Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Harga Tomat di Majalengka Merosot Tajam

Tim Pikiran Rakyat
HARGA tomat di pasaran anjlok karena panen raya membuat stok berlebih, tapi penjualan di pasar pun lesu.*/TATI PURNAWATI/KC
HARGA tomat di pasaran anjlok karena panen raya membuat stok berlebih, tapi penjualan di pasar pun lesu.*/TATI PURNAWATI/KC

MAJALENGKA, (PR).- Sejumlah petani di Majalengka mengeluhkan harga tomat yang terus merosot hingga mencapai Rp800 per kg. Hasil panen pun tak lagi mampu menutupi biaya produksi yang sudah dikeluarkan oleh para petani. Akibatnya, sebagian petani malah membiarkan tanamannya mengering dan buahnya tidak dipetik.

Merosotnya harga jual tomat, menurut keterangan para petani, sudah berlangsung lebih dari sebulan. Kondisi tersebut diduga akibat terjadi panen raya di hampir semua wilayah hingga harga pun anjlok tak terkendali.

Karena harga yang murah, sebagian petani membebaskan warga untuk memetik sendiri di kebun. Bila tomat dipanen dan menjualnya sendiri, petani merasa justru akan lebih menderita kerugian yang semakin besar.

“Dengan harga Rp800 per kg, ruginya lumayan besar. Sekarang biaya metik saja sudah mencapai Rp40.000 untuk setengah hari, itu belum makanan ringan. Setelah dipetik, tomat harus dipak dengan peti, harga satu peti mencapai Rp5.000. Itu belum ditambah ongkos pengepakan dan paku yang pengerjaanya dilakukan oleh laki-laki,” ungkap Tarmad, petani di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura.

Apalagi, jika memperhitungkan ongkos produksi seperti pupuk yang harganya mencapai Rp60.000 per 50 kg ditambah insektisida, fungsisida, dan lain-lain. Malah, pemeliharaan tanaman tomat harus rutin dilakukan setiap hari.

Jadi, menurutnya, karena harga murah, banyak tanaman yang tidak dipelihara. Tanaman tidak disiram dan dipetik setelah menjelang matang.

Hal yang sama disampaikan Ita, petani lainnya. Kebun tanaman tomatnya yang mencapai luas 200 bata dibebaskan untuk dipetik warga. Menurutnya, panen tomat masih butuh pengolahan yaitu menyortir barang dengan memilah ukuran tomat yang membutuhkan 2-3 pekerja.

Ojo, petani di Lemahputih, Kecamatan Lemahsugih, mengatakan, biaya tanam palawija di wilayahnya lebih besar dibanding di wilayah Argapura. Alasannya, sebelum ditanam, mereka  harus membuat lubang untuk menanam dan dibubuhi pupuk kandang.

“Jadi kalau petani lain bilang rugi, apalagi petani di wilayah kami. Dengan diberi harga murah, kerugian semakin tinggi,” kata Ojo, kepada Tati Purnawati dari Kabar Cirebon.

null

Harga murah, tetapi pembelian tetap lesu

Murahnya harga tomat ini diakui para pedagang di Pasar Majalengka. Harga tomat di pasaran kini hanya mencapai Rp4.000 per kg. Malah untuk tomat TR atau torolok, harganya hanya Rp2.000 per kg. Sedangkan tomat TW atau ukuran besar yang baru di petik atau baru datang, harganya mencapai Rp8.000 per kg.

Namun, menurut Didi, pedagang grosir sayuran, meski harga murah tapi penjualan justru sangat lesu. “Ayeuna mah pangaos murah tapi ngicalna ge lesu, malah pangaos awis karang ngisal sae. Tomat TW nu balanjaan kamari diical Rp4.000 ge nambru can ka ical (Sekarang harga murah tapi menjual juga sulit, penjualannya lesu. Malah dengan harga tinggi penjualan bsia bagus. Tomat TW belajaan kemari dijual seharga Rp 4.000 saja per kg masih menumpuk belum laku terjual),” ungkapnya.

Sejumlah petani pun berharap pemerintah bisa memperhatikan petani palawija, seperti halnya perhatian terhadap petani padi di dataran rendah. Bentuk perhatian bisa dengan subsidi bibit, pengolahan, atau bentuk lainnya. “Saya dengar petani padi suka ada perhatian, kami juga berharap perhatian terhadap petani palawija,” kata Ojo.***

Bagikan: