Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Ruang Kelas Minim, Murid SMP Negeri 3 Cisayong Belajar di Teras dan Menumpang di SD

Bambang Arifianto
SISWA SMP Negeri 3 Cisayong belajar di teras sekolahnya di Kampung Langkob, Desa Sukajadi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Senin, 19 Agustus 2019. Minimnya ruang kelas membuat siswa belajar di teras, selasar dan menumpang di bangunan sekolah dasar.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
SISWA SMP Negeri 3 Cisayong belajar di teras sekolahnya di Kampung Langkob, Desa Sukajadi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Senin, 19 Agustus 2019. Minimnya ruang kelas membuat siswa belajar di teras, selasar dan menumpang di bangunan sekolah dasar.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Minimnya ruang kelas yang tersedia membuat siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya belajar di teras dan selasar sekolah serta menumpang di bangunan sekolah dasar negeri terdekat. Kondisi tersebut membuat aktivitas belajar mengajar berlangsung tak optimal.

Pantauan "PR" Senin, 19 Agustus 2019, sejumlah siswa tampak belajar di teras dan selasar sekolah yang berada di Kampung Langkob, Desa Sukajadi, Kecamatan Cisayong. Di selasar, para siswa belajar dengan beralaskan terpal. Sedangkan di bagian teras, mereka duduk dan menulis dengan bertumpu pada lantai.

Hal serupa dialami oleh beberapa siswa yang belajar di dalam ruangan. Mereka belajar di lantai lantaran keterbatasan meja dan kursi. ‎Tatang Mochamad Enoh, Guru SMPN 3 Cisayong mengungkapkan, sekolah tersebut memang kekurangan ruang kelas. SMPN 3 Cisayong baru memiliki dua ruangan untuk perpustakaan dan laboratorium MIPA. Satu bangunan lain yang diperuntukkan untuk kelas saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Alhasil, siswa pun mesti belajar di dua ruangan yang tersedia. Perpustakaan dan laboratorium pun disekat untuk menampung para siswa. Sementara para siswa yang tak kebagian ruangan kelas akhirnya belajar di teras dan selasar. Tatang mengatakan, jumlah siswa SMPN 3 Cisayong mencapai 199 murid dengan 7 rombongan belajar.

Keberadaan dua ruangan yang ada tak mengimbangi jumlah siswa. Untuk itu, SMPN 3 Cisayong juga menumpang di kompleks SD Negeri Sukajadi yang berjarak 400 meter. ‎ Para murid SMP menumpang di ruang kelas SD Negeri 1 dan 3 Sukajadi. Proses belajar di SD tersebut berlangsung di luar hari Senin mulai pukul 12.30-17.00 WIB. Mereka sebelumnya belajar terlebih dahulu  di SMPN 3 serta masuk pada pukul 09.30 WIB. "Setelah zuhur pembelajaran dilaksanakan di kompleks SD Sukajadi," kata Tatang di SMPN 3 Cisayong, Senin siang.

Para murid terpaksa menempuh perjalanan dengan jarak 400 meter untuk meneruskan belajar di SD tersebut. Sedangkan pada Senin, pembelajaran berlangsung total di bangunan SMPN 3 Cisayong karena siswa mesti masuk pagi untuk mengikuti upacara bendera. 

Keterbatasan ruangan disiasati dengan menggelar pelajaran-pelajaran yang berlangsung di ruang kelas. Tatang mengakui proses belajar mengajar tak berlangsung optimal. Guru yang mengajar di luar kelas harus mengeluarkan suara ekstra atau gogorowokan saat mengajar murid. "Murid yang belajar di luar konsentrasi juga (terganggu)," ucapnya.

Meski demikian, aktvitas belajar tetap berjalan dan menyurutkan semangat siswa. Tatang menuturkan, penyediaan ruang kelas memang berlangsung bertahap. SMPN 3 Cisayong  beroperasi sebagai kelas jauh dari SMPN 1 Cisayong pada 2017. Awalnya, keseluruhan aktivitas SMP 3 menumpang di kompleks SD Negeri Sukajadi. Pada awal 2018, pihak sekolah telah mengirimkan proposal permohonan bantuan pendirian sembilan ruangan kepada pemerintah. Namun, bantuan yang turun hanya berupa bangunan perpustakaan dan laboratorium MIPA yang dananya bersumber dari APBN. Awal tahun ini, sekolah juga mengirimkann proposal bantuan untuk 6 ruang belajar dan 4 WC. "Belum ada realisasi," kata Tatang.

Pemerintah pun hanya membangun satu ruang kelas baru pada 2019. "Kita perlu enam lagi RKB (ruang kelas baru), kalau memungkinkan dengan kantor guru, kepala sekolah dan tata usaha," ujarnya.

Hal senada dikemukakan Kepala Sekolah SMP 3 Cisayong Ai Sumarni. SK operasional sekolah, lanjut Ai, terbit pada 20 November 2016. Status SMP 3 merupakan sekolah rintisan dari SMP 1 Cisayong yang jumlah siswanya membeludak. 

Berbekal status tanah seluas 2.937 meter persegi yang telah menjadi milik pemerintah, SMP 3 pun beroperasi di lahan tersebut. Keterbatasan ruangan diakui Ai sangat berpengaruh terhadap guru dan murid. Namun, mereka tetap optimis kondisi itu tidak bakal berlangsung selamanya. "Mudah-mudahan 2020 semuanya sudah terselesaikan," ucap Ai. Ia berharap, pemerintah menjadikan SMP 3 Cisayong sebagai prioritas guna segera dibangun kebutuhan ruang kelasnya. "Kita di SMP 3 sudah melulusukan dua angkatan," ujarnya.***

Bagikan: