Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 21.3 ° C

Penyakit Juli, Uang Tabungan Murid Dipakai Guru

Tati Purnawati
FOTO ilustrasi buku tabungan.*/NET
FOTO ilustrasi buku tabungan.*/NET

MAJALENGKA,(PR).- Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka hapuskan tabungan murid di sekolah untuk tingkat TK, SD dan SMP karena dinilai kurang memberikan pendidikan yang baik bagi anak didik dan guru, sehingga manfaatnya sangat kecil bagi anak didik.

Dampak yang paling fatal bagi guru adalah banyak di antara mereka yang menggunakan uang tabungan murid hingga setiap akhir tahun guru kelabakan mencari pengganti uang yang dipakainya. Sejumlah bank bersiap untuk menerima pengajuan kredit dari guru guna mengganti uang tabungan. Gaji guru pun akhirnya habis terkena potongan utang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka Ahmad Suswanto mengatakan, alasan penghapusan uang tabungan murid karena lebih banyak madaratnya dibanding manfaatnya. Tabungan murid di Sekolah Dasar bahkan Taman Kanak-kanak terkesan bukan tabungan murid melainkan tabungan orang tuanya. Sehingga sangat sedikit pembelajaran dan pendidikan menabung bagi anak karena anak akhirnya tidak paham cara menabung.

Padahal sejatinya menabung bagi anak adalah memberikan pembelajaran bagaimana menyimpan uang, dengan menyisihkan uang jajan mereka bukan uang tabungan orangtua yang tabungannya setiap hari hingga puluhan ribu bahkan ratusan ribu rupiah.

“Pengalaman banyak murid yang setiap harinya menabung hingga sebesar Rp 25.000 bahkan Rp 50.000. Mana ada uang jajan anak TK atau SD hingga sebesar itu. Jadi mana pembelajaran anak untuk menabung. Saat akhir tahun ketika dibagikan juga uangnya dipergunakan untuk kepentingan orangtuanya karena bukan anak,” ungkap Ahmad Suswanto.

Yang jadi persoalan juga adalah uang tabungan murid kerap kali dipergunakan oleh guru di sekolahnya. Setiap tahun tidak sedikit guru yang terlibat menggunakan uang tabungan, hingga muncul adagium “penyakit Juli”.

Disebut penyakit Juli ini karena setiap bulan Juli banyak guru yang kelabakan mencari uang pengganti tabungan akan. Hingga kepala sekolah tempatnya bekerja harus ikut repot mencari uang pengganti karena khawatir sekolah di demo oleh orang tua murid. Serta sekolah akan kehilangan kepercayaan masyarakat untuk menyekolakan anaknya di sana.

“Selama ini sudah menjadi rahasia umum guru punya penyakit bulan Juli. Atas berbagai pertimbangan tersebut akhirnya kami mengeluarkan himbauan ke sekolah-sekolah, bahwa murid tidak menabung lagi di sekolah. Murid bisa menabung langusng ke bank atau membuat celengan di rumahnya masing-masing,” ungkap Ahmad Suswanto.

Kondisi tersebut diakui salah seorang guru SMP di Kecamatan Ligung. Menurutnya tabungan murid hanya bermanfaat bagi sekolah ketika awal masuk tahun ajaran baru di saat dana BOS belum turun dari pemerintah. Maka uang tabungan biasa dipergunakan sementara untuk keperluan biaya operasional di sekolah seperti membeli alat tulis kantor untuk keperluan administrasi, biaya rapat dan lain-lain.

“Tabungan teh manfaatnya leutik, madlaratnya gede. Guru tak terasan setiap hari pakai uang tabungan sedikit-sedikit hingga akhir tahun uang yang terpakai oleh satu guru bisa puluhan juta bahkan ratusan juta. Akhirnya guru dan sekolah repot harus mengganti uang yang terpakai,” kata seorang guru SMP.

Hal yang sama disampaikan guru SD, biasanya ketika tahun ajaran baru dimulai maka untuk keperluan administrasi sekolah terlebih dulu menggunakan uang tabungan murid, karena uang sekolah habis ketika akhir tahun sekolah sementara dana BOS belum turun.***

Bagikan: