Pikiran Rakyat
USD Jual 14.034,00 Beli 14.132,00 | Berawan, 20 ° C

Ngulisik, Cara Asyik Belajar Sejarah Tasikmalaya

Bambang Arifianto
PESERTA tur mendengar penjelasan pemandu di atas Bus Ngulisik saat melintasi jalan-jalan di Kota Tasikmalaya, Sabtu, 25 Agustus 2019. Belajar sejarah dan lokasi wisata bisa diperoleh pengunjung dengan mengikuti tur bersama Ngulisik.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PESERTA tur mendengar penjelasan pemandu di atas Bus Ngulisik saat melintasi jalan-jalan di Kota Tasikmalaya, Sabtu, 25 Agustus 2019. Belajar sejarah dan lokasi wisata bisa diperoleh pengunjung dengan mengikuti tur bersama Ngulisik.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

BELAJAR sejarah tak selalu identik dengan mengunjungi museum atau perpustakaan. Di Kota Tasikmalaya, ada cara baru yang lebih asik untuk belajar sejarah sekaligus berkeliling di wilayah itu.

Ya, warga yang hobi berjalan-jalan santai bisa menambah asupan pengetahuan sejarah kota dengan menggunakan Bus Ngulisik atau Nguriling Kota Tasikmalaya. Sabtu, 24 Agustus 2019, Pikiran Rakyat menjajal moda transportasi khusus tersebut guna mengetahui tapak-tapak lawas dan cerita pertumbuhan Bumi Sukapura. 

Untuk mencoba Ngulisik, perjalanan dimulai dengan mendatangi langsung Pusat Pengembangan Industri Kerajinan Kota Tasikmalaya di Jalan Letjen Mashudi, Kelurahan Kersanegara, Kecamatan Cibeureum. Lokasi tehrsebut menjadi titik awal pemberangkatan sekaligus pembelian tiket Ngulisik.

Bus unik dengan badan yang terbuka tersebut tampak telah parkir di sana. Sore itu, hanya terdapat tiga penumpang yang turut dalam perjalanan tur Ngulisik.

Bus yang dipacu dengan kecepatan sedang tersebut mengawali perjalanan dari Letjen Mashudi mengarah ke Jalan Gubernur Sewaka. Seorang pemandu tur bernama Reza mulai memperkenalkan diri dan bercerita kisah-kisah sudut kota yang dilalui Ngulisik.

Kisah di balik ikon

Saat melintas sebuah tugu kelom geulis di Letjen Mashudi, sang pemandu mulai bercerita. "Ini salah satu tugu kebanggaan di Tasikmalaya," ucap Reza.

Kelom geulis memang menjadi salah satu primadona industri kreatif asli Tasikmalaya sejak lama. Hingga kini, produksi kelom masih bertahan dan digeluti sejumlah masyarakat.

Mendekati Jalan Gubernur Sewaka, topik berganti menjadi wilayah Kawalu yang segera dilewati. Kawalu sebagai pusat bordir Tasikmalaya pun menjadi topik yang dikupas selanjutnya.

Deru angin langsung masuk ke dalam ‎ruang penumpang menjadi sensasi sendiri bagi peserta tur. Hari semakin beranjak sore. Namun, kisah-kisah lain terus menyusul mengundang rasa penasaran peserta.

Komunikatif

Reza tak cuma mengupas sejarah. Ia mencoba berkomunikasi aktif dengan tiga pengunjung tersebut.

Ia bertanya identitas, alamat, serta sesekali menguji pengetahuan peserta tur. Seperti pengetahuan tentang perjuangan KHZ Musthafa yang tugunya terlintasi Ngulisik, ketika berbelok dari Gubernur Sewaka menuju Jalan SL Tobing.

PESERTA tur mendengar penjelasan pemandu di atas Bus Ngulisik saat melintasi jalan-jalan di Kota Tasikmalaya, Sabtu, 25 Agustus 2019. Belajar sejarah dan lokasi wisata bisa diperoleh pengunjung dengan mengikuti tur bersama Ngulisik.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Kisah pahlawan nasional asal Pondok Pesantren Sukamanah, Kabupaten Tasikmalaya yang gugur saat melawan Tentara Jepang itu memang sudah cukup akrab telinga. Akan tetapi, keberadaan tugunya di wilayah Kota Tasikmalaya tak banyak diketahui orang. Di atas bus itu, Reza memaparkan ornamen tugu serta makna-makna yang terkandungnya.

Jalan Veteran hingga Sutisna Senjaya menjadi lokasi lain yang dilintasi Ngulisik selanjutnya. "Di sini itu ada ada tempat unik di sebelah kiri kita," ucap Reza yang dibarengi gerakan kepala dan arah pandang peserta tur yang mengarah ke kiri. 

Benar saja, sebuah tugu dengan helm atau topi baja tentara bertengger di atasnya. Menurut Reza, lokasi tugu merupakan bekas markas batalyon Pembela Tanah Air (Peta) Dai Ichi & Dai ni Dai Dan saat Jepang menguasai Indonesia.

Kini, bekas markasnya tak ada lagi dan berubah menjadi bangunan pusat perbelanjaan. Keberadaan Batalyon Peta membuat jalan tersebut diberi nama Veteran.

Kisah Mak Eroh dan Abdul Rozak

Sedangkan di kawasan Alun-Alun Kota Tasikmalaya, kawasan Jalan Sutisna Senjaya, giliran Mak Eroh dan Abdul Rozak yang dikisahkan. Tugu dua warga Tasikmalaya yang meraih Kalpataru karena perannya dalam kelestarian lingkungan tersebut memang berada di alun-alun.

Meski tak membagi cerita sejarah secara detail dan lengkap, berjalan-jalan menggunakan bus yang berasal dari pemberian Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap mendapat apresiasi Erza, salah seorang peserta tur Ngulisik asal Indihiang, Kota Tasikmalaya.

Erza mengakui, mendapat pengetahuan baru dalam perjalanan tersebut. "Saya baru tahu tentang tugu batalyon (Peta) di sini," ucapnya.

Ia menilai, Ngulisik bisa memperkenalkan sejarah dan pariwisata Kota Tasikmalaya yang selama ini belum tersosialisasikan. Dengan harga tiket Rp 10 ribu per peserta, berkeliling memakai bus unik ini bisa jadi opsi menikmati kota dengan cara lain.***

Bagikan: