, ia berharap penyebabnya adalah faktor nonteknis seperti bencana alam.

Sanksi tersebut diyakini tidak berlaku apabila bangunan tersebut roboh akibat faktor bencana alam. Menurut laporan yang ia terima, dugaan penyebabnya memang akibat tertiup angin kencang.

Namun, ada pula dugaan bahwa kejadian itu akibat kelalaian pekerja. Menurut keterangan warga sekitar sekolah, pekerja sudah menempatkan genting dari bahan tanah liat di atas kerangka baja ringan yang belum selesai.

"Opsi kedua seperti itu. Makanya harus diaudit dulu. (Penyebab) yang jelas itu seperti apa," ujar Anne. Hasil audit tersebut juga digunakan untuk mencairkan DAK tahap kedua sebesar 40 persen dari nilai proyek.

Biaya renovasi ketujuh ruang kelas itu diketahui berasal dari DAK tahap pertama sebesar 25 persen dari nilai proyek secara keseluruhan. Namun, saat akan mencairkan anggaran tahap kedua, bangunan tersebut justru ambruk.

Penyelidikan

Sehari setelah peristiwa yang terjadi Senin (17/9/2019) lalu, petugas Kepolisian Sektor Bojong memasang garis polisi. Selain agar tidak membahayakan orang lain, polisi juga tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut.

"Tidak ada korban, hanya atap ruang kelas itu rusak berat," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polisi Resor Purwakarta Ajun Komisaris Handreas Ardian. Menurut laporan Kepala Polsek Bojong, Inspektur Dua Teguh Sujito, proses belajar mengajar memang tidak dilakukan di kelas tersebut tapi dialihkan ke kelas lain secara bergiliran.

Sementara itu, pihak sekolah menilai kerangka baja ringan yang dipasang tidak mampu menopang genteng. "Seharusnya yang digunakan adalah genteng metal atau seng, ini malah memakai genting press. Jadi saat tertiup angin kencang atapnya langsung ambruk," ujar Kepala SDN 1/Satap Cileunca, Nunung Sutisna.

Meski begitu, pembangunan ruang kelas baru dinilai sesuai dengan rencana anggaran biaya yang ditentukan. Bahkan, dari mulai proses perencanaan dan pengerjaannya juga diawasi konsultan yang ditunjuk Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta.***

Bagikan: