Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 20.4 ° C

Lulusan SMK di Purwakarta Terkendala Bahasa Asing

Hilmi Abdul Halim
SEJUMLAH perwakilan perusahaan asing melihat produk-produk buatan mahasiswa Politeknik Enjiniring Indorama Kabupaten Purwakarta, Selasa, 20 Agustus 2019. Kemampuan berbahasa asing yang rendah menjadi kendala bagi lulusan sekolah vokasi untuk masuk di dunia industri saat ini.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
SEJUMLAH perwakilan perusahaan asing melihat produk-produk buatan mahasiswa Politeknik Enjiniring Indorama Kabupaten Purwakarta, Selasa, 20 Agustus 2019. Kemampuan berbahasa asing yang rendah menjadi kendala bagi lulusan sekolah vokasi untuk masuk di dunia industri saat ini.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Lulusan SMK dan sederajat di Kabupaten Purwakarta kurang memiliki kemampuan komunikasi khususnya menggunakan bahasa asing. Hal itu menjadi salah satu penyebab mereka sulit diterima bekerja di dunia industri secara langsung.

Direktur Politeknik Indorama Purwakarta, Dr Ir Afzeri M.Eng mengakui hal itu menghambat 40 persen pelamar pekerjaan untuk diterima di perusahaan. "Perusahaan-perusahaan asing, bahasa Inggris yang dia minta. Kalau bahasa Inggris sudah bagus, baru (melihat kemampuan) yang lain," katanya, Selasa, 20 Agustus 2019.

Kemampuan komunikasi baik menggunakan Bahasa Indonesia maupun asing menjadi perhatian khusus di kampusnya saat ini. Afzeri mengatakan, para mahasiswanya didorong untuk dapat mengemukakan gagasan di depan umum (presentasi) sebagai bagian dari perkuliahan mereka.

Kemampuan tersebut sebaiknya dimiliki setiap lulusan SMK sebelum masuk dunia pekerjaan maupun melanjutkan ke perguruan tinggi. "Kalau di perguruan tinggi (lebih pada) praktiknya seperti berdebat, presentasi. Kalau kemampuan awalnya bagus, mereka lebih cepat (belajar)," katanya.

Sejak didirikan pada 2013 lalu, Afzeri menyebutkan sekitar 60 persen lulusan Politeknik Indorama telah menyuplai tenaga kerja bagi industri di wilayah Purwakarta dan sekitarnya. Jumlah lulusan yang diterima bekerja diakui belum maksimal.

Kondisi itu salah satunya disebabkan oleh ketidakcocokan antara latar belakang pendidikan masyarakat dengan kebutuhan tenaga kerja di dunia industri. Ditambah, lapangan pekerjaan yang semakin berkurang di Purwakarta saat ini.

Permasalahan itu mencuat dalam sesi gelar wicara open house di Politeknik Enjiniring Indorama. Analis Pelaksanaan Kurikulum Direktorat Pembinaan SMK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Hernita Nasir menjelaskan upaya pemerintah untuk mengatasi permasalah tersebut.

"Ada program namanya teaching factory, itu konsep pembelajaran yang dibuat sedemikian rupa agar persis seperti di dunia industri," kata Hernita. Program tersebut melibatkan tenaga pengajar praktisi dari industri terkait.

Pada teknisnya, setiap SMK diminta mengajukan kerja sama dengan perusahaan. Selain memberikan tenaga pengajar, pihak perusahaan juga bisa membantu SMK dengan meminjamkan peralatan atau mesin industri hingga dana dan peluang magang.

"Dalam konsep pembelajaran teaching factory itu setiap siswa harus bisa menghasilkan produk yang bisa diterima oleh industri. Tujuan utamanya bukan menghasilkan uang tapi kompetensi," tuturnya. Dari produk yang dihasilkan siswa, Hernita berharap ada sinkronisasi sekolah dan kebutuhan industri.

Sebelumnya, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Purwakarta mencatat sekitar 70 persen angkatan kerja tidak bisa diterima di perusahaan. Jumlah tersebut berdasarkan permohonan pembuatan kartu pencari kerja (kartu kuning) ke dinas terkait.

Kondisi itu disebabkan lowongan pekerjaan yang minim. "Lowongan di perusahaan itu tidak selalu ada, tapi angkatan kerja selalu bertambah setiap tahun," kata Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Purwakarta Tuti Gantini saat ditemui di ruangannya beberapa waktu lalu.***

Bagikan: