Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Umumnya berawan, 20.1 ° C

Korban Trafficking Bermodus Penikahan di Tiongkok Alami Trauma

Hilmi Abdul Halim
KEPALA Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Sosial Kabupaten Purwakarta, Nur Aisah Jamil diwawancarai di kantornya, Kamis 12 September 2019. Dinasnya akan menawarkan pemulihan psikologis terhadap para korban trafficking bermodus pernikahan di Cina.*/ HILMI ABDUL HALIM/PR
KEPALA Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Sosial Kabupaten Purwakarta, Nur Aisah Jamil diwawancarai di kantornya, Kamis 12 September 2019. Dinasnya akan menawarkan pemulihan psikologis terhadap para korban trafficking bermodus pernikahan di Cina.*/ HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Tiga warga Kabupaten Purwakarta mengaku trauma setelah menjadi korban perdagangan manusia dengan modus pernikahan di negara Tiongkok. Pemerintah daerah setempat menawarkan untuk memulihkan psikologis mereka.

Para korban saat ini telah dipulangkan ke rumahnya masing-masing di wilayah Purwakarta. Namun, mereka masih merasakan trauma. Mereka juga tertekan dengan pemberitaannya di media massa maupun media sosial.

"Kita semua ingin menjalankan kehidupan baru jangan pernah ungkit atau tanya lagi," kata salah seorang korban yang tidak mau disebutkan namanya, kepada PR, Kamis 12 September 2019. Ia mengaku khawatir kejadian yang dialaminya berpengaruh negatif bagi anak dan keluarganya.

Modus perdagangan manusia yang dialaminya terungkap setelah sejumlah instansi pemerintah memulangkan para korban dari Tiongkok beberapa waktu lalu. Hal itu membuat identitas mereka tersebar luas.

"Banyak media yang minta informasi. Saya tidak bisa soalnya masih trauma," kata korban. Untuk menghindari pihak-pihak kurang berkepentingan, ia memilih tinggal sementara di rumah kerabat yang ada di Kabupaten Karawang.

Dari enam korban kasus kali ini, warga Kabupaten Purwakarta yang telah dipulangkan tercatat sebanyak tiga orang. Mereka ialah perempuan berinisial DF (27), YI (29), MR (18).

Menurut pengakuan korban lainnya, awalnya mereka ditawari bekerja di luar negeri melalui jalur ilegal. "Ternyata setelah di Tiongkok statusnya jadi menikah. Karena menikah, aturan hidup di sana (diatur) oleh suami," ujarnya.

Namun, korban yang juga menolak disebutkan namanya itu enggan menjelaskan pihak penyalur ke Tiongkok. Ia juga menolak menceritakan pengalamannya selama berada di negara tersebut hingga akhirnya dipulangkan ke Indonesia.

Sementara itu, Dinas Sosial Kabupaten Purwakarta akan menawarkan pendampingan psikologis pada para korban. Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak dinas tersebut, Nur Aisah Jamil mengaku tidak mendapatkan laporan pemulangan para korban dari pemerintah pusat.

"Kalau penanganan kasus perdagangan manusia biasanya ditangani oleh kepolisian dan pemerintah pusat langsung karena termasuk tindak pidana. Pemerintah daerah lebih ke pencegahannya," kata Nur. Selama ini, ia mengaku telah melakukan pogram sosialisasi secara rutin.

Menurunnya, tindak perdagangan manusia dengan modus pernikahan baru diketahui pada awal tahun ini. Nur mengaku belum mengetahui dugaan keberadaan korban lainnya yang belum bisa dipulangkan.

Meskipun kewenangannya sebatas pencegahan, Nur tetap menerima pengaduan dari masyarakat yang menjadi korban perdagangan manusia. Ia menyatakan akan membantu berkoordinasi dengan para pemangku kebijakan.

"Sepanjang 2019, kami sudah menangani 11 korban trafficking yang akan dipekerjakan di tempat hiburan di Karawang," ujar Nur. Seluruh korban telah dipulangkan ke keluarganya masing-masing dan dibina secara rutin. ***

Bagikan: