Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Sumur-sumur Mengering, Warga Bingung Cari Air

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI krisis air bersih.*/ANTARA
ILUSTRASI krisis air bersih.*/ANTARA

SUMEDANG, (PR).- Warga di wilayah Dusun Panyingkiran Desa Cikaramas Kecamatan Tanjungmedar, kini mulai alami kesulitan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, warga pun terpaksa harus mengambil air ke luar daerah.

Informasi soal krisis air di Dusun Panyingkiran tersebut, dibenarkan Pjs. Kepala Desa Cikaramas, Ade Darmawan, di Kantor Desa Cikaramas, Senin 19 Agustus 2019.

"Saat ini warga di Dusun Panyingkiran memang sudah mulai kesulitan air bersih. Maka dari itu, warga terpaksa harus mengambil air dari lembah yang berada di bawah pemukiman. Bahkan tidak sedikit juga warga yang mengambil air dari luar daerah," kata Ade.

Menurut pengakuan Ade, persoalan krisis air ini, memang sudah sering dikeluhkan oleh warga. Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, krisis air ini terjadi akibat sumur-sumur milik mereka mengering. 

Termasuk sumur dalam yang dibangun Pemerintah Desa Cikaramas pada anggaran tahun 2018 lalu. Sumur dalam yang biasa dijadikan sumber utama pemenuhan kebutuhan warga itu, lanjut Ade, sekarang sudah kering dan tidak bisa lagi disedot menggunakan mesin.

"Selama ini warga memang hanya mengandalkan sumber air dari sumur. Salah satunya sumur dalam yang dibangun oleh desa. Namun belakangan ini sumurnya malah kering," ujarnya.

Bangun embung

Atas dasar itu, warga pun kini mendesak Pemerintah Desa agar bisa membantu penyediaan air bersih. Dengan harapan, masalah krisis air di Dusun Panyingkiran ini kedepannya tidak terus berlanjut.

Keluhan-keluhan yang disampaikan warga Panyingkiran ini, kata Ade, tentu telah dimusyawarahkan dengan para tokoh masyarakat setempat. Dan hasilnya, warga menyepakati bahwa untuk pemenuhan kebutuhan air bersih di dusun itu harus dibangunkan sumur atau sejenis embung di mata air yang jaraknya sekitar 300 meter di bawah pemukiman.

"Di bawah perkampungan panyingkiran itu kebetulan ada sumber air. Walaupun debitnya kecil, namun sumber air itu tidak pernah surut. Makanya warga meminta agar dibangunkan embung di sana," katanya.

Nanti setelah air ditampung di dalam embung, maka stok air tersebut bisa disedot menggunakan mesin ke bak penampungan yang telah tersedia di sekitar pemukiman. 

"Bak penampung dan pipa air-nya kan sudah ada, bekas pengadaan air tahun kemarin. Jadi masalahnya hanya tinggal sumber airnya saja," ujar Ade kepada wartawan Kabar Priangan, Taufik Rochman.

Ditambahkan dia, jika tidak ada kendala, pembangunan embung di sekitar mata air tersebut kemungkinan besar baru bisa dialokasikan pada anggaran tahun 2020 mendatang. Soalnya, untuk tahun ini sudah tidak memungkinkan lagi melakukan pengalihan ataupun perubahan anggaran.***

Bagikan: