Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Gelar Juara 1 Dicoret karena Tidak Memiliki Dana

Ani Nunung Aryani
WALI Kota Cirebon Nashrudin Azis (tengah) menunjukkan menu komplet kreasi TP PKK Kelurahan Sukapura Kota Cirebon yang menjadi juara II Cipta Menu/Festival Pangan Lokal B2SA tingkat Jabar,   seusai membuka Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kota Cirebon Semester 1 Tahun Anggaran 2019 di aula kantor Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon, Selasa 20 Agustus 2019.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR
WALI Kota Cirebon Nashrudin Azis (tengah) menunjukkan menu komplet kreasi TP PKK Kelurahan Sukapura Kota Cirebon yang menjadi juara II Cipta Menu/Festival Pangan Lokal B2SA tingkat Jabar, seusai membuka Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kota Cirebon Semester 1 Tahun Anggaran 2019 di aula kantor Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon, Selasa 20 Agustus 2019.*/ANI NUNUNG ARYANI/PR

CIREBON, (PR).- Perwakilan Tim Penggerak PKK Kota Cirebon gagal menjadi juara lomba Cipta Menu/Festival Pangan Lokal B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman) Tahun 2019 di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 13 Agustus 2019 lalu, karena tidak ada dana.

Tim peserta yang diwakili TP PKK Kelurahan Sukapura, harusnya juara 1 dalam kategori umum, dan berhak mewakili Jabar dalam Festival Pangan Lokal B2SA Tingkat Nasional Tahun 2019 yang akan dilaksanakan pada puncak acara Hari Pangan Sedunia (HPS) Tingkat Nasional, 10 Oktober 2019, mendatang di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Namun ketika ditanya soal kesanggupan untuk membiayai keberangkatan tim ke Kendari, perwakilan Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon yang mendampingi TP PKK mengungkapkan, Pemkot Cirebon tidak mengalokasikan memiliki anggaran untuk itu.

Akibatnya panitia terpaksa mencoret Kota Cirebon sebagai juara 1 dan digantikan Kota Bogor yang memiliki anggaran untuk memberangkatkan tim. Kota Cirebon akhirnya hanya menduduki peringkat juara 2.

Gagalnya Kota Cirebon menjadi juara 1 hanya karena persoalan dana, diakui Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis, membuatnya kecewa.

Azis mengaku sedikit kecewa dengan gagalnya meraih juara 1, bukan hanya karena perjuangan perwakilan TP PKK sudah sedemikian panjang.

Namun ketika perjuangan itu sudah waktunya berbuah manis, harus gagal bukan karena tidak layak, namun karena faktor dana.

Apalagi menurut Azis, ada kebanggaan tersendiri menjadi juara. Menjadi juara, lanjutnya, juga memiliki manfaat ganda sebagai bagian dari upaya mempromosikan Kota Cirebon ke seluruh Indonesia.

"Dengan fokus pembangunan tiga tahun pertama di sektor pariwisata, kita harus melakukan berbagai upaya termasuk memanfaatkan segala even dan momen untuk mempromosikan Kota Cirebon," kata Azis seusai membuka Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kota Cirebon Semester 1 Tahun Anggaran 2019 di aula kantor Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon, Selasa 20 Agustus 2019.

Kepala  Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon, Yati Rohayati mengaku, sebenarnya waktu tahun lalu, pihak dinas mengajukan anggaran untuk itu. 

Namun dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) yang diajukan dicoret oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

Yati pun memanfaatkan kesempatan kekecewaan Azis untuk menyampaikan keinginannya, agar pengajuan anggaran dari DPPKP didukung wali kota.

"Waktu penyusunan anggaran kan Pak Azis dalam posisi habis masa jabatannya sebagai wali kota Cirebon dan belum dilantik sebagai wali kota. Makanya sekarang kami meminta dukungan Pak Wali, untuk mensuport anggaran yang kami ajukan," tukasnya.

Butuh Rp 200 juta

Sementara itu, Sopiah Dasep dan Dedeh Bunga yang mewakili Kota Cirebon dalam lomba Cipta Menu/Festival Pangan Lokal Tahun 2019 di Gedung Sate, pekan lalu mengaku tidak mempersoalkan gagalnya mereka meraih juara 1 karena tidak ada dana.

"Kami bisa memaklumi karena memang katanya untuk memberangkatkan tim dan rombongan ke Kendari, membutuhkan dana yang tidak sedikit, paling tidak katanya Rp 200 jutaan," ungkap Sopiah.

Menurutnya, pengalaman mengikuti lomba setidaknya membuat mereka percaya diri, akan kemampuan memasak dan meramu makanan serta menciptakan menu.

Saat lomba mereka mengajukan menu lengkap nasi timbel talas jagung, tahu elok, paria isi daun mangkokan, dan tutut rujak donggala plus juice nangberi (nangka keraton campur strawberi).

"Untuk nasi timbel talas jagung sebagai pengganti nasi dari beras, kami tambahkan sedikit garam dan parutan kelapa untuk sedikit memberi rasa," jelasnya.

Sedangkan untuk olahan pangan komersial mengajukan kukis mangga gedong gincu, kukis pisang dan kukis empal gentong.

Menurut Dedeh, terciptanya menu yang dilombakan lebih banyak memanfaatkan tanaman yang tumbuh di pekarangan, misalnya daun mangkokan dan paria atau pare dalam bahasa Cirebon.

Selain itu juga memanfaatkan buah khas atau asli Cirebon yang tidak dijumpai di daerah lain, seperti nangka keraton yang dibuat juice dicampur dengan strawberi yang menciptakan kombinasi warna sangat cantik dan menarik dengan rasa yang menggoda.

"Kami juga memanfaatkan kekayaan kuliner asli Cirebon yakni empal gentong, yang dibuat kukis," katanya.***

Bagikan: