Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Tak Terserap Pasar, Puluhan Ribu Ton Garam Menumpuk di Jawa Barat

Gelar Gandarasa
PETAMBAK garam di Indramayu tengah memproduksi garam, pada Juli 2019. Stok garam petambak masih menumpuk karena lesunya penyerapan.***/GELAR GANDARASA/PR
PETAMBAK garam di Indramayu tengah memproduksi garam, pada Juli 2019. Stok garam petambak masih menumpuk karena lesunya penyerapan.***/GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Stok garam di Kabupaten Indramayu masih menumpuk. Banyaknya stok garam tak diimbangi oleh tingkat penyerapan di pasar.

Petani berharap, ada kebijakan perlindungan terhadap harga garam lokal. Sebab, setiap tahunnya harga garam selalu saja mengalami penurunan. 

Ketua Asosiasi Petani Garam Jawa Barat Taufik mengatakan, hingga saat ini garam menumpuk di Jawa Barat ada sekitar 50.000 ton. Garam-garam tersebut belum bisa terserap oleh pasar dan tersebar di beberapa titik gudang yang ada di wilayah Jawa Barat.

"Belum ada pembelinya. Itu kendalanya," kata Taufik, Minggu, 25 Agustus 2019. 

Belum terserapnya garam sudah terjadi beberapa bulan terakhir ini. Padahal kata dia, harga garam masih cukup rendah Rp 300 per kilogramnya.

Dia pun masih menunggu adanya pembeli garam petambak lokal. Kemungkinan dalam waktu dekat ini garam bisa terserap ke pasar. 

Ke depan, dia berharap, ada kebijakan proteksi terhadap petambak lokal. Petambak berharap adantya kebijakan penyerapan garam lokal oleh industri. Dengan demikian, geliat produksi garam lokal bisa terus berkembang. 

Lesunya penyerapan diakui oleh Petambak asal Losarang Robendi. Di gudang garamnya, stok sudah mencapai 100 ton.

"Sepi belum bisa keluar barangnya," ujarnya.

Menurutnya, stok garam bisa terus bertambah karena produksi garam masih berlangsung di musim kemarau ini. 

Turun tangan pemerintah

Terkait harga, masih cukup murah yakni Rp 300. "Tidak tahu pasti kenapa sepi penyerapan," tuturnya.

Dia berharap, pemerintah segera turun tangan menyikapi permasalahan yang menimpa para petambak garam. Apalagi kata dia, sejauh ini belum ada standarisasi harga untuk garam.

Idealnya, petambak bisa menikmati keuntungan jika harga mencapai Rp 500 per kilogramnya. Dia pun berharap, pemerintah bisa membentuk kebijakan bagi para petambak. 

Petambak lainnya, Ali Mustadi mengatakan, garam di gudangnya sudah mencapai 1.000 ton. Besarnya stok belum bisa diimbangi dengan derasnya penyerapan dari pasar.

Seharusnya pemerintah bisa tegas mengarahkan para importir untuk menyerap garam lokal. Dengan begitu harga garam lokal bisa terus stabil. 

"Jangan sebaliknya, malah mengimpor garam di saat petani garam sedang panen raya," tuturnya.

Ali menegaskan, petambak tidak alergi akan kebijakam impor garam dari pemerintah. Akan tetapi, alangkah lebih baiknya lagi jika kebijakan impor dibarengi juga dengan kebijakan yang berpihak pada petambak lokal. 

Untuk itu, ke depan diperlukan ketegasan pemerintah untuk mengatur alur sirkulasi garam impor. Dia menilai, upaya ketegasan itu belum ditunjukkan oleh pemerintah saat ini. Selain itu, diperlukan perhatian dari semua pihak agar petambak bisa merasakan keuntungan dalam produksi garam.***

Bagikan: