Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Ekspor Kerajinan Tangan Bogor Lesu

PERAJIN memproduksi batik tulis Bogor dengan pewarna alami di Kampung Batik Cibuluh, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa, 27 Agustus 2019.*/ANTARA
PERAJIN memproduksi batik tulis Bogor dengan pewarna alami di Kampung Batik Cibuluh, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa, 27 Agustus 2019.*/ANTARA

BOGOR, (PR).- Eskpor kerajinan tangan buatan Industri Kecil Menengah (IKM) Kota Bogor masih lesu. Dari 4000 industri kecil menengah di Kota Bogor, kurang dari 10  produk kerajinan tangan yang mampu bersaing di pasar internasional.

Kondisi tersebut diakui Ketua Umum Asosiasi Ekportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) pusat Muchsin Ridjan seusai membuka pameran Bogor Art & Craft di Botani Square, Kota Bogor, Rabu, 4 September 2019. Menurut Muchsin, produk kerajinan dari Kota Bogor belum memenuhi keinginan pasar internasional sehingga sukar diekspor.

“Sebenarnya potensinya besar, ada beberapa yang berpeluang, seperti barang-barang dari bambu itu bisa diekspor. Perancis banyak yang minta, tapi kita enggak tahu produk dari Bogor. Saya lihat sepatu dan tasnya juga bisa bersaing, tetapi tetap harus distandarkan dengan keinginan pasar,” ujar Muchsin.

Menurut Muchsin, agar dapat menembus pasar ekspor, para IKM kerajinan tangan perlu mengetahui apa keinginan pasar terlebih dahulu. Keinginan pasar internasional bisa menjadi modal bagi para perajin untuk mengembangkan usahanya hingga pasar internasional.

“Biar baju robek, kalau disukai pasar pasti laku. Sekarang ini lifestyle jadi utama, jadi keinginan pasar harus didukung kemampuan untuk mengadobsi. Di Bogor itu kelihatannya belum ada yang sudah ekspor, ada mungkin baru alas kaki, tapi belum tahu juga sudah sejauh mana,” kata Muchsin.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor Gandjar Gunawan menyebutkan, IKM Kota  Bogor bukannya belum mampu bersaing di pasar internasional. Menurut dia,  ada beberapa  IKM yang sudah tembus pasar ekspor namun diakuinya masih minim.

“Sebenarnya bukan tidak mampu, di catatan kita ada beberapa IKM yang melakukan ekspor. Tetapi Pak Wali ingin ada keberlanjutan, ada peningkatan dari tahun ke tahun.  Saat ini memang baru 5 atau 6 IKM yang sudah  ekspor. Namanya ekspor bukan berarti skala besar,  pesanan kecil sepanjang di jual ke luar negeri itu namanya tetap eksportir,” kata Gandjar.

Beberapa kerajinan tangan yang sudah dieskpor yakni produk fashion dari cetakan daun, makanan gula semut, dan serbuk minuman instan.  Mayoritas produk tersebut diekpor ke Asia seperti ke Tiongkok, dan Malaysia.  Untuk meningkatkan pelaku ekspor di tingkat IKM kerajinan tangan, Gandjar menyebut para IKM perlu belajar lebih dan diedukasi agar produknya bisa lebih mendunia.

“Harus diberi coaching,  edukasi seperti apa sih ekspor itu, harus banyak dikenalkan ke publik, didampingi, dan difasilitasi. Saat ini kan yang paling sulit mencari buyer  dari luar,” ucap Gandjar.

Lebih lanjut, Gandjar mengatakan, pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk mendorong IKM kerajinan tangan berkembang adalah membangun mental pengusaha IKM. Mereka diharapkan dapat berpikir lebih luas bagaimana meningkatkan omzet dan masuk jejaring usaha melalui dunia digital.

“Mental bisnis dan berjuangnya perlu digenjot lagi, skill bisnisnya perlu diasah dan disinkronkan dengan dunia kekinian. Sekarang kan eranya digital,  sebenarnya lebih mudah masuk pasar internasional. Ini yang perlu kita bangun ke depan,” kata  Gandjar.

Wali Kota Bogor Bima Arya berharap Asephi  pusat dapat membantu membuka jejaring IKM kerajinan tangan Kota Bogor agar dapat menembus pasar ekspor. Pembelajaran bagi IKM  sangat perlu dilakukan agar bisa lebih memahami pangsa pasar.

“Kita perlu kolaborasi, saya ingin tahun depan bisa cerita IKM kerajinan kita ada yang tembus pasar ekspor,” kata Bima.***

Bagikan: