Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Lolos dari Kemarau, Petani Resah Ada Serangan Ulat

Tim Pikiran Rakyat

ENDI Ruswandi (73), petani padi asal Panawuan, Keluarahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, menunjukan ulat-ulat yang menyerang tanaman padi miliknya.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN
ENDI Ruswandi (73), petani padi asal Panawuan, Keluarahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, menunjukan ulat-ulat yang menyerang tanaman padi miliknya.*/AEP HENDY/KABAR PRIANGAN

GARUT, (PR).- Selama ini Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi di Kabupaten Garut. Bukan hanya lumbung padi, Panawuan juga dikenal sebagai daerah penghasil beras dengan kualitas unggulan sejak puluhan tahun lalu yang di lokal dikenal dengan sebutan beras pandan wangi.

Pada musim kemarau seperti sekarang inipun, lahan sawah yang ada di daerah Panawuan masih tetap menghasilkan. Areal sawah yang ada di daerah tersebut selama ini masih mendapatkan pasokan air yang normal sehingga kemarau tak terlalu menimbulkan dampak.

Namun sayang, sejak sebulan terakhir para petani di daerah Panawuan dilanda keresahan. Hal ini menyusul serangan hama ulat terhadap tanaman padi milik mereka sehingga menimbulkan kerugian yang tak sedikit akibat menurunnya hasil panen.

"Ulat-ulat tersebut secara tiba-tiba muncul dan merusak batang atau cabang pada tanaman padi. Akibatnya banyak tangkai padi yang berguguran," ujar Endi Ruswandi (73), salah seorang petani padi di Panawuan.

Tangkai-tangkai padi yang berguguran tersebut tutur Endi, sudah dapat dipastikan tidak akan bisa dipanen. Padahal jumlah padi yang berguguran itu cukup banyak, paling sedikit dari satu rumpun padi mencapai 40 persennya.

Turun drastis

Endi menerangkan, di daerah tersebut bukan hanya tanaman padi miliknya yang mendapat serangan hama ulat. Ada puluhan hektare sawah milik petani lainnya yang juga mengalami hal serupa. 

Dengan demikian, dipastikan hasil penen padi pada musim panen saat ini di daerah tersebut akan mengalami penurunan drastis dibanding biasanya. Hal ini tentu sangat merugikan para petani.             
  
Endi mencontohkan, pada sawah seluas 200 tumbak yang telah dilakukan panen beberapa hari lalu, hanya mampu menghasilkan padi 7 kwintal. Padahal biasanya dari sawah tersebut rata-rata mampu menghasilkan padi 1,7 ton setiap kali panen.  

Meurutnya, untuk menghilangkan serangan hama ulat tersebut, para petani sudah melakukan berbagai upaya akan tetapi tak membuahkan hasil. Sedangkan untuk dilakukan penyemprotan dengan menggunakan obat hama, hal itu dinilainya tak mungkin mengingat kondisi padi yang sudah berisi bahkan siap untuk dipanen.

Tak ada perhatian

Sejak awal mengetahui kemunculan hama ulat di tanaman padi miliknya tambah Endi, ia dan petani lainnya sudah melaporkannya ke Dinas Pertanian melalui petugas Penyuluh Pertanian dan Kepala Kelurahan. Namun entah apa alasannya, hingga kini sama sekali belum ada tanggapan dari Dinas Pertanian.

"Jangankan datang untuk memberikan solusi, untuk sekedar mengontrol saja tak pernah ada. Para petani di sini sudah benar-benar kesal karena selama ini tak perah ada perhatian dari pemerintah," kata Endi.

Ia menilai, kekesalan para petani di daerahnya terhadap pemerintah sungguh wajar. Saat tanaman padi petani diserang hama tikus pada musim panen sebelumnya, juga sama sekali tak ada perhatian dari pemerintah.            

Akibatnya ungkap Endi, saat itu tanaman padi hampir habis dan sama sekali tak bisa dipanen. Para petani hanya bisa pasrah dengan keadaan seperti itu sambil berharap musim panen selanjutnya tak ada lagi serangan hama baik tikus, ulat, maupun yang lainnya agar mereka tak terus-terusan mengalami kerugian.

Lebih jauh Endi menyampaikan, apabila kondisi seperti ini terus-terusan terjadi, maka tak menutup kemungkinan julukan Panawuan sebagai salah satu lumbung padi serta penghasil beras berkualitas itu ke depannya tak akan ada lagi. Beberapa bulan ini saja produksi padi dari daerah tersebut sudah mengalami penurunan akibat serangan hama tikus dan juga ulat. 

"Jika pemerintah tak segera turun tangan, maka ke depannya tak akan ada lagi julukan lumbung padi dan penghasil beras berkualitas untuk Kampung Panawuan ini," ucapnya kepada wartawan Kabar Priangan, Aep Hendy.*** 

Bagikan: