Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

Abrasi Ancam Kehidupan Nelayan Indramayu

Gelar Gandarasa
WARGA beraktivitas di sekitar Pantai Dadap, Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Kamis 5 September 2019. Kawasan tersebut merupakan salah satu yang tergerus oleh abrasi.*/GELAR GANDARASA/PR
WARGA beraktivitas di sekitar Pantai Dadap, Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Kamis 5 September 2019. Kawasan tersebut merupakan salah satu yang tergerus oleh abrasi.*/GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Abrasi yang menggerus sebagian pantai di Kabupaten Indramayu dikeluhkan para nelayan. Abrasi membuat kehidupan nelayan menjadi terganggu. Pemerintah pun diminta untuk segera turun tangan mengatasi persoalan lingkungan tersebut. 

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto mengatakan bahwa abrasi hampir mengikis seluruh pantai yang ada di Indramayu. Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh para nelayan. Tak jarang nelayan yang bermukim di dekat pesisir pantai merasakan dampak rob. Selain itu, saat ini juga rumah mereka terus tergerus abrasi sehingga mereka harus kehilangan tempat tinggal. 

"Untuk membangun kembali rumah kan membutuhkan biaya besar. Belum lagi lahannya hilang tergerus abrasi," kata Dedi, Kamis 5 September 2019.

Abrasi terjadi karena ketiadaan tanaman atau objek di pesisir pantai. Hal itu juga mengakibatkan benih-benih ikan berkurang karena ikan tak memiliki tempat berkembang biak. Ekosistem yang baik pun tak tercipta akibat minimnya tumbuh-tumbuhan di pesisir. 

Jika sudah begitu, otomatis pendapatan para nelayan berkurang akibat turunnya jumlah tangkapan. "Nelayan seringkali kesulitan dalam mencari ikan. Jadi mereka harus mencari ke wilayah lain untuk mendapatkan ikan," ungkapnya.

Dedi meminta agar pemerintah turun tangan mengatasi persoalan abrasi yang melanda pesisir Indramayu. Apalagi abrasi di Indramayu sudah terjadi puluhan tahun. Jika terus dibiarkan, dikhawatirkan dataran pesisir akan semakin tergerus dan berdampak pada masyarakat luas. 

Abrasi yang melanda pesisir Indramayu sudah menjadi perhatian sejak dahulu. Kepala Bidang Perikanan Budaya Dinas Perikanan dan Kelautan Indramayu Edi Umaedi mengatakan, dari 147 kilometer panjang pantai Indramayu, 42,6 kilometer di antaranya tergerus abrasi.

Dia menambahkan, saat ini persoalan abrasi bukan lagi menjadi wewenang pemerintah daerah. "Daerah tidak berwenang. Radius 0-12 kilometer kini dikelola pemerintah provinsi," ungkapnya. 

Kendati demikian, Pemkab Indramayu tak tinggal diam. Sejauh ini proses pendataan abrasi terus dilakukan. Data tersebut nantinya akan diusulkan untuk mendapatkan perbaikan segera. Adapun wilayah abrasi di antaranya ada di Dadap, Tegal Agung, Krangkeng, Eretan dan Ujunggebang. "Sudah kami usulkan. Rencananya pada 2020 nanti Dadap akan mendapatkan penanganan," katanya.***

Bagikan: