Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Lumba-lumba Mati Ditemukan di Karawang, Diduga Terpapar Tumpahan Minyak Pertamina

Dodo Rihanto
BANGKAI lumba-lumba ditemukan nelayan di Muara Sungai Cilebar, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, 17 Agustus 2019.*/DODO RIHANTO/PR
BANGKAI lumba-lumba ditemukan nelayan di Muara Sungai Cilebar, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, 17 Agustus 2019.*/DODO RIHANTO/PR

KARAWANG, (PR).- Nelayan di pesisir utara Karawang menemukan dua kasus kematian lumba-lumba di wilayah tangkapan mereka. Satu lumba-lumba ditemukan mati pertengahan Agustus 2019, satu lumba-lumba lainnya ditemukan sudah membusuk di Pantai Pelangi, Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes, Kamis 5 September 2019.

Perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil, Erik Ramdani menyebut, penemuan bangkai lumba-lumba itu sudah dilaporkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk diverifikasi jenis dan penyebab kematiannya. "Sejak ada insiden kebocoran sumur migas YY-1 Pertamina di lepas pantai Cilamaya, sudah dua lumba-lumba ditemukan mati," katanya, Jumat 6 September 2019.

Bangkai lumba-lumba pertama ditemukan di Muara Sungai Cilebar, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar oleh nalayan yang akan mencari ikan. Sementara itu, bangkai lumba-lumba lainnya sudah terkubur pasir di Pantai Pelangi yang dipenuhi tumpahan minyak mentah.

"Lumba-lumba itu bukanlah ikan, tapi mamalia yang dilindungi negara," kata Erik Ramdani.

BANGKAI lumba-lumba ditemukan nelayan di Muara Sungai Cilebar, Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar, 17 Agustus 2019.*/DODO RIHANTO/PR

Penemuan bangkai lumba-lumba tersebut langsung ditindaklanjuti Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tindak lanjut itu berupa pengambilan sampel bangkai lumba-lumba yang diduga mati karena tumpahan minyak.

"Dugaan sementara, lumba-lumba itu mati saat mengambil udara ke permukaan, kemudian menghirup minyak," ujar Deden Solihin, Pelaksana Satker DKI Jakarta Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serang, Jumat 6 Spetember 2019.

Deden mengatakan, pengambilan sampel bangkai lumba-lumba berdasarkan laporan dan perintah langsung dari Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selama tumpahan minyak menggenangi pantai Karawang, mereka telah mengambil dua sampel bangkai lumba-lumba.

Pertama, kata dia, bangkai lumba-lumba di Desa Pusakajaya Utara, pada 17 Agustus lalu. "Kondisi bangkai lumba-lumba yang ditemukan berikutnya sudah kode 5, yakni komposit rusak. Bangkai itu hanya tinggal rangka dan sisa daging. Kami tadi mengambil kulit, daging, dan tulang," katanya.

Loka Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Serang, kata Deden, akan melakukan uji DNA, histologi, logam berat, dan hidrokarbon. Untuk keperluan tersebut, dibutuhkan waktu sekira satu hingga dua pekan guna mendapat hasil uji laboratorium bangkai lumba-lumba.

Dari hasil pengamatan sementara, Deden menduga bangkai lumba-lumba itu merupakan jenis hidung botol.***

Bagikan: