Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 16.3 ° C

Kandang Inovasi jadi Jawaban Peternak Ayam Skala Rumahan

Adang Jukardi
KETUA Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi PUTM (Pendidikan Vocational Teknik Mesin) STKIP Sebelas April Sumedang. Novan  Bayu Nugraha,  sedang menjelaskan kelebihan  Kandang Close House (KCH) dengan inovasi pada  ekspos hasil produk pengabdian kepada masyaraka di ruang kuliah STKIP Sebelas April  Sumedang,  Kamis, 12 September 2019.*/ADANG JUKARDI/PR
KETUA Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi PUTM (Pendidikan Vocational Teknik Mesin) STKIP Sebelas April Sumedang. Novan Bayu Nugraha, sedang menjelaskan kelebihan Kandang Close House (KCH) dengan inovasi pada ekspos hasil produk pengabdian kepada masyaraka di ruang kuliah STKIP Sebelas April Sumedang, Kamis, 12 September 2019.*/ADANG JUKARDI/PR

UNIT Pelaksana Teknis (UPT) Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) STKIP Sebelas April Sumedang, menciptakan kandang ayam broiler konvensional menggunakan Kandang Close House (KCH) berukuran minimalis. KCH tersebut menggunakan inovasi dengan penerapan teknologi sehingga disebut kandang inovasi.

Karena ukurannya minimalis, sehingga kandang inovasi bisa digunakan di lahan sempit. Bahkan, di pekarangan rumah, sehingga bisa dijadikan usaha kecil rumah tangga.

KCH inovasi itu memiliki banyak kelebihan dibanding Kandang Open House (KOH), atau kandang tipe terbuka yang selama ini sering dijumpai di peternakan ayam ras pedaging. Diantaranya yaitu tidak tergantung cuaca, apalagi musim pancaroba. Kandang juga menjadi lebih higienis, daging ayamnya lebih berkualitas, serta biaya pembuatannya relatif murah dan terjangkau, khususnya oleh para peternak skala kecil.

Menurut Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi PUTM (Pendidikan Vocational Teknik Mesin) STKIP Sebelas April Sumedang, Novan Bayu Nugraha, pembuatan KCH inovasi tersebut berawal dari permasalahan yang sering dialami para peternak ayam skala kecil di Kabupaten Sumedang.

Pada umumnya, mereka menggunakan kandang tipe terbuka dengan ukuran yang besar. Masalahnya, KOH rentan perubahan musim. Keterbatasan sekam untuk alas lantai dan pemanasan yang menggunakan gas, juga berpengaruh pada performa ayam.  

Padahal, peternakan  ayam ras pedaging di Kabupaten Sumedang memiliki populasi yang tinggi. Populasinya mencapai 14.168.981 ekor.

Hal itu berdasarkan data BPS tahun 2016. Tingginya populasi itu, menunjukan usaha peternakan ayam ras pedagang menjadi sumber utama pendapatan penduduk Kabupaten Sumedang.

“Berangkat dari berbagai permasalahan ini, kami berupaya mengatasinya dengan menciptakan KCH inovasi dengan penerapan teknologi,” kata Novan, saat ekspos hasil produk pengabdian kepada masyarakat bertema Peningkatan Kandang Ayam Broiler Konvensional Menggunakan Kandang Close House Tipe Baterai di ruang kuliah STKIP Sebelas April  Sumedang,  Kamis, 12 September 2019.

Desain kandang

Lebih jauh Novan menjelaskan, teknologi yang dipakai diantaranya lampu sebagai pemanas. Selain itu, kandangnya juga tertutup, serta sirkulasi udara bisa dikendalikan sehingga udara tetap bersih.

Kandang inovasi ini juga tidak menggunakan sekam untuk bagian lantai, melainkan menggunakan lantai berlubang, sehingga kotoran akan terpisah, Desain kandangnya dibangun dengan populasi ayam sebanyak 100 ekor yang terbagi menjadi 4 kandang. Hal itu dengan kerapatan kandang  25 ekor per meter persegi. 

“Nah, selama masa pemeliharaan dilakukan pendampingan sampai ayam dipanen. Ayam dipanen saat berusia 30 hari. Hasil panennya, bobot ayam rata-rata 1,483 kg dengan FCR (jumlah pakan habis/bobot) 1,501 dan tingkat kematian 5%,” tuturnya.

Meski diakui dari segi bobot dan tingkat kematian tidak terlalu berbeda dengan menggunakan KOH, kandang inovasi ini bisa mengatasi masalah perubahan lingkungan dan kelangkaan sekam.  Ukurannya pun bisa minimalism sehingga bisa digunakan di lahan sempit dengan investasi lebih rendah.

“Oleh karena itu, kandang inovasi ini sangat penting dikembangkan di Kab. Sumedang. Apalagi di Sumedang banyak poeternak ayam ras pedaging,” tuturnya.  

Peternak skala kecil

Sementara itu, Kepala UPT PPM STKIP Sebelas April Arif Rahman Sudrajat mengatakan, pembuatan kandang ayam itu dilaksanakan oleh Tim  Pelaksana Hibah Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Pembuatan kandang tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban  tim pelaksana dalam pelaksanaan hibah PPM dari Kemenristekdikti tahun 2019.  

“Kami mendapatkan hibah ini, setelahnya ada mitra yakni peternak ayam ras yang menggunakan kandang inovasi ini di Desa Ciherang, Kec. Sumedang Selatan. Nilai hibahnya sekitar Rp  39 juta,” katanya.  

Ia mengatakan, esensi pembuatan  KCH inovasi tersebut, untuk membantu mengatasi masalah yang selama ini dialami para peternak ayam ras di Kab. Sumedang, khususnya skala kecil.

“Bagi para peternak ayam binaan kita, kandang ayam ini bernilai ekonomis. Karena ukurannya minimalis, sehingga bisa disimpan di lahan sempit atau perkarangan rumah. Lahan yang tidak berguna, bisa produktif. Bahkan bisa menjadi lapangan kerja baru bagi masyarakat,” kata Arif.

Untuk saat ini, kata dia, UPT PPM akan segera  mematenkan KCH inovasi hasil karya Tim PKM.  Terlebih kandang inovasi ini baru ada di Indonesia.

Untuk mengembangkan kandang inovasi hingga bisa dimiliki oleh masyarakat luas, bisa diupayakan dengan pinjaman modal perbankan atau dari CSR (tanggungjawab sosial perusahaan) perbankan.

“Kami ingin menunjukan bahwa kampus swasta pun bisa bersaing dengan kampus negeri. Sebetulnya UPT sudah banyak melakukan kegiatan dan penelitian untuk pemberdayaan masyarakat. Hanya saja, belum terekspos secara optimal,” ucapnya.***

Bagikan: