Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 26.2 ° C

Keamanan 10 Pelajar Asal Papua di Pangandaran Terjamin Baik

Agus Kusnadi
SUASANA silaturahim antara sepuluh pelajar asal Papua yang bersekolah di SMK Bakti Karya Parigi dengan pihak sekolah serta jajaran Polsek Parigi Kabupaten Pangandaran, Rabu, 21 Agustus 2019.*/AGUS KUSNADI/KP
SUASANA silaturahim antara sepuluh pelajar asal Papua yang bersekolah di SMK Bakti Karya Parigi dengan pihak sekolah serta jajaran Polsek Parigi Kabupaten Pangandaran, Rabu, 21 Agustus 2019.*/AGUS KUSNADI/KP

PANGANDARAN,(PR).- Insiden di Surabaya baru-baru ini sempat membuat cemas 10 pelajar yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah multikultural di SMK Bakti Karya Parigi. Terlebih orangtua para pelajar tersebut berada di kampung halamannya di Papua.

Salah satu pelajar kelas 10 SMK Bakti Karya Parigi Friska Mabel mengaku sudah satu bulan berada di Pangandaran. Friska mengatakan bahwa dirinya sempat merasa cemas atas insiden di Surabaya. Orangtuanya pun sempat merasa khawatir dan menelpon untuk menanyakan kondisi dirinya di Pangandaran termasuk teman-temannya.

"Pertamanya sih khawatir dan orangtua yang ada di sana (Papua, Red) setelah dihubungi ternyata di Papua aman-aman saja. Jadi saya lega," ungkap Friska ketika ditemui Rabu, 21 Agustus 2019.

Dia mengaku, dirinya mengetahui insiden tersebut dari kakaknya yang sekolah di Surabaya, sehingga perasaan dirinya jadi kacau. "Tapi dari pihak sekolah kami sudah diberi arahan bahwa Pangandaran aman. Begitu juga dari pihak kepolisian Polsek Parigi yang datang ke sekolah memberikan perlindungan dan menjamin untuk keamanannya. Polisi izinkan kok kami disini tidak ada masalah, sekolah juga sangat mendukung," ujar Friska.

Sementara Inisiator Sekolah Multikultural SMK Bakti Karya Parigi Ai Nurhidayat yang didampingi Kepala Sekolahnya Irpan Ilmi membenarkan bahwa sekolahnya dikunjungi oleh petugas polisi dari Polsek Parigi untuk memberikan arahan dan kenyamanan serta melindungi pelajar yang ada di sekolahnya. "Ada, dua hari berturut-turut pak polisi datang ke sekolah kami," ujar Ai. 

Ia menilai, sebenarnya insiden di Surabaya itu pemicu rasisme, sedangkan rasisme di Indonesia itu sebenarnya seperti gunung es. "Karena sadar rasisme seperti gunung es, maka kita membuat program sekolah multikultural, supaya orang-orang itu saling ketemu, biar berdialog dan memahami satu sama lain," kata Ai. 

Karena kata Ai, kalau Bhineka Tunggal Ika nya tidak bertemu satu sama lain lalu dialog dan saling berceritanya kapan, maka insiden yang terkadi di Surabaya kemarin itu menurut dia karena kurangnya ketersediaan dialog dan bukan karena ada orang Papua.

Dan rasisme ini kata dia, bukan hanya menimpa pada orang Papua saja, melainkan dari daerah lain bahkan dari luar negeri pun, rasisme bisa terjadi, karena rasisme ini menurut dia sudah mendarah daging, dan itu kalau mau diselesaikan bisa dari sektor terpenting yaitu dari pendidikan, karena menyangkut alam fikir manusia. 

"Makanya kita buat program multikultural, seperti teman-teman disini sudah sangat NKRI-lah, sudah memahami kebhineka tunggal ika-an, karena mereka di asrama sekolah itu mulai dari Aceh sampai Papua itu ada," ujarnya. 

Terkait kecemasan pelajar asal Papua yang ada di sekolahnya paska insiden di Surabaya, kata Ai, memang sempat ada. Dikarenakan pihaknya bersifat antisipatif, maka orangtua nya bisa memahami kalau di Pangandaran aman. 

Kapolsek Parigi AKP Iwan Sukarelawan beserta Kanit Intelkam Ipda Hendi Sumawijaya menggelar silaturahim dengan para pelajar tersebut. Iwan mengatakan agar mereka tidak mudah terprovokasi atau hasutan yang mengandung berita bohong atau hoax melalui medsos.

"Apabila ada hal-hal yang tidak diharapkan agar secepatnya melapor kepada pihak sekolah dan agar lebih memahami kultur daerah di pulau Jawa, kemudian dapat menyesuaikan diri di wilayah Kabupaten Pangandaran," ujar Iwan.***

Bagikan: