Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya cerah, 32 ° C

Cirebon Mulai Tidak Aman, Santri Tewas Ditusuk Preman

Ani Nunung Aryani
ILUSTRASI penusukan.*/DOK. PR
ILUSTRASI penusukan.*/DOK. PR

CIREBON, (PR).- Jajaran Polres Cirebon Kota masih memburu preman bertato yang menusuk santri Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kabupaten Kuningan hingga meninggal, Jumat 6 September 2019 malam.

Korban M Rozian (17) ditusuk orang tidak dikenal di kawasan Jalan Cipto Mangunkusumo yang ramai, Jumat sekitar pukul 20.30. 

Santri kelas XII MAN Husnul Khotimah itu, hendak menjemput ibundanya yang datang dari Banjarmasin, untuk menghadiri rapat wali murid di pesantrennya.

Menurut Kapolres Cirebon Ajun Komisaris Besar Roland Ronaldy, meski sejumlah informasi tidak terlalu jelas menggambarkan sosok preman bertato yang membunuh santri asal Banjarmasin itu, namun ia optimis jajarannya bisa secepatnya menangkap pelaku.

"Selain keterangan saksi-saksi, kami masih terus mengumpulkan bukti-bukti tambahan di lokasi kejadian perkara termasuk rekaman CCTV yang berada di sekitar lokasi kejadian," katanya Sabtu 7 September 2019.

Menurut keterangan saksi yang rekan korban, mereka berdua sedang menunggu ibu korban, di seberang toko buku Gramedia. Tiba-tiba datang preman bertato di leher dan anggota badan lainnya.

Gunakan pisau

Dengan modus menuduh korban orang yang telah memukul temannya, preman tersebut langsung menodongkan pisau ke arah korban. 

"Korban yang tidak tahu menahu menyangkal, namun pelaku tetap ngotot menuduhnya," ujarnya.

Melihat temannya terancam, rekan korban berusaha mencari bantuan kepada orang-orang sekitarnya. 

Namun, saat teman korban kembali ke tempat semula, korban sudah tersungkur bersimbah darah sambil memegangi dadanya.

Saat itulah, ibu kandung korban sampai di lokasi dan mendapati anaknya sudah sudah berdarah. Keduanya langsung melarikan korban ke RS Gunung Jati Kota Cirebon. 

"Namun setiba di rumah sakit, nyawa korban tidak tertolong karena kehabisan darah," katanya.

Aksi premanisme yang kembali memakan korban memunculkan gelombang desakan agar aparat bertindak tegas kepada preman bukan hanya sekedar merazia. 

Warga juga mempertanyakan jaminan keamanan bagi warga Kota Cirebon. "Di lokasi pusat keramaian dan terang benderang, serta masih sore saja aksi premanisme terjadi dengan leluasa, bagaimana dengan lokasi yang jauh dari keramaian," ungkap Tuti warga Perumnas Kota Cirebon.

Terbunuhnya salah seorang santri juga memunculkan gerakan solidaritas santri. Di sejumlah grup media sosial beredar undangan silaturahmi dan aksi solidaritas santri, untuk berkumpul Sabtu malam. Undangan ditujukan kepada aktivis, ustad dan pimpinan ormas.

Sementara itu diperoleh informasi, Sabtu sore, jenazah santri sudah sampai kampung halamannya di Banjarmasin untuk dimakamkan.***

Bagikan: