Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 29.1 ° C

Harga Cabai di Indramayu Istikamah di Rp 100 Ribu per Kilogram

Gelar Gandarasa
PEDAGANG sayuran di Kabupaten Indramayu membereskan barang dagangannya, Rabu 21 Agustus 2019. Harga cabai di pasar terpantau masih tinggi.*/GELAR GANDARASA/PR
PEDAGANG sayuran di Kabupaten Indramayu membereskan barang dagangannya, Rabu 21 Agustus 2019. Harga cabai di pasar terpantau masih tinggi.*/GELAR GANDARASA/PR

INDRAMAYU, (PR).- Harga cabai di Kabupaten Indramayu terpantau masih tinggi. Akibatnya keuntungan pedagang pun menjadi terkikis. Kenaikan harga dipicu oleh faktor alam. Diprediksi harga akan terus naik mengingat kemarau masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan.  

Pantauan Pikiran Rakyat di Pasar Baru Indramayu pada Rabu, 21 Agustus 2019, harga cabai rawit masih bertengger di Rp 100.000 per kilogramnya. Padahal beberapa hari ke belakang harga sempat turun menjadi Rp 80.000.

Salah seorang pedagang sayur, Titin mengakui kenaikan harga sudah terjadi sebelum hari raya Iduladha. “Harga sempat turun tapi naik lagi,” ujarnya.

Kenaikkan juga tidak hanya terjadi pada cabai rawit, cabai merah pun ikut naik menjadi Rp 80.000 yang semula Rp 60.000. Dia menambahkan, kenaikkan harga disebabkan oleh beberapa faktor. Utamanya soal pengaruh cuaca yang saat ini kemarau berkepanjangan.

Seperti tahun sebelumnya, tanaman cabai para petani sebagian kekurangan air. Tak heran banyak petani yang menderita gagal panen sehingga mempengaruhi pasokan kepada para pedagang. “Faktor cuaca sangat berpengaruh,” katanya.

Dia pun mengaku bingung dengan kenaikan yang terjadi pada komoditas cabai. Sebab hal itu berpengaruh langsung terhadap pendapatannya. Saat ini pembeli cabai di lapak miliknya terbilang sepi.

Guna mensiasatinya dia pun tidak menyetok begitu banyak cabai di lapaknya. Dengan demikian jika tak laku terjual dirinya tidak akan mengalami kerugian besar. “Supaya ada saja sekarang mah,” tutur Titin.

Dia pun berharap, harga cabai bisa kembali normal agar barang dagangannya bisa memberikan keuntungan lebih.

Salah seorang pembeli, Warsinah mengaku dirinya terkejut dengan tingginya harga cabai di pasar. Dia pun akhirnya mengurangi belanjaan cabainya dan lebih memilih bahan makanan lainnya. “Biasanya untuk stok di rumah sekitar satu kilogram. Untuk sekarang makanan yang pedas-pedas dikurangi dulu karena harga cabai mahal,” tuturnya.

Selain dirasakan oleh pedagang, tingginya harga juga sangat dirasakan oleh para pengusaha rumaha makan. Salah seorang pengusaha kuliner, Dedi menuturkan, tingginya harga cabai membuatnya terpaksa memutar otak mencari jalan keluar. Apalagi makanan jualannya kebanyakan berbahan dasar cabai seperti ayam geprek dan sambal.

Dedi pun lebih memilih untuk tidak mengurangi takaran cabai terhadap makanan buatannya. Sebab hal itu secara langsung akan mengurangi kualitas makanan dan ditakutkan membuat kecewa para pelanggannya. Tak heran dirinya pun lebih memilih menanggung kerugian. “Kalau untuk keuntungan turun sekitar 20 persen karena mahalnya cabai,” ungkapnya.***

Bagikan: