Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Pemkot Bogor Melakukan Kajian Terkait Wacana Pembentukan Provinsi Bogor Raya

Windiyati Retno Sumardiyani
WALI Kota Bogor Bima Arya.*/ANTARA
WALI Kota Bogor Bima Arya.*/ANTARA

BOGOR, (PR).- Pembentukan Provinsi Bogor Raya kembali menyeruak ke permukaan. Kali ini usulan tersebut disampaikan Wali Kota Bogor Bima Arya.  Bima menyebutkan saat ini Pemerintah Kota Bogor sedang melakukan kajian  sebagai dasar tiga opsi, yakni perluasan wilayah, pembentukan provinsi baru dengan menyatukan adminsitratif, dan memaksimalkan koordinasi antar wilayah.

“Kita kaji secara keseluruhan, antisipasi perkembangan penduduk. Belum tentu perluasan wilayah atau provinsi, bisa saja mekanisme koordinasi, yang penting dikaji dulu,” ujar Bima Arya, Senin, 19 Agustus 2019.

Bima mengatakan, perluasan wilayah dan pembentukan provinsi Bogor Raya  tidak terlalu urgen. Kajian tersebut hanya antisipasi penataan kawasan di masa depan.

Bima pun mengklaim, usulan tersebut bukan untuk kepentingan pribadi, kepentingan politik untuk menambah kursi baru, jabatan baru, atau daerah pemilihan baru. Menurut Bima, peluasan dan pembentuan Bogor Raya merupakan upaya untuk perbaikan pelayanan publik bagi warga, sehingga perlu dicari format yang paling memungkinkan.

“Ini prosesnya masih panjang, mungkin lima tahun ke depan, atau bahkan 10 tahun ke depan. Ini bentuk antisipasi ke depan, bukan untuk kepentingan saya loh, mungkin nanti di masa anak saya jadi pemimpin atau cucu saya, akan ada penataan ulang,” kata Bima.

Menurut Bima, pembentukan Provinsi Bogor Raya sudah diperbincangkan dengan Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin. Bima menyebut, Bupati Bogor menyambut baik rencana tersebut. Selain Bupati Bogor, Bima menyebut banyak kalangan yang menyatakan dukungan realisasi pembentukan provinsi Bogor Raya. Namun Bima enggan menyebut daerah mana saja yang menyatakan kesiapan untuk bergabung.

“Sejak wacana ini bergulir memang banyak yang japri saya, ada yang setuju ingin bergabung, ada yang tidak setuju. Banyak yang lebih tertarik wacana provinsi, yang penting data dan kajian dulu, kita matangkan,” kata Bima.

Lebih lanjut, Bima mengatakan, kajian tersebut masih dibuat oleh tim internal Pemerintah Kota Bogor melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota  Bogor.  Bima menargetkan kajian tersebut dapat dirampungkan Desember tahun ini, dan bisa segera dikonsultasikan ke Pemerintah Provinsi Jabar dan Kemendagri.

“Akhir tahun ini kajiannya akan rampung. Nanti kita tinggal konsultasikan dengan Gubernur, belum akan kita bahas di Kopdar. Saya enggak akan banyak bicara sebelum kajiannya selesai, kalau mau di bawa ke Kopdar, mau ngomong apa saya nanti,  kalau belum ada datanya,” ucap Bima.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Sopian Ali Agam mendukung perluasan   wilayah Kota Bogor bahkan  pembentukan Provinsi Bogor Raya.  Politisi Partai Gerindra tersebut mengaku siap mengawal wacana tersebut.

“Saya siap dukung, tapi perencanaanya harus matang dan tidak melanggar aturan yang berlaku,” ucap Sopian.

Menurut dia, rencana tersebut  memerlukan komunikasi intensif dengan  daerah lain, termasuk pembentukan kajiannya. Menurut dia, kajian Provinsi Bogor Raya tidak bisa hanya dibuat sendiri oleh Pemerintah Kota Bogor karena sudut pandang pemikirannya juga akan berbeda.

“Kita lihat saja nanti komunikasi wali kota dan bupati bagaimana, karena perluasan wilayah atau Provinsi Bogor Raya itu bukan hanya untuk Kota Bogor, tetapi untuk semuanya, jadi harus melibatkan banyak pihak,” kata Sopian.

Sementara itu, wacana pembentukan Provinsi Bogor Raya direspon beragam oleh warga  Bogor.  Salah seorang warga Kelurahan Semplak, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Inda Triwulan (40) mengaku kurang setuju dengan wacana tersebut. Menurut dia,  pembentukan provinsi baru justru semakin membuat warga semakin repot karena harus mengurus ulang administrasi kependudukan.

“Untuk pelayanan publik ya simple-simpel saja,  KTP cepat, BPJS bisa diakses di mana saja sudah buat warga senang. Kalau ganti provinsi, nanti ganti KTP lagi, ngurus lagi, belum antrenya, ribet,” ucap Inda.***

Bagikan: