Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.2 ° C

Ratusan Pusaka Peninggalan Kerajaan Pajajaran Masih Memiliki Tuah

Agus Kusnadi
PROSESI jumasan atau memandikan keris pusaka yang digelar oleh paguyuban pelestarian pusaka di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran dalam memperingati 1 Muharam 1441 Hijriyah.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN
PROSESI jumasan atau memandikan keris pusaka yang digelar oleh paguyuban pelestarian pusaka di Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran dalam memperingati 1 Muharam 1441 Hijriyah.*/AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN

PANGANDARAN,(PR).- Masih dalam rangka memperingati 1 Muharam, paguyuban pelestari tosan aji dan pusaka di Kabupaten Pangandaran menggelar jamasan atau memandikan ratusan pusaka peninggalan.

Menurut Ketua Paguyuban Pelestari tosan dan pusaka, Haryanto, prosesi jumasan ini sudah lama dilakukan di daerah luar Pangandaran seperti di Jawa Tengah. Sedangkan untuk di Pangandaran, baru pertama kali dilakukannya pada tahun 2019 ini

Diungkapkan dia, dalam proses jamasan ada sekitar 500 pusaka yang terdiri berupa keris, tombak dan lainnya yang merupakan peninggalan dari kerajaan Pajajaran, Kecirebonan, Mataram dan ada beberapa peninggalan dari kerajaan Majapahit.

Haryanoto menjelaskan, jamasan pusaka merupakan salah satu cara merawat benda-benda pusaka, benda bersejarah, benda kuno, termasuk benda-benda yang dianggap memiliki tuah. Untuk itu, perlu diperlakukan secara hati-hati, jangan sampai berakibat fatal.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, kata Haryanto, jamasan pusaka menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya dalam waktu tertentu saja yang lazin dilakukan hanya sekali dalam satu tahun yakni pada bulan Suro.

"Oleh karena jamasan pusaka mempunyai makna dan tujuan luhur, kegiatan ini termasuk dalam kegiatan ritual budaya yang dinilai sakral," ungkapnya.

Karya adiluhung

Jamasan berarti memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara. Sebagai suatu wujud rasa berterimakasih dan menghargai peninggalan atas karya adiluhung para generasi pendahulunya kepada para generasi berikutnya. 

Tujuannya adalah orang yang memiliki pusaka tetap mempunyai jalinan rasa, ikatan batin, terhadap sejarah dan makna yang ada di balik benda pusaka. Si pemilik benda pusaka dapat mengingat para pendahulunya yang telah berhasil menciptakan suatu karya seni dan budaya yang mempunyai seabrek nilai luhur.

Sehingga kata Haryanto, jamasan pusaka tidak sekedar membersihkan dan merawat fisik benda pusaka saja, tetapi lebih penting adalah memahami segenap nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam benda pusaka.

"Nilai luhur tidak sekedar diingat-ingat saja, lebih utama perlu dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi aset kekayaan khasanah budaya yang meliputi filsafat dan seni hasil pemberdayaan budipekerti manusia, dalam interaksinya dengan kebijaksanaan tata kosmos," ujarnya kepada wartawan Kabar Priangan, Agus Kusnadi.

Dirinya menegaskan, inti dari semuanya syukur bin nikmat dengan meninggalkan tahun-tahun kebelakang dan berdo'a bersama untuk tahun-tahun kedepannya.

"Semoga kedepannya lebih baik, lebih manunggal dan ditingkatkan keimanan kita. Fiilosofinya keris manjing warangka,warangka manjing curiga.semua simbol filosofinya di tanam di hati kita dan diamalkan di kehidupan antar umat manusia," pungkasnya.***

Bagikan: