Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Cerah berawan, 29.9 ° C

Tasikmalaya Punya Dua Jembatan Akar Penuh Pesona

Bambang Arifianto
JEMBATAN akar di Kampung Tanglar, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Jembatan berusia 200 tahun tersebut menjadi salah satu destinasi wisata di Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
JEMBATAN akar di Kampung Tanglar, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Jembatan berusia 200 tahun tersebut menjadi salah satu destinasi wisata di Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

JEMBATAN akar pohon bukan hanya hanya ada di wilayah Baduy, Banten. Kabupaten Tasikmalaya juga punya dua jembatan serupa. Lokasinya berada di Kecamatan Cigalontang. Dengan bonus pemandangan hamparan sawah, keasrian alam, dan keramahan warga, pengunjung bisa menjajal dua jembatan di Tasikmalaya tersebut.

Wartawan Pikiran Rakyat Bambang Arifianto menyambanginya, Sabtu 31 Agustus 2019. Perjalanan dimulai dari Kota Tasikmalaya dengan mengarah ke Singaparna. Butuh waktu sekira sejam untuk tiba di wilayah yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya it dengan menggunakan sepeda motor.

Perjalanan selanjutnya memasuki Jalan Raya Cigalontang dengan berbelok ke kanan dari Singaparna menuju Mangunreja. Plang Jalan Cigalontang jelas terpampang di tepi jalan.

Medan jalan mulai berkelok dan naik-turun hingga tiba di jembatan yang mengarah ke Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang. Selepas menempuh rute mendaki dan menurun, perjalanan berakhir di Kampung Tataru, Desa Tenjonegara.

JEMBATAN akar di Kampung Tataru, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Jembatan akar tersebut menjadi destinasi wisata di Tasikmalaya yang menarik.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

JEMBATAN akar di Kampung Tataru, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Jembatan akar tersebut menjadi destinasi wisata di Tasikmalaya yang menarik.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Jembatan akar Kampung Tataru berada di bawah kampung tersebut. Kaki dilangkahkan menyusuri jalan setapak beralas tanah lantaran kendaraan sudah tak bisa melintasinya. Kendati masih berupa jalan setapak, warga telah menatanya dengan cukup baik.

Mereka membuka undak-undakan sehingga jalan tanah itu mirip tangga. Hanya sekira 7 menit berjalan menuruni lembah dengan hamparan sawah di kanan dan kirinya, jembatan akar terbentang di depan mata.

Meskipun tak terlalu panjang, akar-akar pepohonan saling melilit kuat menjadi landasan warga yang melintas. Di bawahnya, mengalir Sungai Cibangun dengan  batu-batu bertonjolan.

JEMBATAN akar di Kampung Tataru, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Jembatan akar tersebut menjadi destinasi wisata di Tasikmalaya yang menarik.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Iyan Hermansyah (30), warga Tataru mengatakan, jembatan tersebut telah berusia sekira 20 tahun. Awalnya, ada warga yang membuatnya untuk keperluan menyeberang. Jembatan itu memang menjadi penghubung Kampung Tataru di Desa Tenjonegara dan Kampung Kadugede di Desa Sirnaputra.

Selain menggarap sawah, sebagaian warga menggunakannya untuk berziarah ke makam keramat yang berada di dekat area jembatan.

Sementara para pelajar menyeberanginya saat menuju sekolah. Jembatan sebelumnya menggunakan bambu tetapi konstruksinya tidak kuat lantaran kerap terbawa arus sungai ketika meluap atau banjir.

Warga lalu mencari bahan yang lebih kuat. "Sengaja membuat jembatan dengan akar yang direntangkan," ucap Iyan.

Lambat laun, akar dari jenis pohon yang warga sebut karet kebo itu saling melilit erat dan menjadi titian penyeberangan.

Agar lebih nyaman ditapaki, warga memasang bambu sebagai pelengkap landasan jembatan. Kini, beberapa pengunjung dari luar Tasikmalaya mulai menjadikan jembatan akar Kampung Tataru sebagi destinasi wisatanya saat hari libur.

"Ada saja yang datang dari Jakarta atau Bandung," ujarnya.

Jembatan yang lebih tua

Iyan mengatakan, jembatan akar lain juga berada di wilayah Desa Tenjonegara. Jembatan itu dikenal warga dengan nama Jembatan Karees yang berlokasi di Kampung Tanglar dan melintang di atas Sungai Cibangun.

Berbekal petunjuk tersebut, perjalanan dilanjutkan menuju Tanglar yang letaknya tak terlalu jauh dari Tataru dengan memakai sepeda motor.

Sebagaimana Tataru, lokasi jembatan berada di lembah serta harus ditempuh dengan berjalan kaki.

JEMBATAN akar di Kampung Tanglar, Desa Tenjonegara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu 31 Agustus 2019. Jembatan berusia 200 tahun tersebut menjadi salah satu destinasi wisata di Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Jembatan Karees lebih pendek dariJembatan Tataru. Uniknya, titian tersebut lebih mirip gua karena berbentuk ceruk pada badan pohon besar.

Hanya karena sungai yang mengalir di bawahnya, orang bisa tahu itu adalah jembatan akar. Jajang Samsudin (45), warga Tanglar mengatakan, jembatan tersebut telah berusia sekitar 200 tahun.

Ketika dia masih anak-anak, jembatan itu telah ada. Warga, katanya, menyebut jenis pohon raksasa itu sebagai pohon karet areuy.

Fungsi jembatan juga menjadi penghubung Tanglar dengan Kampung Sabelen yang masih masuk wilayah Desa Tenjonegara.

"Orang yang mau ke Ciuyah (Kantor Desa Tenjonegara) berjalan kaki memotong (mencari jalur lebih pendek) lewat sini," tuturnya.

Pengunjung mulai berdatangan dari Singaparna hingga luar Tasikmalaya seperti Ciamis, Bandung, Sumedang, Solo, Jakarta, dan Brebes.

Meski cukup dikenal, informasi keberadaan Karees masih terbatas dan lebih banyak beredar di media sosial.

Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan keberadaan Karees juga belum terlalu maksimal. Walau demikian, promosi yang belum terlalu gencar membuat dua jembatan akar di Cigalontang itu menarik untuk dikunjungi.

Pengunjung bisa menguji nyali melintasinya sekaligus tak perlu khawatir terganggu hiruk pikuk wisatawan bak pasar seperti kebanyakan tempat wisata di Indonesia.***

Bagikan: