Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Pemkab Sumedang akan Relokasi Bangunan SDN Cijolang yang Terkepung Proyek Pembangunan Tol Cisumdawu

Adang Jukardi
FOTO udara SDN Cijolang yang terdampak proyek Tol Cisumdawu di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa, 10 September 2019. Hingga saat ini, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di sekolah tersebut karena belum adanya bangunan pengganti yang disediakan pemerintah.*/ANTARA FOTO
FOTO udara SDN Cijolang yang terdampak proyek Tol Cisumdawu di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa, 10 September 2019. Hingga saat ini, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di sekolah tersebut karena belum adanya bangunan pengganti yang disediakan pemerintah.*/ANTARA FOTO

SUMEDANG, (PR).- Pemkab Sumedang tengah memproses lahan baru untuk merelokasi bangunan SDN Cijolang di Dusun Cijolang, Desa Margaluyu, Kecamatan Tanjungsari dari “kepungan” pengerjaan projek tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Meski dikepung proyek tol, kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah itu tetap berlangsung.

Pantauan “PR” di lapangan, posisi bangunan SD tersebut tepat berada di tengah-tengah jalur tol Cisumdawu. Bahkan tanah di pinggiran sekolah itu, nyaris habis dikeruk alat berat projek sehingga permukaan tanahnya berbentuk tebing yang curam dan dalam. Bangunan SD berikut jalan kabupaten posisinya di atas. Sedangkan projek jalan tol berada di bawahnya.

Jika melihat dari dekat, kondisi bangunan SD tersebut membahayakan. Karena kondisi tanah di  pinggiran sekolahnya sudah berbentuk tebing yang curam dan dalam, sehingga rawan longsor ketika musim hujan. Selain itu juga, rawan kecelakaan yang mengancam keselamatan para siswa. Apalagi KBM para siswa dan guru di sekolah itu sampai sekarang masih berjalan.
 

Dampak lainnya, suara bising  pengoperasian alat berat dan polusi debu dari pengerukan dan perataan tanah di lokasi proyek tol. Truk-truk besar di area projek pun, hilir mudik melintasi jalan kabupaten di sana.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Eka Ganjar mengatakan, Pemkab Sumedang melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan sedang memproses pengadaan tanah untuk pembangunan sekolah baru. Tanahnya milik warga yang lokasinya masih di sekitar sekolah tersebut. Jaraknya sekitar ratusan meter dari SDN Cijolang  dan masih di sekitar pemukiman penduduk.

“Pengadaan tanahnya masih berproses. Kini sedang dijajaki kesepakatan harga dengan pemilik tanah. Anggarannya sudah dialokasikan dalam APBD tahun ini. Cuma untuk luasan tanahnya, saya kurang tahu. Kami berharap, bulan ini pengadaan tanahnya selesai. Kalau sudah selesai, kami akan segera mengajukan pembangunan sekolah baru kepada Satker (Satuan Kerja) tol Cisumdawu. Sebab, aturannya Satker yang akan membangun sekolah baru, kami selaku pemilik bangunan sekolah, tinggal menerima bangunan sekolah baru dari Satker,” ujarnya.

Langkah itu diambil pemda, kata dia, karena penanganan bangunan SDN Cijolang bersifat darurat. Tanah sekolah tersebut, tanah wakaf bersengketa di antara  ahli waris pemilik tanah.  Bahkan prosesnya masih terjadi gugatan. Dikarenakan tanah sengketa, sehingga Satker belum bisa membebaskan tanah tersebut.

“Kalau menunggu proses hukum penyelesaian tanah sengketa, pasti sangat lama. Sementara kondisi bangunan SDN Cijolang sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Posisinya berada di tengah-tengah projek jalan tol. Oleh karena itu, pemda segera mengambil langkah dan solusi dengan melakukan pengadaan tanah untuk membangun sekolah baru,” kata Eka.

Ditanya kemungkinan para  siswa di SDN Cijolang dievakuasi ke tempat aman karena kondisi sekolahnya rawan longsor dan kecelakaan imbas pengerjaan projek tol Cisumdawu, Eka mengatakan, hal itu sempat dimusyawarahkan antara pihak sekolah, orang tua siswa dan pihak terkait lainnya. Hasilnya ada dua pilihan. Pertama, belajar siswa dipindahkan sementara ke sekolah lain. Kedua, para siswa tetap bertahan di sekolah itu dengan menjaga keamanan dan kenyamanannya.
 

“Kalau dipindahkan ke sekolah lain, orang tua siswa keberatan karena  jaraknya jauh dari domisi siswa. Oleh karena, yang dipilih opsi kedua. Tetap belajar di sekolah itu dengan menjamin keamanannya.  Dilihat dari bangunannya, sekolah itu cukup aman. Pihak kontraktor pun, sudah memasang seng mengelilingi sekolah  itu untuk menghindari kecelakaan siswa. Sayangnya, seng di belakang sekolah ada yang mencuri. Upaya lainnya, para siswa diberi masker untuk menghindari debu walaupun belum semuanya,” ucapnya.

Lebih jauh Eka menjelaskan, seandainya berbagai upaya itu dinilai masih belum menjamin keamanan KBM siswa, dimungkinkan para siswa dipindahkan  sementara ke sekolah lainnya yang aman. Terlebih kondisi sekolah itu diakui cukup mengkhawatirkan,  berada di tengah-tengah pengerjaan projek tol.

“Namun, karena KBM siswa masih dilaksanakan di sekolah itu, para guru dan kepala sekolahnya harus siaga satu untuk menjaga keamanan para siswanya. Saya juga akan sering  mengecek kondisi sekolah tersebut.  Bahkan pemda pun menaruh perhatian besar terhadap bangunan sekolah itu dan keselamatan para siswanya,” katanya.

Kepala Sekolah SDN Cijolang, Tina Tresnawati kepada wartawan menuturkan, pihak sekolah sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan Disdik, Satker dan komite sekolah membahas relokasi ke bangunan sekolah baru. “Akan tetapi, hasilnya masih menunggu pemda yang sedang mengurus pengadaan tanah sekaligus penganggarannya,” tuturnya.

Karena sekolahnya rawan kecelakaan, bising dan debu, kata dia,  sempat dibahas juga rencana merger sementara ke sekolah lain, seperti ke SDN Sukasari dan SDN Margaluyu. Akan tetapi, karena lokasinya jauh dengan domisili siswa sehingga para orang tua siswa banyak yang keberatan. “Akhirnya dengan terpaksa, belajar siswa tetap  bertahan di sekolah ini. Jumlah siswa di sini  254 orang,” katanya.   

Ketika dikonfirmasi melalui ponselnya, Kepala Satker Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Cisumdawu, Yusrizal Kurniawan belum bisa dihubungi.***

Bagikan: