Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Sedekah Bumi Gunung Jati, Ritual yang Selalu Dinanti Masyarakat

Agung Nugroho
SALAH satu replika berupa gambaran Nyi Mas Pakungwati mendapat perhatian para pengunjung ritual nadran dan sedekah bumi, Gunung Jati.*/ISTIMEWA
SALAH satu replika berupa gambaran Nyi Mas Pakungwati mendapat perhatian para pengunjung ritual nadran dan sedekah bumi, Gunung Jati.*/ISTIMEWA

TIDAK berlebihan bila tradisi ritual Nadran dan Sedekah Bumi di Gunung Jati menjadi momen pariwisata nasional dan sebagai ikonik bagi Cirebon. Tidak saja dimaknai dilihat sebagai peristiwa kebudayaan yang mengandung nilai religi, filosofi dan sosiologi, tetapi juga telah menjelma menjadi perayaan kebudayaan yang memiliki daya tarik luar biasa secara masif.

Pada sisi perayaan kebudayaan, Nadran dan Sedekah Bumi yang selalu diramaikan dengan karnaval ogoh-ogoh, menjadi even pembuktian bagaimana masyarakat di sepanjang pesisir Cirebon, memiliki potensi artisitik yang sangat menarik. Ogoh-ogoh atau replika patung raksasa yang diarak dalam satu karnaval jalanan, menjadi bukti ekspresi estetis masyarakat yang secara tradisional bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani.

Tahun demi tahun, daya tarik upacara tradisional itu makin besar. Dibanding upacara tradisional lain yang juga berkembang secara khas di daerah setempat, barangkali ritual yang berpusat di Makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, memiliki magnitud tersendiri yang dirasa lebih kuat.

Tidaklah mengherankan bila upacara tradisional di Gunung Jati selalu ditunggu, tidak saja oleh masyarakat pesisir setempat, tetapi juga daerah lain. Nadran dan Sedekah Bumi Gunung Jati, selalu menyedot kehadiran puluhan ribu warga, mereka datang juga dari Indramayu, Majalengka, Kuningan bahkan beberapa daerah di Tegal, Brebes, termasuk Subang dan Karawang.

Tahun ini, ritual yang puncaknya berlangsung pada Sabtu, 14 September 2019, membuktikan bagaimana event itu terus berkembang dan selalu bertambah menarik. Wajar pula bila Kementerian Pariwisata kemudian menjadikan Nadran, Sedekah Bumi dan Karnaval Ogoh-ogoh yang dikemas ke dalam acara bertajuk Festival Cirebon 2019 ini masuk dalam agenda nasional pariwisata nasional.

Setidaknya ada dua momentum penting dalam upacara tradisional yang telah berlangsung berpuluh, bahkan mungkin ratusan tahun, pada masyarakat pesisir Cirebon tersebut. Pertama adalah momen ritual berupa Nadran dan Sedekah Bumi yang menjadi acara inti, kemudian kedua, adalah karnaval ogoh-ogoh yang bisa dikatakan sebagai ekspresi artistik (hiburan).

Percampuran

Pada momen ritual, ada nilai-nilai sinkreitisme (percampuran) yang lebih bersifat relijius antara tradisi kuno Hindu, Budha dengan nilai-nilai yang lebih modern (Islam). Fenomena lain ialah percampuran dua kultur yang berbasis pada mata pencaharian masyarakat, ialah bertemunya secara sosiologis nilai-nilai lama pada masyarakat agraris (petani) dan maritim (nelayan).  

“Percampuran-percampuran itu melahirkan nilai-nilai filosofis dan spiritual yang menarik pada upacara adat di Gunung Jati,” tutur budayawan Cirebon, Dr. Opan Raffan Hasyim.

Momen berikutnya ialah perayaan, berupa karnaval jalanan. Dalam struktur Nadran dan Sedekah Bumi sebenarnya hanya sebagai acara tambahan, namun yang justru menjadi puncak dari serangkaian upacara ritual tradisional masyarakat adat di pesisir yang tidak jauh dari Kompleks Makam Sunan Gunung Jati.

“Karnaval ogoh-ogoh itu lebih bersifat hiburan. Yang menarik, dari karnaval itu, kita bisa lihat bagaimana masyarakat pesisir ternyata memiliki darah seni luar biasa. Ogoh-ogoh berupa replika patung, menunjukan bagaimana nilai-nilai artisitik dan estetik pada masyarakat setempat,” tutur filolog asal Desa Mertasinga (Gunung Jati), yang juga masih menjadi bagian dari masyarakat pesisir tersebut.

Ciri terpenting dari karnaval ini ialah bahhwa replika-replika itu sebagai bentuk ekspresi artistik masyarakat pesisir yang juga tidak jauh-jauh dari kesadaran mistis terhadap simbol-simbol yang memiliki daya magis spiritualitas pesisir. Dari tahun ke tahun, simbol-simbol seperti naga, harimau, semar, dewa-dewa, menjadi ide yang menjadi dasar kreasi pembuatan replika patung, termasuk juga hewan-hewan laut seperti udang, ikan dan sejenisnya.

Pada perkembangan berikutnya, seiring dengan perubahan dalam masyarakat pesisir, ide pembuatan replika patung menjadi lebih beraneka ragam dan dinamis. Bahkan pernah ada patung doraemon, tokoh-tokoh komik Marvel seperti batman, superman dan sejenisnya, selalu dalam ukuran jumbo (raksasa) diikutkan dalam karnaval ogoh-ogoh yang kini mulai dilombakan.

Pada karnaval ogoh-ogoh Sabtu pekan lalu, diikuti sedikitnya 150 replika patung dengan motif yang sangat beragam. Seperti biasa, karnaval ini berupa deretan panjang replika raksasa yang diarak ribuan orang di Jln Raya Gunung Jati-Kota Cirebon, sepanjang dua kilometer.

Dana swadaya

Hal menarik, patung-patung itu dibuat oleh warga dengan sumber dana berupa swadaya atau iuran sukarela warga. Diikuti oleh warga sejumlah desa di sepanjang pesisir meliputi Gunung Jati, Suranenggala dan Kapetakan.

“Ogoh-ogoh itu sudah menjadi gengsi di kalangan masyarakat pesisir. Mereka rela iuran yang penting desa atau bloknya bisa ikut partisipasi dalam karnaval,” tutur Kuwu Astana, Nuril Anwar.

Sejak beberapa tahun terakhir, upacara adat Nadran dan Sedekah Bumi Gunung Jati, sepertinya sudah mulai memasuki babak baru dalam perjalanan panjang tradisi yang berkembang dan dipegang teguh oleh masyarakat pesisir Cirebon. Kini, seiring dengan keseriusan pemerintah dalam menggali potensi pariwisata di seluruh nusantara, upacara adat yang sebelumnya hanya ritual adat lokal, kini sudah diapresiasi dengan dimasukan menjadi agenda pariwisata, tidak hanya Jawa Barat, tetapi juga nasional.

Bahkan, pada perayaan Sabtu pekan lalu, tidak saja masyarakat umum yang memenuhi jalanan sepanjang dua kilometer dari Makam Sunan Gunung Jati sampai Perlimaan Krucuk, Kota Cirebon, para sultan dan raja Nusantara juga turut hadir menyaksikan. Mereka menjadi tamu kehormatan yang menyaksikan langsung tiap mata acara, dari mulai pelarungan sesaji di muara Kali Condong hingga karnaval ogoh-ogoh.

“Mudah-mudahan, dengan dimasukan sebagai agenda pariwisata nasional, Nadran dan Sedekah Bumi atau Festival Cirebon, akan makin berkembang lebih luas, menjadi daya tarik wisata nasional maupun manca negara. Mudah-mudahan, dengan begitu, karya-karya ogoh-ogoh yang dihasilkan akan lebih kreatif dan menarik lebih banyak masyarakat untuk menonton karnaval,” tutur Pelaksana tugas Bupati Cirebon, H. Imron Rosyadi.(Agung Nugroho/PR)***

Bagikan: