Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 28.5 ° C

Menjelajah Satwa, Mendekatkan Masyarakat kepada Museum  Zoologi

Windiyati Retno Sumardiyani
PENGUNJUNG mengamati spesimen satwa endemik di Museum Zoologi Bogor, Minggu 8 September 2019. Memperingati Hari Jadi ke 125, Museum Zoologi Bogor menggelar jelajah satwa untuk mendekatkan anak-anak dengan museum.*/ WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/"PR"
PENGUNJUNG mengamati spesimen satwa endemik di Museum Zoologi Bogor, Minggu 8 September 2019. Memperingati Hari Jadi ke 125, Museum Zoologi Bogor menggelar jelajah satwa untuk mendekatkan anak-anak dengan museum.*/ WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/"PR"

MATA Nanda (15) tampak serius mengamati spesimen Badak Jawa yang terpajang di ruang utama Museum Zoologi Bogor,  Minggu 8 September 2019.  Nanda adalah satu dari puluhan peserta yang turut serta dalam  ajang jelajah satwa yang diselenggarakan  bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam jelajah satwa, Nanda dan kawan-kawannya diminta untuk mengamati  spesimen koleksi  Museum Zoologi  Bogor, dan mengamati beberapa satwa hidup menggunakan peralatan yang umum digunakan para peneliti. Nanda yang baru pertama kali mengikuti jelajah satwa mengaku cukup tertarik dengan kegiatan tersebut. Meskipun hanya  mengamati spesimen, ia mengaku lebih banyak mengetahui keanekaragaman jenis fauna yang ada di Indonesia.

“Ya pokoknya seru, bisa tahu lebih banyak jenis satwa di Indonesia, ada yang sudah punah, kita juga jadi tahu bagaimana cara kerja peneliti,” ujar Nanda saat dijumpai “PR”, di Museum Zoologi Bogor.

Kepala Museum Zoologi Bogor Cahyo Rahmadi mengatakan,  jelajah satwa  menjadi upaya Museum Zoologi Bogor untuk memperkenalkan keanekaragaman hayati khususnya satwa di Indonesia. Anak-anak yang turut serta dalam jelajah satwa diminta melakukan pengamatan spesimen, kemudian  mereka diberi pertanyaan untuk menjelaskan apa yang sudah mereka amati.

“Kita juga ingin mendekatkan anak-anak dengan Museum Zoologi Bogor, kita ingin museum ini bisa menjadi tempat belajar. Selama ini tidak banyak anak-anak sekolah yang mengenal hewan-hewan endemik, yang mereka tahu hanya jerapah, dan lainnya. Padahal Indonesia punya kekayaan satwa yang bisa jadi rujukan,”  ucap Cahyo.

Menurut Cahyo, Museum Zoologi  saat ini memiliki 1.000 lebih  spesimen yang dipajang di ruang pameran museum.  Semua spesimen jenis hewan yang terancam punah, dan keberadaannya semakin jarang ditemui perlu dipamerkan agar pengunjung  bisa lebih sadar untuk lebih mencintai kekayaan alam Indonesia.

Sementara koleksi ilmiah Museum Zoologi mencapai tiga juta spesimen. Beberapa spesimen yang dipajang yakni spesimen mamalia, burung, ikan reptile, amfibi, moluska, spesimen krustakea, serangga, dan spesimen invertebrata lainnya. Dengan banyaknya koleksi spesimen tersebut, Museum Zoologi Bogor dinilai  sebagai museum fauna dengan koleksi ilmiah yang penting di Asia Tenggara. 

“Di sini kita bisa lihat spesimen Badak Jawa yang ditemukan di Garut, sekarang mungkin sudah tidak ada lagi di Garut, atau paus biru, di Asia Tenggara yang punya cuma kita. Ya walaupun hanya bentuk rangka, kita masih bisa lihat paus biru, kalau sekarang mungkin orang lihat paus hanya di televisi saja,” kata Cahyo.

Selain jelajah satwa,  Museum Zoologi Bogor juga menggelar Butterfly race, lomba pengamatan, dan identifikasi langsung koleksi kupu-kupu yang ada di Kebun Raya Bogor.  Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Joeni Setijo Rahajoe mengatakan, butterfly race  merupakan upaya untuk meningkatkan peminatan dan pendataan jenis kupu-kupu di Indonesia, terutama untuk kalangan mahasiswa dan pelajar.

“Di usianya yang 125 tahun, Museum Zoologi Bogor ingin berinteraksi dengan masyarakat dan menciptakan momen perayaan melalui diseminasi hasil-hasil kerja Museum Zoologi Bogor. Kita berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan masyarakat sekaligus mengenalkan fungsi dan peranan MZB  dalam pembangunan Indonesia,” kata Joeni.***

Bagikan: