Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Cerah, 27.3 ° C

Sembilan Tahun Tanpa Kabar di Yordania, Ani Pulang Tak Bernyawa

Shofira Hanan
PIHAK keluarga menyelesaikan serah terima jenazah Ani binti Iin di kediamannya, Kecamatan Naringgul, Cianjur, Minggu, 1 September 2019. Ani diketahui meninggal dunia setelah sembilan tahun putus kontak dengan keluarga, berdasarkan penelusuran ternyata Ani tidak memiliki majikan tetap selama berada di Yordania./DOK ASTAKIRA
PIHAK keluarga menyelesaikan serah terima jenazah Ani binti Iin di kediamannya, Kecamatan Naringgul, Cianjur, Minggu, 1 September 2019. Ani diketahui meninggal dunia setelah sembilan tahun putus kontak dengan keluarga, berdasarkan penelusuran ternyata Ani tidak memiliki majikan tetap selama berada di Yordania./DOK ASTAKIRA

CIANJUR, (PR).- Hilang kontak selama sembilan tahun bekerja di Yordania, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Cianjur pulang tinggal nama. Ani binti Iin (36) diketahui meninggal dunia akibat sakit dan overdosis obat.

Kepala Bidang Penempatan Kerja di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cianjur, Ricky Ardhi Hikmat mengatakan, jenazah PMI asal Kecamatan Naringgul itu sudah dipulangkan ke tanah air dan dimakamkan pada Minggu 1 Septermber 2019.

”Kami dikabari oleh KBRI setempat terkait meninggalnya Ani, almarhumah ditemukan meninggal di depan sebuah kontrakan milik warga negara Mesir,” ujar Ricky, Senin 2 September 2019.

Ia menjelaskan, kematian Ani sudah diinformasikan sejak 9 Agustus lalu. Hanya saja, diperlukan penelusuran lebih dulu terkait identitas dan alamat Ani di Cianjur agar jenazah dapat dipulangkan. Ditambah lagi, status profesi dan keberangkatan Ani yang belum jelas ikut menghambat proses pemulangan.

Pasalnya, almarhumah ternyata tidak memiliki majikan ataupun diberangkatkan oleh perusahaan, sehingga tidak ada pihak yang bisa bertanggungjawab untuk memulangkan Ani. 

Berdasarkan pengembangan informasi, Ani ternyata kabur dari rumah majikan terakhirnya pada 2011 lalu. Ia diketahui hanya bekerja selama sebulan di majikan tersebut. ”Ini yang masih kami telusuri lebih lanjut, di mana dan kepada siapa almarhumah bekerja. Karena berkaitan dengan pemenuhan hak-hak almarhumah juga jika memang ada,” ucapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, Ani sebenarnya sudah dua kali berangkat ke Yordania. Ia pertama kali berangkat pada 2004 dan kembali ke kampung halaman pada 2010. Di tahun yang sama, Ani pun berangkat kembali untuk menjadi PMI tapi diduga keberangkatan tersebut tidak terdata Pemkab karena yang bersangkutan tidak melapor.

Menurut dia, saat ini keluarga dan pemerintah terkait pun mengupayakan hak-hak almarhumah dipenuhi selama bekerja di sana. Setidaknya, barang-barang pribadi milik Ani yang saat ini diamankan pengadilan setempat dapat diserahkan kepada keluarga.

Meminta pengusutan

Sementara itu, pihak keluarga pun meminta bantuan kepada Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia Raya (Astakira) Pembaharuan Cianjur untuk mendorong agar pemerintah mengusut kasus yang menimpa Ani. Ketua DPC Astakira Cianjur, Ali Hildan mengatakan, ada kejanggalan pada kasus tersebut.

”Soalnya tidak ada berita acara resmi tentang meninggalnya Ani. Ditambah lagi, saat kepulangan jenazah, hanya dinas terkait dan asosiasi yang datang. Sementara orang PWNI atau Kementerian Luar Negeri tidak ada,” ujar Ali.

Menurut dia, keluarga masih mempertanyakan kematian Ani yang sudah sejak lama putus komunikasi. Padahal, pada keberangkatan sebelumnya Ani biasa berkabar dan rajin mengirimkan uang. Tidak heran, jika akhirnya pihak keluarga pun menganggap Ani tidak memiliki pekerjaan di Yordania.

”Terakhir kali keluarga mengetahui kalau almarhumah bekerja sebagai asisten rumah tangga. Tapi, setelah meninggal baru diketahui kalau Ani tidak punya majikan,” ujar dia.

Oleh karena itu, Ali meminta agar dinas terkait, PWNI, dan kementerian mengusut tuntas kasus tersebut. Ia juga mengharapkan, semua pihak bisa memberikan pengawasan kepada TKI di luar negeri terutama di Timur Tengah, agar kejadian serupa bisa dihindari.***

Bagikan: