Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Warga Tolak Pembangunan Kios di GOR Singalodra

Gelar Gandarasa
WARGA berlatih panah di area lapangan GOR Singalodra, Indramayu, Kamis, 29 Agustus 2019. Sebagian lahan itu akan dibangun kios untuk PKL relokasi.*/GELAR GANDARASA/PR
WARGA berlatih panah di area lapangan GOR Singalodra, Indramayu, Kamis, 29 Agustus 2019. Sebagian lahan itu akan dibangun kios untuk PKL relokasi.*/GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Rencana pembangunan kios pedagang kaki lima (PKL) di GOR Singalodra ditolak oleh masyarakat. Penolakan itu didasari karena kios berdiri di lapangan sepak bola. Masyarakat pun berharap pemerintah daerah bisa mencari solusi atas permasalahan tersebut. 

Berdasarkan pantauan "PR" di GOR Singalodra, Kamis, 29 Agustus 2019, pembangunan puluhan kios di sana memang memakan hampir seperempat badan lapangan sepak bola. Lapangan tersebut pun kerap dipakai oleh para atlet dan siswa untuk berolahraga dan berlatih. Di sana sudah dilakukan konstruksi pondasi bangunan. Namun nampak tak ada aktivitas pembangunan.

Ketua Forum Masyarakat Sindang (Formasi)  Martin Nahruirvan mengatakan, masyarakat menolak adanya pembangunan kios di GOR Singalodra. Soalnya pembangunan memakan lahan ruang terbuka bagi warga. Tentunya hal itu sangat disayangkan terlebih Kabupaten Indramayu kekurangan lahan terbuka bagi warganya. 

Dia menambahkan, masyarakat pun tak pernah diajak musyawarah terlebih dahulu dalam pembangunan kios tersebut. "Seharusnya masyarakat dilibatkan dalam musyawarah," ungkap dia. Penolakan dari warga itu giat dipublikasikan oleh dirinya di media sosial. 

Meskipun menolak pembangunan, dipastikan tak ada upaya penghentian paksa dari warga terhadap pembangunan kios tersebut. Masyarakat hanya melayangkan surat imbauan saja kepada para pekerja yang tengah bekerja membangun kios. Ke depan, Formasi pun belum merencanakan aksi demo kepada pemerintah daerah sebab upaya persuasif akan dikedepankan terlebih dahulu. 

Terpisah, Kuwu Sindang Warsidi mengatakan, lahan lapangan sepak bola tersebut merupakan wewenang dari pemerintah daerah. Dia pun sudah menerima penolakan pembangunan dari warga. Aspirasi itu sudah disampaikan kepada pemerintah daerah. "Kalau lahan itu milik dari pemerintah daerah," ungkapnya. 

Dia pun mengaku, dirinya sependaoat dengan Formasi. Sebab jika dipakai untuk pembangunan kios otomatis masyarakat akan kekurangan ruang terbuka. Sebetulnya pembangunan kios itu awalnya akan dilakukan di lapangan lain yang ada di Desa Sindang. Namun lapangan itu akan dibangun museum cagar budaya. "Lebih besar manfaatnya jika dibangun museum," tutur dia.

Kalaupun tetap dibangun, ia meminta supaya kios itu diisi oleh mayoritas warganya. Kebanyakan PKL di bantaran Cimanuk bukan warganya.  "Untuk di kios baru nanti saya ingin 75 persen dari Sindang dan sisanya wilayah lain," ucapnya. Selain itu, sebaiknya dibangun lapangan futsal karena lebih bernilai ekonomis. Lapangan futsal bisa disewakan sehingga menghasilkan pendapatan bagi daerah. 

Sebelumnya, pemerintah daerah berencana membersihkan bangunan liar dan PKL yang ada di bantaran Sungai Cimanuk. Diperkirakan bangunan liar dan PKL yang ada di sana berjumlah 208. Ratusan PKL tersebut akan dipindahkan ke area GOR Singalodra yang terletak di Sindang. Lahan relokasi mengambil sebagian area lapangan sepak bola.***

Bagikan: