Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Jalur Pendakian Gunung Ciremai Tidak Akan Dibuka Sebelum Kemarau Berakhir

Nuryaman
SALAH satu dari empat personel tim penumpas api sumber kepulan asap kebakaran di bagian atas lereng timur Gunung Ciremai sedang menumpas satu titik bara api di ketinggian sekitar 2.300 mdpl, Kamis 22 Agustus 2019) siang.*/DOK.BTNGC
SALAH satu dari empat personel tim penumpas api sumber kepulan asap kebakaran di bagian atas lereng timur Gunung Ciremai sedang menumpas satu titik bara api di ketinggian sekitar 2.300 mdpl, Kamis 22 Agustus 2019) siang.*/DOK.BTNGC

KUNINGAN, (PR).- Empat jalur pendakian Gunung Ciremai yang ditutup Balai Taman Nasional Gunung Ciremai sejak tanggal 7 Agustus 2019, dipastikan tidak akan dibuka kembali sebelum musim kemarau ini berakhir. Atau setidaknya menunggu hingga pascakemarau, hingga kawasan gunung tersebut sudah mendapat guyuran hujan.

Hal itu tersirat dari keterangan Kepala BTNGC Kuswandono, Selasa, 3 September 2019, menjawab pertanyaan “PR” terkait rencana atau perkiraan kapan jalur-jalur pendakian menuju puncak Ciremai akan dibuka kembali untuk pelayanan wisata pendakian. Hal ini menyusul banyaknya kalangan pendaki gunung, baik perorangan maupun komunitas yang mengungkapkan pertanyaan tersebut terutama di media sosial.

“Menunggu ada hujan, agar situasi debu dan bekas kebakaran aman bagi pendaki. Sekarang situasi sangat kering, berdebu, rawan kejeblos  (terperosok) pada titik-titik bekas kebakaran dan sangat rawan terbakar kembali,” ujar Kuswandono.

Di samping demi keamanan pendaki dan demi menjaga keamanan flora dan fauna dari ancaman kebakaran, Kuswandono menjelaskan, penutupan sementara Ciremai dari kehadiran pendaki juga untuk memberikan kesempatan alam Ciremai untuk melakukan pemulihan diri dari kerusakan akibat kebakaran Agustus kemarin. “Kita beri kesempatan alam Gunung Ciremai melakukan penyembuhan diri,” ujarnya.

Pembenahan sistem pendaftaran

Sambil menunggu kepastian kapan jalur-jalur pendakian Ciremai dibuka kembali, tuturnya, BTNGC bersama kelompok-kelompok masyarakat pengelola jalurnya sekaligus akan melakukan juga pembenahan mekanisme sistem booking (pemesanan) pendakian beserta kelengkapan pendukungnya. Terkait hal itu, sebelumnya Kuswandono kepada “PR” menyebutkan, BTNGC telah merencanakan akan menerapkan pendaftaran dan pelayanan pendakian Gunung Ciremai melalui sistem booking online.

Diketahui, gunung berapi tertinggi di Jawa Barat yang berdiri di perbatasan wilayah Kabupaten Kuningan dengan Kabupaten Majalengka berketinggian sekitar 3.078 meter di atas permukaan laut  itu memiliki empat jalur pendakian. Tiga jalur di Kabupaten Kuningan, terdiri atas jalur Linggajati di Desa Linggajati dan Jalur Linggasana di Desa Linggasana, Kecamatan Cilimus, serta jalur Palutungan di Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur. Satu jalur lainnya adalah Jalur Apuy di Dusun Apuy, Desa Argalingga, Kecamatan Argamukti, Kabupaten Majalengka.

Sebagaimana diberitakan, menyusul terjadinya kebakaran di lereng kawasan puncak Ciremai Agustus 2019, ke empat jalur pendakian gunung tersebut terhitung mulai tanggal 7 Agustus 2019 langsung ditutup BTNGC dengan batas waktu tidak ditentukan. Penutupan sementara layanan dan aktivitas pendakian itu, ditetapkan Kuswandono melalui pengumuman resmi Nomor PG.18/T.33/TU/KSA/8/2019 tentang Penutupan Jalur Pendakian Taman Nasional Gunung Ciremai.***

Bagikan: