Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Cerah, 29.1 ° C

Penuh Sampah, Sungai Cipakancilan Menanti Penanganan

Windiyati Retno Sumardiyani
Warga  Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor berjalan meninggalkan Sungai Cipakancilan seusai mencuci, Kamis 12 September 2019. Warga terpaksa mencuci di sungai penuh sampah lantaran sumurnya mengering.*WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
Warga Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor berjalan meninggalkan Sungai Cipakancilan seusai mencuci, Kamis 12 September 2019. Warga terpaksa mencuci di sungai penuh sampah lantaran sumurnya mengering.*WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR,(PR).-  Warga di sepanjang Sungai Cipakancilan, anak Sungai Ciliwung, di RT 2, RW 1, Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor terpaksa menggunakan air sungai penuh sampah sebagai sarana mandi dan cuci baju. Mereka berharap sungai penuh sampah yang membentang  dari  Sukaresmi dan Kedungbadak di Kota Bogor hingga Cilebut di Kabupaten Bogor itu bisa segera dibersihkan.

Aas (56), warga setempat mengatakan, ia terpaksa mencuci di sungai penuh sampah lantaran sumur di rumahnya mengering saat musim kemarau. Aktivitas mencuci baju hingga mandi diakui Aas dilakukan oleh hampir mayoritas warga di RT 2,di sepanjang Sungai Cipakancilan.

“Kalau buat cuci dan mandi iya, kalau minum enggak. Ya mau bagaimana lagi, warga juga terpaksa karena memang sumur kering,” ujar Aas saat dijumpai di rumahnya, Kamis 12 September 2019.

Menurut Aas, sejak dulu warga memang sudah menggunakan Sungai Cipakancilan untuk kegiatan mandi dan mencuci baju. Agar dapat digunakan, air sungai yang berbau sampah itu disaring menggunakan kain.  Air tersebut yang kemudian digunakan warga untuk mencuci pakaian dan mandi. 

“Dulu tidak seperti ini, dulu mah bening.  Kalau sampah ini sebenarnya baru-baru saja, mungkin dua tahun belakangan,” kata Aas. 

Menurut Aas, warga setempat sebenarnya tidak banyak membuang sampah ke sungai. Aas menyebut, tumpukan sampah itu berasal dari seberang sungai yang berdekatan langsung dengan jalan raya. Aas pun sempat melihat ada tumpukan limbah plastik berkarung-karung yang dibuang ke sungai.

“Limbah sampahnya seperti bungkus plastik permen, tapi sampai berkarung-karung. Saya lihatnya sudah lama, ada mungkin tiga minggu lalu. Baru sekali sih melihat itu, kalau sampah memang banyaknya orang seberang,” ucap Aas.

Warga  Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor berjalan meninggalkan Sungai Cipakancilan seusai mencuci, Kamis 12 September 2019. Warga terpaksa mencuci di sungai penuh sampah lantaran sumurnya mengering.*WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

Warga lainnya, Mulyadi juga berharap pemerintah daerah bisa berperan lebih dalam menangani sungai. Mulyadi menyebutkan, sejauh ini pemerintah daerah tidak pernah memberikan perhatian terkait  penanganan sampah. Mulyadi juga gerah dengan para pembuang sampah liar, namun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberikan teguran.

“Rumah kami hanya berjarak beberapa langkah dari batas Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, cuma perlakuannya beda sekali. Kalau kota masalah sampah diperhatikan, ada petugas yang mengangkut sampah. Kalau di sini mah boro-boro. Makanya banyak yang sesuka hati buang sampah,” kata Mulyadi.

Menurut Mulyadi, tumpukan sampah yang ada di  Sungai Cipakancilan mayoritas berasal dari Kota Bogor. Mulyadi  berharap sungai dua tahun lalu masih terlihat jernih bisa dikembalikan lagi marwahnya.

“Kemarin saya dengar sudah disurvey, semoga  ada perhatian dari pemerintah.  Sudah capek kami di sini, pasang papan dilarang buang sampah malah papannya dibuang,” ucap Mulyadi.

Sementara itu, aktivis  Komunitas Peduli Ciliwung Suparno Jumar mengatakan, semua pihak  baik itu masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha di sepanjang Sungai Cipakancilan harus turun tangan tanpa terkecuali. Penanganan sampah di sungai tersebut  harus dilakukan sesegera mungkin  untuk menyelamatkan Sungai Cipakancilan.

“Semua potensi yang dimiliki oleh pemerintah kota dan kabupaten harus turun, tanpa kecuali. Termasuk masyarakat dan pelaku usaha di sungai.  Ini sudah termasuk terlambat, harus segera,” kata Parno.***

Bagikan: