Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Cerah berawan, 21 ° C

Perusahaan Dump Truck Penyebab Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang Diduga Ikut Bertanggung Jawab

Hilmi Abdul Halim
KEPALA Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko, dan Kepala Polres Purwakarta, Ajun Komisaris Besar Matrius, menggelar konferensi per di Markas Polisi Resor Purwakarta, Rabu, 4 September 2019. Kepolisian menetapkan dua sopir truk, DH dan S, sebagai tersangka penyebab kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 91 arah Jakarta pada Senin, 2 September 2019.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
KEPALA Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko, dan Kepala Polres Purwakarta, Ajun Komisaris Besar Matrius, menggelar konferensi per di Markas Polisi Resor Purwakarta, Rabu, 4 September 2019. Kepolisian menetapkan dua sopir truk, DH dan S, sebagai tersangka penyebab kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 91 arah Jakarta pada Senin, 2 September 2019.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Perusahaan pemilik dump truck yang menyebabkan tabrakan beruntun di Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang kilometer 91, Senin, 2 September 2019, pernah melanggar aturan batas muatan maksimum. Saat ini, polisi baru menetapkan sopir truk sebagai tersangka karena dinilai lalai.

Truk milik perusahaan asal Jakarta itu terjaring razia rutin yang dilakukan Dishub, Agustus tahun lalu. "Sudah dilakukan penindakan oleh polisi dan itu sudah dikasih (garis) batas muatan di dalam truknya itu," kata Koordinator Penguji Kendaraan Bermotor Dishub Jawa Barat Enjang Kusmana, Rabu, 4 September 2019. 

Ia belum bisa menyimpulkan bahwa perusahaan berinisial J itu adalah perusahaan nakal. Akan tetapi, berdasarkan hasil penyelidikan tim gabungan polisi dan seluruh instansi pemangku kebijakan mengakui kedua truk mengangkut tanah di atas kapasitas seharusnya saat kejadian.

Dalam konferensi pers di Markas Polisi Resor Purwakarta, tabrakan yang melibatkan 20 kendaraan dan menewaskan delapan orang itu disebabkan oleh kelalaian manusia. Tak hanya sopir, kelalaian juga diduga dilakukan oleh manajemen perusahaan terkait.

Kelalaian yang dilakukan sopir ialah mengemudi dalam kecepatan tinggi. Hal itu dibuktikan dengan kondisi perseneling truk yang dikemudikan S berada di gigi lima setelah kecelakaan.

Enjang menilai kecelakaan tersebut juga dipengaruhi kondisi truk yang kelebihan muatan. "Seharusnya hanya 12 ton. Sementara dari hasil pemeriksaan ternyata berat totalnya sampai 37 ton. Berarti tiga kali lipat (dari batas maksimal)," tutur Enjang.

Penetapan tersangka

Sementara itu, penetapan tersangka diumumkan langsung oleh Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Barat Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko. "Kami menetapkan dua tersangka yaitu DH dan S pengemudi truk tanah," katanya.

Penetapan tersebut berdasarkan kesimpulan dalam forum diskusi bersama seluruh pemangku kepentingan pada hari yang sama. Trunoyudo menegaskan penanganan kasus tersebut telah dilakukan secara komprehensif.

Pada jumpa pers kali ini, Trunoyudo menjelaskan kembali kronologi tabrakan yang melibatkan 20 kendaraan dan menewaskan delapan orang. Menurutnya, tabrakan dipicu oleh truk pasir yang terguling akibat tak mampu dikendalikan oleh DH.

Truk yang terguling menutupi sebagian besar badan jalan sehingga kendaraan lainnya berhenti. Namun, truk sejenis yang dikendarai tersangkanya S juga mengalami kegagalan fungsi rem.

"Truk tersebut menabrak 18 kendaraan dari belakang menyebabkan tabrakan beruntun," ujar Trunojoyo.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Polres Purwakarta Ajun Komisaris Besar Matrius menegaskan kedua tabrakan itu disebabkan oleh faktor kelalaian manusia. Berdasar keterangan para saksi termasuk tersangka dan barang bukti menunjukkan kedua kejadian saling berkaitan.

Akan tetapi, status tersangka DH gugur secara hukum karena yang bersangkutan meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Sementara itu, tersangka S terancam hukuman penjara maksimal enam tahun.

"Untuk tersangka dikenakan pasal 310 undang-undang nomor 22 tahun 2019 tentang lalu lintas dan angkutan jalan raya junto pasal 359 dan 360 KUHP," kata Matrius. Saat ini, tersangka ditahan di Mapolres Purwakarta.***

Bagikan: