Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Umumnya berawan, 28.1 ° C

Tolak Bala, Warga Cemarajaya, Karawang Tanam Kepala Kerbau di Halaman Kantor Desa

Dodo Rihanto
WARGA Desa Cemarajaya, Karawang mengarak dan menanam kepala kerbau di halam kantor desa setempat untuk mencegah meluasnya bencana tumpahan minyak dan abrasi pantai, Rabu, 4 September 2019.*/DODO RIHANTO/PR
WARGA Desa Cemarajaya, Karawang mengarak dan menanam kepala kerbau di halam kantor desa setempat untuk mencegah meluasnya bencana tumpahan minyak dan abrasi pantai, Rabu, 4 September 2019.*/DODO RIHANTO/PR

KARAWANG, (PR).- Di tengah masih berlangsungnya terjangan minyak mentah, Warga Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, menggelar ritual hajat bumi sebagai cara menolak musibah. Mereka mengubur kepala kerbau dan kepala kambing di halaman kantor desa yang sebelumnya diarak keliling kampung. 

"Melalui ritual ini, kami harap segala musibah termasuk abrasi dan tumpahan minyak hilang. Ritual ini juga bermaksud untuk mensyukuri segala berkah hasil bumi yang diberikan Tuhan," kata Kades Cemarajaya, Yonglim Supardi (49), saat dihubungi, Rabu, 4 September 2019. 

Menurutnya, ritual hajat bumi dilakukan tiga tahun sekali. Namun, ritual hajat bumi tahun ini, agak spesial karena warga Cemarajaya, banyak yang kena musibah. "Ada yang rumahnya hancur, ada yang usahanya terganggu," ujar Yonglim.

Sementara itu, salah seorang warga Cemarajaya, Warti (50) mengaku, dirinya kehilangan rumahnya karena dihantam abrasi pada Jumat malam lalu. Saat itu, gelombang pasang air laut menerjang rumahnya hingga beberapa bagian roboh. Dia pun terpaksa mengungsi ke desa tetangga. "Kami disediakan rumah kontrakan oleh Pertamina. Semuanya gratis," kata Warti. 

Nasib yang sama menimpa Isem (52). Perempuan yang sudah 30 tahun tinggal di Pantai Pisangan, Cemarajaya itu harus mengungsi karena rumahnya pun terkena abrasi. Kondisi itu diperparah karena gelombang laut pasang membawa serta gumpalan minyak mentah. 

Rumah Isem pun kebanjiran minyak mwntah, tiga hari lalu. "Saya dan suami sepakat pindah karena rumah kami sudah tak nyaman," katanya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Karawang terus verifikasi warga terdampak tumpahan minyak. Tim verifikasi yang diketuai sekretaris daerah setempat mengintruksikan para kepada desa dan kepala dusun untuk menlakukan pencocokan data dengan cara door to door.

Dengan cara itu, diharapkan tidak ada warga terdampak yang lolos mendapatkan kompensasi dari Pertamina. "Selain warga terdampak langsung tumpahan minyak, kami juga mendata pelaku usaha yang juga terkena imbas musibah itu. Misalnya, para pemilik warung di objek wisata pantai yang tutup kerena pantai sepi pengunjung. Mereka juga ikut kehilangan mata pencaharian," ujar Ketua Tim Verifikasi yang juga Sekda Karawang, Acep Jamhuri..

Menurutnya, Pemkab Karawang akan terus mengawal proses penyaluran kompensasi dan pemulihan lingkungan, hingga kondisi pantai normal seperti sebelum ada bencana. "Pemkab tidak menuntut macam-macam kepada Pertamina. Yang penting warga terdampak terlindungi dan lingkungan hidup kembali normal," katanya.***

Bagikan: