Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Cerah berawan, 28.1 ° C

Bagi Kesultanan Kanoman, Sura Merupakan Bulan Penuh Mistis

Ani Nunung Aryani
PULUHAN anak yatim mengerumuni Kiai Miftah, sesepuh Pesantren Benda Kerep, Selasa 10 September 2019.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR
PULUHAN anak yatim mengerumuni Kiai Miftah, sesepuh Pesantren Benda Kerep, Selasa 10 September 2019.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR

CIREBON, (PR).- Puluhan anak yatim mengerumuni Kiai Miftah, sesepuh Pesantren Benda Kerep, Selasa 10 September 2019. Begitu mendapat jatah amplop, satu persatu mereka mencium tangan Kiai Miftah yang akrab disapa Kang Miftah.

Kang Miftah pun membalasnya dengan usapan lembut di kepala mereka, sembari menanyakan kabar, atau memberi nasihat atau menanyakan kabar orang tuanya. Sesekali mulut Kang Miftah komat-kamit mendoakan anak-anak tersebut.

Menurut Kang Miftah, setiap 10 Muharam dalam penanggalan hijriah atau suraan, anak-anak yatim bahkan yang bukan yatim atau piatu, datang bersilaturahmi ke rumahnya, di kampung Benda Kerep Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon.

Kampung religi Benda Kerep berlokasi sekitar 8 km dari pusat Kota Cirebon, dan ada di titik paling tinggi di ujung Selatan Kota Cirebon. Lokasi kampung Benda Kerep berada di daerah perbukitan. Untuk bisa mencapai kampung Benda Kerep, warga harus menyebrang sungai selebar 20 meter.

Deretan balok-balok beton besar di dasar sungai dan tali baja yang dibentangkan menjadi alat bantu warga untuk menyeberang, karena tidak ada jembatan.

Sebenarnya, ujar Kang Miftah, isi amplop yang dibagikannya kepada anak-anak tidak banyak, karena hanya sekedar untuk jajan.

Namun menurutnya, esensi dari berbagi kepada anak yatim bukan soal nilai nominalnya, namun lebih kepada niat sedekah atau sodakoh, terutama kepada anak yatim. 

Mengirim bubur

Menurut Kang Miftah, dalam ajaran Islam sedekah, juga menjadi ikhtiar menolak musibah, bencana, kesulitan, dan berbagai macam penyakit.

Kang Miftah kemudian mengutip hadist riwayat Imam Baihaqi,“Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah.”

Selain berbagi dengan anak yatim, tradisi suraan di kampung tradisional religius Benda Kerep yang sudah berlangsung ratusan tahun, juga dirayakan dengan tradisi saling mengirim bubur sura kepada tetangga dan warga sekitar.

Bahkan tetangga yang paling jauh pun, mendapat kiriman bubur sura. “Istri saya sampai membuat sekitar 500 paket bubur sura. Karena satu rumah kadang bisa diberi tiga bahkan lebih, tergantung jumlah anggota keluarganya, “ katanya.

Bubur sura dibuat dari beras, dan tambahan umbi-umbian lainnya yang dimasak dengan santan dan tambahan rempah, sehingga selain rasanya gurih, juga berbau harum khas rempah. 

Disajikan dengan tujuh jenis lauk sebagai taburannya yakni serundeng kelapa, kentang digoreng, bawang goreng, oreg tempe, kacang tanah goreng, irisan telur dadar dan suwiran ayam goreng.

Malam hari

Tradisi suraan di Benda Kerep, sudah dimulai sejak malam hari, sehari sebelumnya. Karena berdasarkan penanggalan hijriah, pergantian tanggal sudah dimulai sejak sore hari bersamaan dengan waktu salat magrib, sehari sebelumnya.

“Malam tanggal 10 Muharam diawali dengan yasinan dan pembacaaan doa menangkal segala bencana atau masyarakat mengistilahkan dengan tolak bala, “ katanya.

Berbagi bubur sura juga menjadi tradisi setiap 10 Muharam di Kesultanan Kanoman. Bagi Kesultanan Kanoman, makna bulan Sura atau Muharram bukan hanya merupakan salah satu bulan yang banyak mengandung kemuliaan dan keutamaan namun juga mistisme.

Menurut Ratu Raja Arimbi Nurtina juru bicara Kesultanan Kanoman, setiap 10 Sura, Keraton Kanoman senantiasa melakukan acara ritual selametan bubur Sura di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon, pada sore hari.

Selametan bubur sura dipimpin oleh Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII atau Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman, diiringi para famili, penghulu, mager sari, abdi dalem dan masyarakat umum.

"Acara ritual selametan bubur Sura ini sudah dilakukan sejak masa Sunan Gunung Jati (Wali Sanga) dan sudah teruji oleh lintasan zaman dan peradaban," katanya.

Waktu khusus

Menurutnya, sebagai bulan pertama dalam mengawali tahun baru baik tahun baru Islam dan tahun baru Saka Aboge Keraton, bulan Suro menjadi waktu khusus dilakukanya acara-acara ritual yang erat kaitanya dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam dan kosmologi dalam hitungan weton dan primbon.

Selain itu, peringatan asyura juga mempunyai keutamaan untuk belajar mengeluarkan sodakoh seperti tanaman hasil bumi.

Arimbi mengungkapkan, acara ritual bubur Sura, juga tidak lepas dari peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam.

Di antaranya, taubatnya Nabi Adam AS kepada Allah, berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, selamatnya Nabi Ibrahin AS dari api hukuman Raja Namrud, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara, Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit, Nabi Musa dan umatnya diselamatkan dari kejaran Fir’aun juga terjadi pada bulan asyura, sampai pada terbunuhnya Sayyidina Husen bin Ali (cucunda Nabi Muhammad SAW) terjadi tepat pada tanggal 10 Sura. 

"Peristiwa bersejarah ini kemudian diperingati dalam sebuah tradisi yang disebut bubur Sura oleh para wali songo khususnya Sunan Gunungjati," jelasnya.***
 

Bagikan: