Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Joged Pongdut Viral di Medsos Menuai Pro Kontra

Tim Pikiran Rakyat
SEJUMLAH orangtua minta klarifikasi terkait viralnya joget pongdut yang melibatkan pelajar SD dan SMP di media sosial.*/DEDE IWAN/KABAR PRIANGAN
SEJUMLAH orangtua minta klarifikasi terkait viralnya joget pongdut yang melibatkan pelajar SD dan SMP di media sosial.*/DEDE IWAN/KABAR PRIANGAN

BANJAR,(PR).-  Apresiasi seni yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar pada momen memeriahkan Hari Kemerdekaan RI ke-74 di Graha Banjar Idaman (GBI) Kamis 22 Agustus 2019 menuai pro kontra.

Menyusul peserta yang dihadirkan pelajar SD dan SMP dari berbagai sekolah di Kota Banjar. Sementara, seni yang ditampilkan dan dinilai  lebih menonjol saat itu "pongdut". Spontan pelajar pun berjoged. Bahkan, sampai viral di media sosia (medsos). 

Pihak yang kontra menilai seni pongdut yang disosialisasikan terhadap generasi muda (pelajar) kurang mendidik, sampai joged pelajar. Miris, karena apresiasi seni itu dinilai tidak ada unsur pendidikan karakter beraklakul karimahnya. 

"Kami berharap semua pelajar dididik supaya soleh dan solehah. Pendidikan karakter yang baik seharusnya diutamakan. Saat mendidik pun diharuskan selalu  berupaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Hal ini sejalan visi Kota Banjar yang berlandaskan iman dan takwa itu," ujar seorang pendidik, Zaenal Arifin.

Hal senada dikatakan Abah Emir, selaku orangtua pelajar. Abah Emir merasa sangat khawatir atas kondisi generasi muda mendatang. 

"Kami berharap ke depan ada perbaikan. Seni yang diperkenalkan kepada pelajar supaya difilter. Kalau diklik, pongdut di internet, goyangannya itu aneh-aneh," ujar Abah Emir dan Zaenal Arifin, seusai mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar, klarifikasi Jumat 23 Agustus 2019.

Bersifat spontan

Acara klarifikasi apresiasi seni dan pongdut itu diterima langsung Kepala Bidang Dikdas Disdikbud Kota Banjar, Ahmad Yani didampingi Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Banjar, Oom supriatna.

"Kami berniat ingin memperkenalkan seni dan alat musik tradisional dan modern. Kami tidak berniat ingin membengkokan karakter pelajar. Kalaupun ada pelajar yang joged, itu bersifat spontan," ujar Oom.

Seiring adanya masukan dari unsur masyarakat yang datang sekarang ini, dikatakan dia, pihak Disdikbud Kota Banjar mengapresiasi positif. 

"Kami minta maaf jika acara apresiasi seni itu menimbulkan kekhawatiran orangtua pelajar dan para pendidik, termasuk ulama," ujar Oom seraya menjelaskan perwakilan sekolah yang datang saat itu berjumlah 8 sekolah. Meliputi, 3 SD dan 5 SMP di Kota Banjar. 

Pada saat itu, diperkenalkan juga seni reog, calung, wayang dan seni tradisional lainnya. 

Sejarah musik

Seorang Seniman, Kusnadi, lebih akrab dipanggil Zupen, mengakui, saat ada pelajar berjoged itu hanya spontan saja. Adapun seni yang diceritakan kepada pelajar itu, mulai sejarah musik kontemporer, dimungkinkan satu saat nanti musik etnis. 

"Diharapkan generasi mendatang bisa menciptakan inovasi dan kreativator-kreativator dalam berkesenian," ujar Kusnadi, sekaligus Pengelola Grup Pongdut Zupen.

Dijelaskan dia, seni kolaborasi modern dan tradisional, terakhir seringkali disebut pongdut.

Makanya, saat itu dijelaskan kepada anak-anak sekolah seputar seni pongdut itu. Berawal dari mana jenis musiknya. Bagaimana alat alatnya, apa aja. 

Menurut dia, bidang kebudayaan mempunyai kewajiban untuk menyosialisasikan kebudayaan atau kesenian apa saja yang ada di Banjar. Mulai tradisional maupun modern. 

"Alhamdzulilah, guru menyambut baik karena acara ini merupakan pembelajaran juga untuk anak anak," ujarnya seraya mengatakan, Group Zupen itu sebagai penggagas pongdut di Kota Banjar, termasuk Priangan Timur.***

Bagikan: