Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Kasus DBD di Kabupaten Cirebon Meningkat Enam Kali Lipat, 17 Orang jadi Korban Meninggal

Agung Nugroho
FOTO ilustrasi gigitan nyamuk.*/SCIENCE PHOTO LIBRARY
FOTO ilustrasi gigitan nyamuk.*/SCIENCE PHOTO LIBRARY

SUMBER, (PR).- Perkembangan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Cirebon sepanjang tahun 2019 ini cukup mengejutkan. Terjadi peningkatan jumlah penderita mencapai enam kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Lamanya musim kemarau diduga kuat sebagai penyebab meningkat drastisnya serangan penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini. Sampai memasuki minggu kedua bulan September 2019, tercatat sudah tujuh belas korban meninggal dunia.

Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon hingga Senin, 9 September 2019, temuan kasus DBD ada 1.156. Temuan ini meningkat drastis dibandingkan tahun 2018 yang dalam satu tahun hanya ditemukan 215 kasus.

“Pola serangan mendekati angka DBD tahun 2015 yang mencapai 1.247 kasus. Jika melihat tahun 2019 masih ada empat bulan ke depan, jika tidak dicegah bisa mendekati pola serangan tahun 2016 yang mencapai 1.877 kasus,” tutur  Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes setempat, Sartono.

Fenomena ini dikatakannya cukup mengejutkan sebab di tahun 2017 hingga 2018 sudah terjadi penurunan drastis. Sepanjang dua tahun lalu, tercatat pola serangan DBD sangat rendah, tidak lebih dari 300 kasus dengan korban jiwa yang meninggal di bawah sepuluh orang.

Fenomena aneh, DBD justru meningkat saat kemarau

NYAMUK Aedes aegypti/REUTERS

Menurut Sartono, kecenderungan wabah DBD tahun 2019 juga agak aneh dan merupakan fenomena baru. Biasanya, DBD itu meningkat pada saat musim penghujan, namun tahun 2019 ini malah menunjukan hal berbeda di mana peningkatan justru terjadi saat musim kemarau.

"Umumnya DBD mewabah saat musim hujan, tapi faktanya, selama kemarau terhitung Juni 2019 lalu kasusnya masih muncul, bahkan terus meningkat. Fenomena ini menjadi bahasan serius dan kita terus mengamati apa yang terjadi di lapangan," kata Sartono.

Wabah DBD di musim kemarau ini rupanya tidak hanya terjadi di Cirebon saja, tetapi juga di hampir seluruh daerah di Jawa Barat, bahkan  Indonesia. Fenomena ini tengah diteliti apakah ada hubungan dengan siklus wabah lima tahunan.

"Kalau kita lihat rekam jejaknya, siklus DBD ini mengenal lima tahunan. Ada dugaan tahun ini puncak pengulangan dari siklus lima tahunan tersebut sehingga musim kemarau tidak lantas berarti ada penurunan tingkat serangan," ungkapnya.

Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan pun terus dilakukan seperti fogging dan pemberian obat abate. Upaya pemberantasan melalui menguras, menutup, dan mengubur (3M) juga ditingkatkan di seluruh wilayah, baik di rumah, perkantoran, fasilitas umum, maupun di lingkungan kelas dan sekolah.

Ditambahkannya, upaya pemberantasan bukan saja di daerah endemik, tetapi juga yang belum ada kasus serangan. Hal ini sebagai pencegahan atau mempersempit penyebaran nyamuk penyebab DBD.***

Bagikan: