Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 24.9 ° C

Tumpahan Minyak di Pantai Utara Karawang Merambah Rumah Warga, 20 Keluarga Mengungsi

Dodo Rihanto
GUMPALAN minyak mentah menutupi pasir Pantai Pisangan, Desa Cemarajaya, Kabupaten Karawang. Gumpalan minyak mentah juga masuk ke dalam rumah warga sekitar pantai.*/DODO RIHANTO/PR
GUMPALAN minyak mentah menutupi pasir Pantai Pisangan, Desa Cemarajaya, Kabupaten Karawang. Gumpalan minyak mentah juga masuk ke dalam rumah warga sekitar pantai.*/DODO RIHANTO/PR

KARAWANG, (PR).- Tumpahan minyak mentah dari sumur YY-1 Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) ternyata belum berakhir. Bahkan, tumpahan minyak tersebut semakin parah mencemari pantai utara Karawang.

Informasi terakhir yang di terima Pikiran Rakyat, tumpahan minyak telah masuk ke sejumlah rumah milik warga di Pantai Pisangan, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Rabu, 28 Agustus 2019 malam sekira pukul 19.00 WIB. Akibatnya, sebanyak 20 keluarga terpaksa mengungsi kerena bagian dalam rumahnya dipenuhi minyak mentah.

Menurut salah seorang warga Dusun Pisangan, Cemarajaya, Wanusuki, tumpahan minyak mentah masuk ke rumah warga bersama air laut yang saat itu sedang pasang. Minyak mentah langsung menempel pada lantai, dan perabotan rumah tangga milik warga.

"Saat air laut surut, tumpahan minyak mentah malah tertinggal di dalam rumah. Kondisi itu membuat warga tidak nyaman. Apalagi minyak mentah yang berbentuk krim itu sangat lengket dan sulit dibersihkan," kata Wanusuki, Kamis, 29 Agustus 2019.

Menurutnya, ada 20 keluarga yang meninggalkan rumahnya di malam hari. Hingga Kamis siang, mereka belum kembali ke rumah karena minyak mentah masih mengotori lantai dan barang-barang lainnya.

Bau menyengat

Keterangan Wanusuki dibenarkan warga lainnya, Darsa, warga Dusun Cemara 2 RT 3 RW 3 Desa Cemarajaya Utara, Kecamatan Cibuaya.

"Bau minyak sangat menyengat hingga kami sulit bernafas," kata Darsa.

Dia menjelaskan, gumpalan minyak datang bersama dengan gelombang pasang pada Rabu malam. Air laut kemudian masuk ke dalam rumah sambil membawa gumpalan minyak.

"Minyak-minyak terbawa air dan terus masuk ke celah-celah rumah dari malam sampai pagi, sehingga dapur dan toilet penuh oleh minyak," tuturnya.

Menurut Darsa, rumahnya memang kerap dilanda banjir ketika air laut pasang. Akan tetapi, sebelumnya, rendaman air laut tidak terlalu menimbulkan masalah baginya.

Saat ini, lanjut dia, banjir laut pasang membuatnya pusing. Sebab, banyak gumpalan minyak yang terbawa masuk ke dalam rumah.

"Rumah saya hanya berjarak dua meter dari bibir pantai. Kalau laut pasang pasti terendam," katanya. 

Tumpahan terbanyak

Dijelaskan juga, tumpahan minyak mentah yang terjadi Rabu malam merupakan tumpahan minyak terbanyak, sejak terjadi insiden bocornya sumur migas milik PHE. Hingga Kamis siang, tumpahan minyak masih menumpuk di sekitar Pantai Pisangan. 

Menurut Darsa, daerah paling parah terpapar minyak mentah adalah Dusun Cemara 2. Di dusun itu berdiri 200 rumah warga.

"Dari jumlah tersebut, sudah data ada 20 keluarga yang mengungsi," kata Darsa.

Selain menerjang rumah Darsa, tumpahan minyak mentah juga masuk ke rumah Castini. Kondisi rumah Castini tidak berbeda jauh dari rumah Darsa. Di sana, banyak gumpalan minyak mengotori bagian dalam kediamannya.***

Bagikan: