Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Cerah, 27.3 ° C

Meski Rawan Picu Kebakaran, Warga Tetap Bakar Jerami Sawah dan Semak

Bambang Arifianto
TUMPUKAN jerami terlihat dibakar di pesawahan Kampung Cigaleuh, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 11 September 2019. Pembakaran lahan di musim kemarau bisa picu kebakaran dalam skala luas.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
TUMPUKAN jerami terlihat dibakar di pesawahan Kampung Cigaleuh, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 11 September 2019. Pembakaran lahan di musim kemarau bisa picu kebakaran dalam skala luas.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Praktik pembakaran jerami sawah, semak, serta rerumputan di kebun warga saat musim kemarau masih menjadi tradisi di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Padahal, tradisi tersebut bisa memicu munculnya titik api yang merembet menjadi kebakaran dengan skala luas.

Pantauan Pikiran Rakyat, praktik pembakaran jerami tampak di kawasan pesawahan Sukaratu dan Cisayong, Rabu, 11 September 2019. Pembakaran tersebut membuat sebagian wilayah Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong berselimut asap saat itu.

Bahkan, kepulan asap itu bisa terlihat langsung dari Jalan Ciawi-Singaparna (Cisinga). Lokasi pembakaran jerami itu berada di sekitar lembah di Kampung Cigaleuh, Desa Santanamekar.

Di sana, tumpukan jerami di bakar di area pesawahan yang telah mengering. Letak Cigaleuh pun berada di bawah kawasan hutan Gunung Galunggung.

Kepala Dusun Cigaleuh Mamat Rahmat mengakui pembakaran jerami telah menjadi kebiasaan warga. Tangkai padi yang kering itu dibakar agar para petani gampang mengolah sawahnya saat musim hujan tiba.

"Sebelum hujan, (petani) mau nanam tidak sudah lagi," ujarnya.

Petani hanya tinggal mengolah sawah tanpa perlu lagi membuang jerami lantaran telah musnah dibakar. Cara tersebut dinilai lebih cepat ketimbang memanfaatkan jerami untuk dibuat sebagai pupuk.

Pemerintah pun tak bisa berbuat apa-apa, karena lahan sawah memang milik warga serta kebiasaan membakar jerami telah menjadi kebiasaan. Mamat menilai, praktik pembakaran itu tetap aman. Soalnya, warga membakar di lokasi tertentu seperti area sawah dengan cara menumpuk jeraminya. Dengan demikian, api diyakini tak bakal menjalar.

Semak dan rumput

Tak hanya sawah, lanjut Mamat, kebun warga yang dipenuhi semak dan rumput juga dibersihkan dengan cara dibakar. Sisa pembakaran kebun serta tampak di wilayah Sukaratu. Rumput atau semak dan tumpukan jerami yang sudah terbakar terlihat menghitam.

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi 6 Tasikmalaya Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Ciamis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jabar Didin Syarifudin mengatakan, ‎pembukaan lahan dengan pembakaran berpotensi menimbulkan kerusakan hutan. Pasalnya, api dari lahan itu bisa menjalar masuk ke hutan. 

Sebagian wilayah Kabupaten Tasikmalaya seperti hutan di Sindangkerta, Cipatujah masuk dalam wilayah kerja institusi Didin. Hingga kini, Didin mengaku wilayah Konservasi 6 yang meliputi Gunung Syawal (Ciamis), Sindangkerta (Kabupaten Tasikmalaya) dan Linggarjati (Cirebon) ‎masih relatif aman atau belum ditemukan hotspot/titik api.

Meski demikian, kewaspadaan perlu ditingkatkan seiring maraknya praktik pembakaran lahan ketika kemarau. Menurut Didin, pembakaran lahan memang lebih praktis dan hemat biaya untuk membersihkan semak atau rerumputan. Akan tetapi, bahaya kebakaran justru mengintai di tengah cuaca yang panas terik belakangan ini. Bahaya tersebut bakal terus mengancam karena kemarau juga berkepanjangan.

"Kalau mau membuka lahan untuk garapan tidak harus dibakar," ucapnya. Rumput atau semak yang dibabat bisa dijadikan pupuk.

Jika mendapati titik api atau kebakaran di wilayahnya, Didin berharap warga  melaporkan ke instansi yang berwenang seperti BKSDA atau Perhutani agar penanganan berupa pemadaman api segera dilakukkan.

Seperti diketahui, kebakaran lahan mulai mengemuka di Kabupaten Tasikmalaya. Pada Kamis, 5 September 2019, kebakaran terjadi di area perkebunan karet di Kampung Tarisi, Desa/Kecamatan Cipatujah. Lahan seluas 15 hektare pun habis terbakar.

Upaya menangani kebakaran dengan cepat juga masih menjadi permasalahan petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tasikmalaya. Mereka terkendala‎ jarak yang jauh dan waktu tempuh untuk datang ke lokasi dengan cepat.

Seperti saat kebakaran menimpa area perkebunan karet Cipatujah. Petugas dan armada Damkar dari Singaparna butuh waktu tiga jam untuk sampai di Cipatujah. Belum lagi  jalur lintasan menuju Tasikmalaya selatan tersebut pun berkelok-kelok sehingga tak memudahkan armada Damkar melewatinya.***

Bagikan: