Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

Menanti Kembalinya Kejayaan Garam Indramayu

Gelar Gandarasa
PETAMBAK garam di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, tengah mengolah garam pada Agustus 2019.*/GELAR GANDARASA/PR
PETAMBAK garam di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, tengah mengolah garam pada Agustus 2019.*/GELAR GANDARASA/PR

SUDAH beberapa bulan terakhir ini, wilayah Jawa Barat dilanda kekeringan yang cukup panjang. Bagi petani, kondisi tersebut merupakan malapetaka. Namun sebaliknya, bagi petambak garam, kondisi kemarau merupakan waktu yang ideal untuk memproduksi garam sebanyak-banyaknya. 

Salah satu sentra garam Indramayu ada di wilayah Kecamatan Krangkeng. Kondisi geografis yang dekat dengan laut membuat banyak warga berprofesi sebagai petambak garam. Salah satunya adalah Vindy Ferdiansyah (30), petambak garam asal Krangkeng.

Meski banyak yang berprofesi sebagai petambak garam, tapi profesi itu belum bisa menjadi andalan. Dia mengatakan, persoalan serius yang tengah dihadapi petambak adalah kesejahteraan karena harga yang rendah. Itu dirasakan meski produksi garam tengah melimpah ruahnya.

"Sekarang, harga garam masih berkisar antara Rp270 sampai Rp300 per kilogramnya," ungkap Vindy, Minggu, 15 September 2019.

Dengan bandrol harga tersebut, kata dia, petambak merasa sangat sulit meningkatkan keuntungan bagi mereka.  Dalam seminggu, rata-rata pendapatan petambak hanya mendapatkan Rp300.000.

"Kalau harga lagi jelek, keuntungan yang didapat otomatis kurang," tutur dia.

Kenangan dua tahun lalu berbeda drastis dengan sekarang

PENAMBAK garam di Kabupaten Indramayu tengah mengolah garam, beberapa waktu lalu. Harga garam di Kabupaten Indramayu anjlok.*/GELAR GANDARASA/PR

Vindy mengatakan, tak selamanya harga garam membuat pusing para petambak. Dua tahun ke belakang, harga garam pernah dihargai tinggi mencapai Rp2.000 per kilogram.

Kala itu, garam dianggap komoditas yang menjanjikan. Warga pun berbondong-bondong menekuni produksi garam.

"Waktu itu, jangan harap mudah cari tukang bangunan. Semuanya pada pindah ke garam," ucapnya sambil mengenang.

Kondisi berbeda terjadi saat ini di mana garam tak dilirik oleh banyak orang. Garam hasil produksinya cukup sulit untuk dikeluarkan ke pasar. Garam pun kini hanya menumpuk saja di dalam gudang.

"Gudang saya ukuran 6x12 meter. Kapasitasnya 100 ton dan sekarang sudah penuh," katanya.

Vindy tak tahu pasti kapan stok garam-garam itu akan menipis. Namun yang pasti, ia menyatakan akan segera melepasnya jika harga dirasa cukup baik. "Saya tahan dulu saja supaya ruginya enggak terlalu besar," tuturnya. 

Petambak lainnya Wiryo (52) menambahkan, hingga saat ini stok garam terus menumpuk. Penumpukan tersebut belum diimbangi oleh lancarnya pengeluaran. Kini, harapannya hanyalah agar garam di gudang bisa secepatnya terserap oleh pasar. Dengan demikian, ia dan petambak lain bisa merasakan jerih payah kerja kerasnya selama ini.

Jika tak segera terserap, dikhawatirkan gudang yang ada tidak bisa menampung garam karena kepenuhan. "Semoga bisa cepat-cepat laku," ungkapnya.***

Bagikan: