Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 32.8 ° C

Sistem Kanalisasi 2-1 Akan Diuji Coba Atasi Kemacetan Kawasan Puncak Bogor

Irwan Natsir
KEMACETAN terjadi di jalur Puncak di Gadog, Kabupaten Bogor, Kamis, 6 Juni 2019. Memasuki libur hari kedua Lebaran, wisatawan mulai memadati jalur Puncak.*/ANTARA
KEMACETAN terjadi di jalur Puncak di Gadog, Kabupaten Bogor, Kamis, 6 Juni 2019. Memasuki libur hari kedua Lebaran, wisatawan mulai memadati jalur Puncak.*/ANTARA

CIBINONG,(PR).- Untuk mengurai kemacetan yang terjadi di kawasan Puncak, Kab Bogor, setiap akhir pekan dan hari libur, Polres Bogor sedang mempertimbangkan penerapan sistem kanalisasi 2-1. Akan ada dua jalur kendaraan yang naik serta satu kendaraan yang turun, atau sebaliknya.

Namun, pemberlakuan sistem itu harus melalui kajian dan evaluasi yang mendalam sehingga dalam pelaksanaannya minim resiko dan masalah. Hal tersebut disampaikan Kasat Lantas Polres Bogor, AKP M. Fadli Amri, usai mengadakan pertemuan dengan BPTJ Kementerian Perhubungan, Minggu, 8 September 2019 di halaman masjid Harakatul Jannah, Ciawi, Kab. Bogor.

Menurut dia, persoalan kamacetan di kawasan Puncak sudah menjadi persoalan bersama karena terjadi setiap akhir pekan dan waktu libur. Pada saat-saat tersebut, jumlah kendaraan yang melintasi kawasan Puncak bertambah volumenya dibandingkan hari biasa, sehingga terjadi kepadatan dan kemacetan yang tidak bisa dihindari. Apalagi pada saat liburan, kemacetan yang cukup parah sulit dicegah.

"Selama ini solusi untuk memecah kemacetan yang terjadi di kawasan Puncak adalah diberlakukannya sistem one way, yakni sistem satu arah kendaraan yang melintasi Puncak baik dari arah Ciawi ke Puncak maupun sebaliknya pada hari dan jam yang telah ditentukan," kata Fadli.

SATUAN Lantas Polres Bogor bersama Kementerian Perhubungan melalukan survey di kawasan Puncak untuk mencari solusi atasi kemacetan, salah satunya gagasan sistem kanalisasi 2-1, pada Minggu, 8 September 2019.*/IRWAN NATSIR/PR

Meski sudah memberlakukan sistem one way, pihak Satlantas Polres Bogor bersama Kemenhub masih mencari alternatif dan solusi lain untuk mengatasi kemacetan. Itu dilakukan sambil survey ke lapangan.

"Kita duduk bersama dengan Kementerian Perhubungan untuk melakukan survei langsung di lapangan, untuk melihat kemungkinan ada solusi lain yang bisa diterapkan untuk atasi kemacetan," ujarnya.

Saat pertemuan dan survey itu, sebanyak 150 personel Satlantas Polres Bogor dan 50 personel gabungan BPTJ Kemenhub Taruna STTD diterjunkan langsung di sepanjang jalur Puncak. Mereka dilibatkan langsung agar dapat merasakan bagaimana mengurai kemacetan di jalur Puncak Bogor.

Sistem kanalisasi 2-1 akan segera diuji coba

Menurut Fadli Amri, dari hasil peninjauan langsung melihat kemacetan serta hasil evaluasi, maka muncul gagasan untuk menerapkan sistem kanalisasi 2-1. Sistem kanalisasi 2-1 yakni ada dua jalur kendaraan naik dan satu kendaraan turun, atau sebaliknya. Rencananya, sistem itu diberlakukan dari pos Gadog hingga Puncak Pas sepanjang 22 kilometer.

Jika sistem kanalisasi diberlakukan, maka dibutuhkan personel maupun barrier yang cukup banyak. Kemudian, petugas harus mengoptimalkan jalur alternatif di seputaran Puncak dengan memberdayakan polisi lingkungan warga (polingga) serta mengoptimalkan jalur alternatif Cibubur-Cileungsi-Jonggol untuk mengurangi beban kendaraan yang melintas Puncak.

SATUAN Lantas Polres Bogor bersama Kementerian Perhubungan melalukan survey di kawasan Puncak untuk mencari solusi atasi kemacetan, salah satunya gagasan sistem kanalisasi 2-1, pada Minggu, 8 September 2019.*/IRWAN NATSIR/PR

“Upaya-upaya terus kami lakukan untuk mengurai kemacetan di Puncak. Memang, saat ini rekayasa lalu lintas yang paling baik adalah dengan one way karena sangat efektif memangkas waktu tempuh kendaraan yang melintas. Dengan one way, bisa memangkas hingga setengah dari waktu tempuh kendaraan apabila diberlakukan normal dua arah,” katanya.

Sistem 2-1 akan diujicobakan dalam waktu dekat dan akan dievaluasi bertahap mengenai dampak pergerakan kendaraan dari sisi waktu tempuh maupun keselamatan berkendara. Faktor keamanan pengendara tetap paling penting.

"Jadi, gagasan sistem 2-1 perlu diberlakukan uji coba untuk melihat apa dampak yang terjadi dengan sistem ini, sehingga sebelum betul-betul diberlakukan sudah diketahui masalah yang akan terjadi di lapangan," kata Fadli.***

Bagikan: