Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Bagian Atas Lereng Gunung Ciremai Kembali Dilanda Kebakaran

Nuryaman
BAGIAN atas lereng Gunung Ciremai kembali diwarnai kepulan asap kebakaran hutan sejak Kamis, 5 September 2019. Kepulan asap kebakaran hutan di lereng gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, kali ini muncul di bagian lereng selatan pada kisaran elevasi antara 2.600 hingga 2.650 meter di atas permukaan laut.*/NURYAMAN/PR
BAGIAN atas lereng Gunung Ciremai kembali diwarnai kepulan asap kebakaran hutan sejak Kamis, 5 September 2019. Kepulan asap kebakaran hutan di lereng gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, kali ini muncul di bagian lereng selatan pada kisaran elevasi antara 2.600 hingga 2.650 meter di atas permukaan laut.*/NURYAMAN/PR

KUNINGAN, (PR).- Bagian atas lereng Gunung Ciremai kembali diwarnai kepulan asap kebakaran hutan. Kepulan asap kebakaran hutan di lereng gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, kali ini muncul di bagian lereng selatan pada kisaran elevasi antara 2.600 hingga 2.650 meter di atas permukaan laut.

Fire Boss dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kuningan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai Agus Yudantara kepada Pikiran Rakyat menyebutkan, satu titik kepulan asap kebakaran itu mulai terlihat muncul pada Kamis, 5 September 2019 sekitar pukul 16.30 WIB.

“Berdasarkan laporan data titik koordinat dari personel yang sekarang berada di sana, titik kepulan asap kebakaran itu berada di ketinggian sekitar 2.650 mdpl sebelah timur jalur Pendakian Palutungan. Namun lokasinya jauh dari jalur pendakian,” tutur Agus Yusantara, yang sedang memantau pergerakan personel di lokasi kebakaran itu melalui radio komunikasi dua arah dari Pos Pendakian Ciramai jalur Palutungan di Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jumat, 6 September 2019.

Ditarik garis lurus dalam peta, tuturnya menjelaskan, jarak antara titik kordinat lokasi sumber kepulan asap kebakaran terebut dengan titik terdekat jalur pendakian dalam elevasi setara tersebut tadi mencapai sekitar 808 meter.

“Berdasatkan hasil pemetaan titik koordinat serta informasi dari tim personel yang sekarang sedang berada di lokasi, titik api sumber kepulan asap itu berada di area hutan banyak tegakan pohon kijamuju. Tepatnya di perbatasan antara zona bagian atas vegetasi hutan rimba pegunungan dengan zona tumbuhan sub alpin,” ujarnya.

Sisa api

Agus menyatakan, titik api kebakaran itu bukan api kebakaran baru. Akan tetapi, diduga kuat apinya bersumber dari sisa-sisa api dari peristiwa kebakaran kawasan lereng puncak Ciremai pertengahan Agustus kemarin yang tidak terpadamkan personel pemadam karena tersembunyi berupa bara pada tunggak-tunggak atau potongan batang pohon.

Dugaan itu antara lain diperkuat dengan hasil pemetaan disertai foto citra satelit area kebakaran Agustus kemarin, juga laporan dari tim personel di lokasi yang memastikan bahwa titik api kebakaran sumber kepulan asap itu, tepat berada di sisi bagian area bekas kebakaran Agustus kemarin. Agus menyebutkan, menyikapi itu BTNGC pada Jumat (6/9/2019) dini hari telah memberangkatkan lima personel menuju lokasi itu mendaki melalui jalur Palutungan.

“Kelima personel yang sekarang sudah berada di lokasi itu, terdiri atas dua orang anggota Pangelola Pendakian Gunung Ciremai Jalur Palutungan dan tiga orang dari kelompok Arban,” katanya.

BAGIAN atas lereng Gunung Ciremai kembali diwarnai kepulan asap kebakaran hutan. Kepulan asap kebakaran hutan di lereng gunung berapi tertinggi di Jawa Barat itu, kali ini muncul di bagian lereng selatan pada kisaran elevasi antara 2.600 hingga 2.650 meter di atas permukaan laut. Kepulan asap mulai terlihat pada Kamis, 5 September 2019.*/NURYAMAN/PR

Dia menambahkan, untuk mempercepat upaya pengendalian dan pemadaman api di lokasi kebakaran itu, Jumat, 6 September 2019 malam, BTNGC akan memberangkatkan lagi sejumlah personel tambahan.

Sementara itu, seperti diberitakan Pikiran Rakyat pada pertengahan Agustus 2019, bagian puncak lereng Gunung Ciremai dilanda kebakaran hebat. Kebakaran hebat berlangsung selama lebih kurang dua minggu itu sampai melalap hampir dua per tiga keliling lereng puncak Ciremai.

Agus Yudantara menyebutkan, luas area terbakar terukur melalui hasil pemetaan dan bantuan foto citra satelit mencapai sekitar 229 hektare. Area terbakar seluas itu melalap aneka tumbuhan khas lereng puncak Ciremai, seperti di antaranya bunga edelweis, cantigi, pelending, rerumputan dan alang-alang.

Di balik itu, sejak kebakaran itu terjadi, hingga saat ini BTNGC pun telah menutup sementara semua jalur pendakian Gunung Ciremai hingga batas waktu belum ditentukan.***

Bagikan: