Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Selain Air Surut karena Kemarau, Sungai Cimulu di Tasikmalaya Juga Dipenuhi Sampah

Bambang Arifianto
SAMPAH memenuhi Sungai Cimulu, Kota Tasikmalaya, Kamis, 5 September 2019. Tumpukan sampah yang mengotori sungai membuat warga yang bermukim di bantaran Cimulu khawatir terserang penyakit.BAMBANG ARIFIANTO/"PR"
SAMPAH memenuhi Sungai Cimulu, Kota Tasikmalaya, Kamis, 5 September 2019. Tumpukan sampah yang mengotori sungai membuat warga yang bermukim di bantaran Cimulu khawatir terserang penyakit.BAMBANG ARIFIANTO/"PR"

TASIKMALAYA, (PR).- Sungai Cimulu di Kota Tasikmalaya dipenuhi sampah ‎setelah debit airnya menyusut di musim kemarau. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga khawatir terserang penyakit lantaran  sungai yang kotor dan berbau tersebut.

Pantauan "PR" titik-titik tumpukan sampah terlihat di bawah jembatan yang berada di antara Jalan Kapten Naseh dan Galunggung, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes.‎ Di lokasi itu, terdapat pintu irigasi yang membagi aliran Cimulu ke sungai utama dan selokan. Permukaan air nyaris tak mengalir atau hanya menggenang. Tumpukan sampah pun memenuhi genangan air berwarna kehitaman plus berbau itu.

Amin (70), warga Jalan Kapten Naseh, Kelurahan Panglayungan, Kecamatan Cipedes menuturkan, sampah-sampah bermunculan setelah kemarau melanda Kota Tasikmalaya. "Teu paralid (sampah tak terbawa aliran air)," kata Amin di lokasi tersebut, Kamis, 5 September 2019.

Jika hujan atau debit air normal, sampah-sampah itu terbawa arus sungai sehingga tak menumpuk. Keadaan sebaliknya terjadi ketika kemarau. Amin mengungkapkan, sampah-sampah itu memang dibuang sejumlah warga. "Ada yang membuang sambil melintas jalan dengan menggunakan sepeda motor," ucapnya.

Letak sungai yang berada di tepi jalan serta di bawah jembatan memudahkan pengguna motor melemparkan sampah-sampah yang dibungkus keresek tanpa perlu menghentikan laju kendaraannya. Amin juga menunjukkan langsung keresek-keresek yang memenuhi badan sungai. 

Praktik buang sampah sembarangan itu biasanya berlangsung dini hari. Tak hanya pengendara, para pelaku lain diduga merupakan warga yang bermukim di sekitar sungai.

Cimulu memang diapit pemukiman yang terbilang padat. Sebelum terhimpit bangunan-bangunan Kapten dan Galunggung, Cimulu juga melintasi deretan pemukiman di Jalan Bantar dan Ampera. Warga-warga di sana ditengarai masih membuang sampahnya ke Cimulu. Amin tak menampik, ada warga Kapten Naseh di tempat tinggalnya yang juga berperilaku serupa. Namun, hal itu dilakukan sekali-kali alias tak sering. "Paling sekeresek," ucapnya.

Amin berharap pemerintah turun tangan mengatasi persoalan itu. Apalagi permukaan air terus menyusut hingga 30-40 centimeter. Sepengetahuan Amin, Cimulu memang tak pernah dikeruk oleh pemerintah. Padahal sungai itu pernah jernih dan dijadikan tempat berenang warga. Amin masih ingat, Cimulu masih dalam kondisi bersih pada 1979. Memasuki 1990-an, air sungai mulai kotor seiring dengan makin banyaknya pemukiman warga.

Hal senada dikemukakan warga Kapten Naseh lainnya, Tatang (37). Ia mengungkapkan, pembersihan sampah hanya dilakukan dengan cara membuka pintu irigasi agar sampah yang menumpuk bisa terbawa arus. Tetapi pengerukan tak dilakukan.

Tatang menduga, pengerukan sulit dilakukan lantarana akses masuk alat berat atau kendaraan ke area sungai tak mudah. Deretan permukiman warga yang menghimpit sungai hanya menyisakan gang-gang sempit yang susah dimasukin kendaraan-kendaran berukukuran besar. Meski demikian, ia juga meminta pemerintah memperhatikan permasalahan tersebut. Ini karena, warga sekitar sungai khawatir kotornya Cimulu berdampak buruk terhadap kesehatan mereka. Selain menjadi habitat nyamuk, lalat juga banyak bermunculan dan mengganggu warga.

"PR" mencoba menyusuri Cimulu ke arah hilirnya. Lagi-lagi permukiman padat menjamur di bantaran sungai. Sampah rupanya bertebaran pula di aliran Cimulu di  Kampung Tawangkulon, RT 1 RW 2 Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Tawang. "Penuh (sampah) sekali," kata Rizky Anugerah (27), warga Tawangkulon.

Dikatakannya, persoalan sampah sudah lama terjadi di Cimulu. Namun, saat kemarau kondisinya bertambah parah karena tumpukannya membuat air berbau. Bau dirasakan Rizky ketika pagi dan siang hari. "Bau aroma cubluk," ujarnya. 

Ia mengatakan, sampah-sampah yang masuk sungai merupakan limbah rumah tangga. "Rata-rata di sini (warga) tidak memiliki tempat pembuangan sampah," ucapnya.

Tak pelak, membuang sampah ke sungai pun menjadi pilihan sejumlah warga. Sekarang, ia pun khawatir kesehatan keluarganya terganggu dengan kotornya Cimulu oleh sampah. "Saya juga punya anak kecil, nyamuk juga banyak," kata Rizky menjelaskan kekhawatirannya.‎

Selain sampah, lanjutnya, Cimulu juga mengalami pendangkalan. Rizky mencontohkan, batu besar di belakang rumahnya yang tergeletak di badan sungai sudah tak terlihat lagi karena pendangkalan. Padahal, batu itu masih nampak ketika dirinya masih kanak-kanak. Ia pun berharap pemerintah bisa melakukan pengerukan sampah dan sedimen pendangkalan sungai serta memberikan edukasi agar warga menjaga kebersihan dan kelestarian Cimulu.***

Bagikan: