Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 20.7 ° C

Jual Kuda, Urus Pengidap Gangguan Jiwa

Tommi Andryandy
PARA pasien gangguan jiwa beraktivitas di Yayasan Al Fajar Berseri di Desa Sumberjaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Rabu, 18 September 2019. Berawal menjadi kusir, Marsan (48) sang pendiri yayasan kini mengabdikan dirinya untuk para pengidap gangguan jiwa.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
PARA pasien gangguan jiwa beraktivitas di Yayasan Al Fajar Berseri di Desa Sumberjaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Rabu, 18 September 2019. Berawal menjadi kusir, Marsan (48) sang pendiri yayasan kini mengabdikan dirinya untuk para pengidap gangguan jiwa.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

MARSAN (48) kini hanya sesekali membersihkan delman yang diparkir tepat di depan kantornya. Tidak seperti kuda yang dia jual, delman berwarna coklat itu tetap dijaga sebagai bagian dari perjalanan mantan kusir ini.

Berkat delman tersebut, pada 1992 lalu, pria berkumis tebal itu mulai mengabdikan diri mengurus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

“Jadi dulu saya lagi lewat ada orang gila udah lusuh banget, makan sisa makanan di tempat sampah yang udah dikerubutin lalat. Awalnya saya lewatin aja, tapi hati enggak tenang, kebayang terus. Ya udah lah itu dibawa ke rumah, dimandikan, diurus,” kata dia saat ditemui di Yayasan Al Fajar Berseri di Desa Sumberjaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Rabu, 18 September 2019.

Nekat membawa pulang pria bergangguan jiwa, Marsan justru bingung cara mengurusnya. Namun, pelan-pelan dia coba mendalami persoalan pria tersebut hingga akhir mulai sembuh. “Ciri-ciri sembuhnya itu pas ngobrol nyambung. Dia juga sudah tahu namanya, katanya Rudi,” ucap dia.

Setelah tiga bulan, Marsan lantas menyuruh Rudi pulang ke rumahnya yang mengaku berada di wilayah Bogor. Baru tiga hari pulang, Rudi kembali ke kediaman Marsan bersama keluarganya.

“Itu ternyata si Rudi sudah hilang setahun setengah. Itu ibunya langsung memeluk saya, berterima kasih sambil nangis. Di situ saya merasa begitu bermanfaat bagi orang. Mulai dari situ, setiap ada orang gila atau sekarang namanya ODGJ, saya bawa pulang,” ujar dia.
 

Komitmen dengan upaya mulianya, hingga tahun 2005, ‘pasien’ Marsan telah berjumlah 20 orang. Para ODGJ itu dia rawat semampunya sebagai seorang kusir. Jumlah pasien makin meningkat menjadi 40 orang pada 2012.

Makin banyak yang diurus, Marsan pun mulai kebingungan menghidupi para pasiennya. Alhasil, dia pun menjual kuda miliknya. “Ada rejeki juga, dibikin barak buat mereka. Alhamdulillah ada donatur yang membeli,” ucap dia.

Upaya Marsan menampung para ODGJ ini pun mulai dikenal masyarakat luas. Dia pun lantas mendirikan yayasan bernama AL Fajar Berseri. Jumlah pasien pun makin meningkat hingga kini mencapai 370 orang.

Jumlah tersebut terdiri dari 250 laki-laki dan 120 perempuan. Sayangnya, rata-rata ODGJ yang ditangani Marsan termasuk dalam kategori usia produktif yakni 25-30 tahun. “Memang sebenarnya mereka masih bisa bekerja, tapi karena tengah sakit jadi susah bagi mereka,” ucap dia.

Dari banyak pasien yang ditangani, rata-rata mereka mengidap gangguan jiwa karena ada kegagalan, baik dari pekerjaan atau pun keluarga. “Kalau yang pasien laki-laki biasanya karena keluarga atau pekerjaannya gagal. Tapi kalau perempuan itu mayoritas karena asmara,” ucap dia.

Dengan mengurus ratusan ODGJ, setiap pagi Marsan bersama istri, saudara dan warga lain yang dipekerjaan, mulai sibuk mengurus para pasien. Setidaknya tiga karung beras ukuran 50 kilogram dihabiskan untuk memberi makan pasien selama sehari.

“Itu untuk makan sehari kan tiga kali. Belum termasuk lauk pauk. Karena memang jumlahnya makin banyak, operasional juga tinggi. Sekitar Rp 100 juta habis sebulan mah,” ucap dia.

Kendati mendapat bantuan dari pemerintah daerah hingga pusat serta memiliki sejumlah donatur tetap, Marsan terkadang kesulitan menghidupi ratusan pasiennya. Terlebih, saat ini, persoalan tidak hanya biaya operasional namun jumlah pasien yang tidak memadai dengan kondisi yang ada. “Bisa dibilang overload,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bekasi, Abdillah Majid mengatakan, Yayasan Al Fajar Berseri merupakan bagian dari lembaga yang didampingi. Berkat upaya mulianya, pemerintah turut melakukan pemberdayaan, baik dari peningkatan kualitas sumber daya manusia hingga kualitas pelayanan kepada pasien.

“Ini menjadi lembaga pendampingan kami, bagian yang kami asuh. Yayasan itu menjadi satu-satunya di Jawa Barat dan itu dari swasta. Memang perlu didampingi, maka kami turut melakukan pemberdayaan,” ucap dia.***

Bagikan: