Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

Ingin Tumbuh Sebagai Laki-laki Seutuhnya, Aimar Butuh Bantuan Operasi karena Kelamin Ganda

Shofira Hanan
AIMAR (3,5) sedang bermain di halaman rumahnya, di Kecamatan Haurwangi, Rabu, 4 September 2019. Walaupun secara fisik terlihat normal, Aimar memiliki kelamin ganda dan memerlukan operasi pemisahan alat kelamin agar kondisi tersebut tidak dibiarkan hingga dia dewasa.*/SHOFIRA HANAN/PR
AIMAR (3,5) sedang bermain di halaman rumahnya, di Kecamatan Haurwangi, Rabu, 4 September 2019. Walaupun secara fisik terlihat normal, Aimar memiliki kelamin ganda dan memerlukan operasi pemisahan alat kelamin agar kondisi tersebut tidak dibiarkan hingga dia dewasa.*/SHOFIRA HANAN/PR

KEINGINAN seorang bocah untuk menjadi seorang anak laki-laki yang sempurna secara fisik masih belum terwujud. Apa daya, sejak lahir ia memiliki kelamin ganda dan bahkan penisnya tidak memiliki lubang untuk mengeluarkan air kencing.

Aimar Qolbi Rajabi (3,5), itulah nama bocah yang memiliki cacat sejak bawaan lahir. Aimar yang berasal dari Kampung Mareleng, Desa Kertamukti, Kecamatan Haurmukti, sudah dinyatakan sebagai laki-laki sejak lahirnya.

Namun, putra ketiga dari pasangan Iyan Kustian (46) dan Ida Rosida (37) itu bukan hanya memiliki penis, tapi juga vagina. Bahkan, alat kelamin perempuan pada tubuh Aimar cenderung lebih berfungsi.

”Dokter yang pernah memeriksa anak saya juga bilang, kalau untuk buang air kecil hanya bisa dari vagina karena tidak ada lubang kencing di penisnya,” ujar Ida ketika ditemui di kediamannya di Cianjur, Rabu, 4 September 2019.

Ida menyatakan, ia membesarkan Aimar dengan pola asuh anak laki-laki. Namun, seiring bertambahnya usia, Aimar mulai menyadari adanya perbedaan pada tubuhnya. Namun, berkali-kali mengaku ia menyatakan tidak ingin menjadi perempuan dan lebih menyukai untuk tumbuh sebagai laki-laki.

Ida pun kemudian memeriksakan kembali putranya. Menurut dokter, Aimar menderita Hipospadia atau kelainan pada lubang kencing yang tidak terletak di ujung kepala penis. Selain itu, Aimar juga mengalami kelainan Undescended Testis (UDT) atau kondisi penis yang tidak berada dalam kantung pelir (skrotum). Hal itu biasanya terjadi pada bayi laki-laki dengan umur kehamilan yang kurang cukup.

”Aimar memang lahir waktu usia kehamilan saya 38 minggu, harusnya kan 40 minggu. Saya dirujuk ke RS Hasan Sadikin (RSHS) untuk penanganan lebih lanjut setelah dapat diagnosa dokter itu,” ujar dia.

Di RSHS, Aimar menjalani cek kromosom pada pertengahan Agustus 2019. Tes itu dapat menjadi dasar dilakukannya operasi untuk menentukan apakah Aimar laki-laki atau perempuan. Pasalnya, dikhawatirkan jika bocah itu tumbuh menjadi perempuan meskipun tidak memiliki rahim.

AIMAR dengan ibunya, ida Rosida.*/SHOFIRA HANAN/PR

Pengobatan Aimar tertunda lama karena kendala biaya

Ida dan suami kemudian mencoba meminta bantuan kepada pihak puskesmas terdekat. Namun, tenaga medis di sana menyatakan bahwa puskesmas itu tidak memiliki program bantuan operasi kelamin. Tak berhenti di sana, Ida pernah membawa Aimar ke pengobatan alternatif hingga mengusahakan untuk mendapatkan BPJS tak berbayar bagi sang putra.

Ia menyatakan harapannya agar beberapa biaya pengobatan untuk anaknya bisa ditanggung oleh BPJS. Sayangnya, Ida harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan fasilitas BPJS tak berbayar dengan berbekal surat keterangan tidak mampu (SKTM). Karena itulah, pengobatan untuk Aimar jadi tertunda lama.

”Karena (uang) dari mana lagi, saya cuma jualan gorengan dan suami kerja serabutan. Sementara, kalau nanti harus operasi, biaya yang dibutuhkan lebih besar karena Aimar harus menjalani tiga kali operasi sampai tuntas,” ujar Ida.

Oleh karena itu, ia pun berharap ada pihak yang bersedia memberikan bantuan pengobatan untuk putranya. Terlebih, Aimar kini semakin kritis dan bersikeras untuk menjalani operasi supaya menjadi laki-laki seutuhnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Cipeyeum, Kankan Sumpena, mengatakan, kondisi Aimar dapat dikatakan belum mendesak. Hanya saja, saat ini, bocah itu tengah memasuki tahap palis pada tahapan perilaku psikoseksualnya.

“Mereka akan memperhatikan alat kelamin mereka sendiri. Apalagi saat ini Aimar ada di usia yang sedang masanya toilet training,” ucapnya.

Karena itulah, operasi kelamin itu dinilai perlu untuk dilakukan segera agar bocah tersebut tidak minder atau kebingungan akan kondisi tubuhnya sendiri. Sejauh ini, penanganan Aimar dari puskesmas hanya sekedar rujukan atau rekomendasi kepada pihak terkait.

Kankan mengatakan, upaya penanganan bocah itu tidak bisa ditanggung oleh satu pihak saja, terlebih kondisi Aimar saat ini terbilang langka. Ia juga menyatakan harapannya supaya banyak pihak yang bersama-sama membantu.

”Kami juga mencari-cari informasi penanganan kelamin ganda, tapi memang jarang bantuan seperti itu. Soalnya, cacat bawaan seperti itu memang langka, makanya bantuan dari yayasan-yayasan juga susah ditemukan,” ujar Kankan.***

Bagikan: